Sanaa,LiputanIslam.com-Saat memutuskan untuk membentuk koalisi demi menyerang Yaman, para petinggi Saudi sama sekali tidak membayangkan akan dihinakan seperti sekarang.

Sekira lima tahun lalu, Muhammad bin Salman meremehkan kemampuan militer Yaman. Putra mahkota Saudi mengklaim, Yaman bisa ditundukkan hanya dalam tempo beberapa pekan. Namun, kini justru Riyadh yang terjebak dalam rawa buatannya sendiri.

Saudi menyerang Yaman pada Februari 2015 dengan tujuan mengalahkan Ansharullah serta mengembalikan Mansour Hadi (presiden tersingkir Yaman) ke posisinya. Kenyataannya, Yaman kian kuat dari hari ke hari menghadapi agresi koalisi (Saudi, UEA, dan pendukung Barat mereka). Serangan terbaru Ansharullah telah menciutkan nyali para agresor ini.

Pada pekan lalu, pasukan Yaman dengan perangkat ‘sederhana’ melancarkan serangan dahsyat yang dampaknya begitu mendunia; serangan dengan 10 nirawak sederhana, tapi akurat dan cerdik, atas 22 titik di dua kilang minyak Aramco. Serangan ini melumpuhkan produksi minyak Saudi dan membuat syok pasar bursa dunia.

Api serangan itu bukan hanya membakar fasilitas minyak Aramco, tapi juga martabat Saudi. Kini Saudi bingung melayani para pembeli minyak mentahnya, sebab serangan Yaman menghentikan produksi 5 persen dari konsumsi minyak dunia.

Bukan hanya petinggi Saudi dan sekutunya yang dibuat terpana, tapi juga para analis dan pakar internasional. Kini para penguasa Saudi melontarkan berbagai spekulasi, termasuk menuding Iran, untuk membeli waktu agar bisa mengambil keputusan yang ‘tepat.’

Sejak awal, kegagalan Saudi di perang tak seimbang ini sudah bisa diprediksi, kecuali bagi para petinggi Saudi dan sekutunya yang pongah. Muhammad Husain Haikal, jurnalis senior dan ternama Mesir pun meramalkan kekalahan Saudi sebelum kematiannya.

Muhammad Husain Haikal

“Tindakan Saudi di Yaman sangat bodoh,”kata Haikal dalam wawancara dengan harian Lebanon, al-Safir, sekitar 4 tahun lalu.

“Saudi akan tenggelam di rawa Yaman. Yaman adalah suapan yang terlalu besar untuk (kerongkongan) Saudi. Bahkan jika Riyadh bertindak hati-hati sekalipun, Yaman tetap akan menelannya,”imbuh Haikal yang saat itu berusia 91 tahun.

Haikal juga menyinggung kesepakatan nuklir Iran dengan negara-negara besar dunia; kesepakatan yang memicu amarah sejumlah negara Arab.

“Saudi dan negara-negara Arab di Teluk terlalu lemah untuk mempersulit JCPOA dengan dalih apa pun. Mereka hanya bisa mengeluh kepada AS, sebab mereka menganggap kesepakatan ini ibarat belati yang ditikamkan dari belakang,”jelas Haikal.

Saat pernyataan Haikal dipublikasikan, banyak pakar, analis, jurnalis, dan pengguna medsos yang mengecamnya. Menurut mereka, statemen Haikal didasari kebenciannya terhadap Saudi. Namun, kini kebenaran prediksi Haikal bisa disaksikan dengan jelas. Dunia tengah menyaksikan kapal Saudi tenggelam di rawa Yaman, tanpa ada yang bisa dilakukan para sekutunya. (af/yjc)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*