yogya memafkan florence

meme yang beredar di jejaring sosial dari warga Yogya yang memafkan Florence

Oleh : Anton DH Nugrahanto.

Bagi kebanyakan orang Batak, Kota Yogya adalah tempat dimana para intelektual mendapatkan legitimasinya, dimana mobilitas sosial menemukan jalan bagi mereka. Di Tapanuli misalnya, mereka adalah anak petani, tapi ketika mereka lulus sekolah di Yogya menjadi boss di BUMN atau pejabat negara. Banyak orang Batak menjadi bangga dengan ke-Yogya-an mereka, dan mereka menjadi “Jawa yang lebih Jawa”.

Dulu kita kenal aktor Maruli Sitompul yang kalau main film dia kerap menggunakan logat Jawa-nya, seorang Batak macam Maruli yang dibesarkan dalam budaya Batak yang egaliter bisa saja memerankan bangsawan Yogya dengan sikap feodal dan bahasa Jawa Kromo yang superior melihat rakyat jelata. Atau berperan sebagai seorang Bapak yang mementingkan status sosial seperti layaknya orang tua dimasa lampau dalam langgam Jawa yang kental. Kuatnya hubungan Batak-Jawa dalam adegan teatrikal juga ditunjukkan oleh WS Rendra yang menjadi pemberontak dalam keluarga di film ” Terminal Cinta” dimana dalam scene terakhir dengan cantiknya WS Rendra menderetkan bait “Sajak Widuri untuk Joki Tobing”.

Ada anekdot lucu soal orang Batak yang berhasil menelpon mamaknya di Toba sana setelah lulus dari UGM lantas dia jadi pejabat BUMN, satu saat pejabat Batak itu telpon ke mamaknya, “Mak, aku berhasil sekarang jadi direktur, Maaak” teriak anaknya. Tapi mamaknya yang agak lemah pendengarannya malah marah “Hai, Ucok kujual sawah ladang bapak kau, biar kau sekolah di Yogya, sekarang kau malah kerja jadi kondektur…”

Indonesia terbentuk oleh hubungan-hubungan budaya, seperti contoh lekatnya orang Batak dengan tanah Yogya. Dan Yogya menjadi lebih istimewa karena kepemimpinannya di masa lalu adalah kepemimpinan yang rendah hati.

Ada cerita terkenal satu pagi Sultan HB IX, ia menyetir jeep-nya hendak menuju keraton, di dekat pasar Beringhardjo tiba-tiba dia dihentikan seorang ibu-ibu pedagang beras, tanpa menengok ke arah Sultan, ibu-ibu tadi memerintahkan Sultan mengusung dagangannya dan minta diantar ke Pasar Beringhardjo.

Sampai di pasar, Sultan menurunkan dagangan ibu tadi lalu ibu tadi memberikan uang kepada Sultan namun ditolak. Si ibu  mengira Jeep tadi adalah mobil tumpangan. Sultan bilang dia hanya membantu dengan nada yang amat sopan, lalu si ibu membalas, “Uh Pak Sopir sudah kaya ya, dikasih duit ndak mau.”

Seorang polisi memperhatikan kejadian tersebut. Setelah Sultan selesai menurunkan dagangan ibu tadi, polisi tadi datang ke arah ibu-ibu itu lalu berkata,”Bu, sampeyan tau siapa tadi yang menurunkan dagangan?”

“Ya, saya ndak tau, ya pastinya dia pak sopir, tho,” jawab si ibu.

“Dia itu yang punya ringin kembar itu lho,” terang polisi tersebut.

Si ibu pingsan saat mengetahui bahwa yang dikira sopir adalah Sri Sultan HB IX.

Yogya menjadi amat istimewa karena sikap rendah hati Sultan-nya, juga karena memang budayanya yang tinggi, jadi amat aneh bila pisuhannya seorang Florence ditanggapi seperti kita menghadapi musuh negara. Orang yang sudah berbudaya tinggi ketika dimaki ia hanya tersenyum.

Yogya bukanlah kota yang butuh pengakuan, Yogya adalah kota yang sudah besar sejak awal mulanya. Kota yang pertama kali gantung leher untuk Sukarno menjamin Republik, untuk itulah ia menjadi istimewa. Jangan sampai keistimewaannya ini lantas tercoreng hanya karena hal-hal sepele, bebaskan Florence dari tahanan polisi maka akan menunjukkan bahwa Yogya memang kota berbudaya.

______________
Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL