Foto:www.fpkb-dpr.or.id

Foto:www.fpkb-dpr.or.id

Jakarta, LiputanIslam.com – Saling tarik menarik antara kedua kubu Prabowo – Hatta dan Jokowi-JK terkait dukungan yang diberikan ormas yang memiliki basis masa yang besar merupakan fenomena yang meresahkan. Setelah KH Said Aqil Siradj Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memberikan kebebasan kepada Nahdliyin untuk memilih berdasarkan hati nurani dan kriteria yang ditetapkan masing-masing, kini giliran Alissa Wahid, putri Gusdur yang angkat bicara.

Dalam rilis resminya di gusdurian.net, Alisa selaku Koordinator Umum Jaringan GUSDURian Indonesia menyatakan bahwa Jaringan Gusdurian bersikap netral dalam Pilpres, tidak mendukung salah satu calon manapun. Berikut ini pernyataan sikap resminya:

Mencermati perkembangan akhir-akhir ini terkait dengan Pemilihan Presiden 2014, terutama menyangkut berbagai klaim dan pernyataan dukungan pada capres-cawapres tertentu dari sejumlah pihak yang mengatasnamakan Jaringan Gusdurian, maka Sekretariat Nasional Jaringan GUSDURian Indonesia (JGD Indonesia) merasa perlu menyampaikan sejumlah hal berikut ini:

1.     Bahwa Jaringan GUSDURian bersifat netral dengan tidak terlibat kegiatan dukung-mendukung calon presiden/wakil presiden manapun. Netralitas ini mengacu pada kode etik yang telah disusun dan disepakati pada awal tahun 2013, jauh hari sebelum pemilu legislatif dan pemilihan presiden.

2.     Kode etik JGD Indonesia juga menyatakan bahwa aktivitas politik praktis apapun dari para individu gusdurian adalah aspirasi pribadi, dan tidak boleh membawa dan mengatasnamakan Jaringan GUSDURian Indonesia (JGD Indonesia) .

3.     Komunitas-komunitas Gusdurian di berbagai kota yang tergabung dalam JGD Indonesia selama ini teguh memegang prinsip non politik praktis tersebut, dan menghindarkan diri dari keterlibatan dalam arena Pemilihan Kepala Daerah, Pemilihan Umum Anggota Legislatif, dan Pemilihan Presiden.

4.     Seknas JGD Indonesia menyesalkan penggunaan nama Komunitas Gusdurian dalam deklarasi dukungan terhadap pasangan capres-cawapres manapun. Klaim ini telah menciderai kenetralan dan kemurnian serta ketulusan kerja-kerja social-kultural yang panjang dari seluruh elemen JGD Indonesia dan telah mengurangi kepercayaan publik pada kenetralan kerja jaringan di masa depan.

5.     Seknas JGD Indonesia menghimbau kepada masyarakat untuk merujuk kepada Seknas JGD Indonesia untuk setiap sikap resmi Jaringan, utamanya dalam proses Pemilu Presiden 2014 ini.

6.     Seknas JGD Indonesia menghimbau kepada setiap gusdurian untuk terus menjunjung prinsip demokrasi dan menghormati hak konstitusional warga untuk menggunakan hak politiknya secara jujur dan berintegritas.

7.     Seknas JGD Indonesia menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk menjaga kedamaian serta menghindari pertikaian yang merusak sendi kehidupan berbangsa.

Demikian pernyataan ini kami sampaikan agar semua pihak bisa merujuk dan memahami sikap yang diambil oleh Jaringan GUSDURian Indonesia terkait dengan pemilihan presiden mendatang.

Yogyakarta 23 Mei 2014

Alissa Wahid

(Koordinator Umum Jaringan GUSDURian Indonesia)

Gusdurian adalah sebutan untuk para murid, pengagum, dan penerus pemikiran dan perjuangan Gus Dur. Para GUSDURian mendalami pemikiran Gus Dur, meneladani karakter dan prinsip nilainya, dan berupaya untuk meneruskan perjuangan yang telah dirintis dan dikembangkan oleh Gus Dur sesuai dengan konteks tantangan zaman.

Di dalam Jaringan gGusdurian tergabung individu, komunitas/forum lokal, dan organisasi yang merasa terinspirasi oleh teladan nilai, pemikiran, dan perjuangan Gus Dur. Karena bersifat jejaring kerja, tidak diperlukan keanggotaan formal. Jaringan Gusdurian memfokuskan sinergi kerja non politik praktis pada dimensi-dimensi yang telah ditekuni Gus Dur, meliputi 4 dimensi besar: Islam dan Keimanan, Kultural, Negara, dan Kemanusiaan. (ba/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL