sunni-shiaSebagaimana dikutip dari The Jakarta Globe, Indonesia kini menjadi sasaran berikutnya dari ledakan konflik berdarah sunni vs syiah sebagaimana yang menimpa negara modern berpenduduk mayoritas muslim seperti Irak, Syria, Mesir, Libya, Lebanon, Pakistan, dan Yaman, dan telah menelan puluhan juta korban serta menghancurkan ratusan kota serta peradaban, sejak runtuhnya komunisme pada 1990.

Indikasinya belum sampai beberapa tahun yang lalu kini kata “Syiah” tiba-tiba mulai menginspirasi berbagai hal yang negatif, penuh syak wasangka, penuh kebencian, di antara mayoritas muslim yang mengidentifikasi diri sebagai sunni.

Sebelumnya masyarakat muslim Indonesia tidak pernah mengenal konflik sunni dan syiah, bahkan memandang keduanya sebagai asing, “Islam ya Islam saja” ujar mereka. Islam adalah sarung, tahlilan, kendurian, ziarah, dan berbagai praktik kemusliman khas nusantara yang sebenarnya tidak dikenal baik dalam literasi Sunni maupun Syiah secara akar.

Namun kini berbeda, dimulai dari penetrasi pengkhutbah lulusan universitas Timur Tengah, yang rupanya enggan menampakkan kembali Islam nusantara dalam tema khutbah mereka, dan lebih tertarik membahas aroma konflik bawaan dan perang ideologi antara sunni dan syiah yang establish di tempat asal.

Para lulusan Timur Tengah tersebut lalu mengidentifikasi diri benar benar sebagai pengikut ideologi yang sedang perang, dengan tema tema perjuangan (jihad), memperebutkan posisi kebenaran sejati dengan menonjolkan perbedaan perbedaan radikal antar ideologi, sehingga menjadikan orang di luar lingkaran mereka sebagai pengikut kesesatan.

Mantan ketua PBNU, K.H Hasyim Muzadi menyebut kelompok ini sebagai “pendatang” dengan sebutan gerakan transnasionalis, merujuk pada gerakan yang menamakan diri mereka sebagai Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir Indonesia, Tauhid Wal Jihad, Salafi, Syiah-Ijabi, Ahmadiyah, di mana nama nama yang disebutkan tersebut memiliki agenda politik dengan di atas namakan “dakwah Islam”.

Kelompok transnasionalis tersebut memiliki induk di Timur Tengah, berupa amir, syaikh, mullah, atau pemimpin spiritual yang menjadi panduan akhir dan rujukan dari gerakan yang dihadirkan di Indonesia.

Dalam konteks sosial ini boleh jadi merupakan bagian dari khazanah kemusliman semata, dan diterima hangat oleh masyarakat Indonesia yang pada umumnya melihat Islam hanya sebatas rukun Islam dan rukun Iman saja. Artinya kelompok kelompok ini disambut oleh masyarakat dengan suka cita, tidak ada masalah! malah akan memperkuat kekayaan pemikiran Islam.

Yang masyarakat tidak mengerti kelompok ini membawa pula aroma persaingan dan dendam turun temurun di tempat mereka lahir. Utamanya dendam antara sunni vs syiah.

Puncaknya adalah perang Suriah yang pecah pada awal 2011, Bashar al-Assad yang sejatinya seorang sekuleris sosialis dituding sebagai pembela Syiah yang akan menghancurkan sunni, lalu meletuslah perang yang hingga saat ini jauh dari kata selesai.

Setahun kemudian, di Indonesia konflik meletus antara warga Sunni dan Syiah di sebuah desa di Sampang. Rumah milik anggota Syiah dibakar, dan dua orang Syiah tewas.

Cerita berikutnya adalah guliran isu liar di mana Syiah menjadi musuh publik nomor satu di kalangan radikal Islam di Indonesia terbaca dari penyebaran konten anti syiah pada publikasi mereka yang ditautkan di setiap media sosial.

Bahkan tahun politik pemilihan umum di Indonesia tidak netral dari konflik ini di mana calon presiden Joko Widodo dikabarkan menjadi agen pro-Syiah, dengan puncaknya adalah tudingan terbaru bahwa pemerintah Indonesia benar benar berkomplot dengan syiah pada saat 19 situs pro sunni di banned karena dianggap menyebarkan ideologi radikalisme Islam.

Fajar Riza Ul Haq, seorang cendekiawan Islam dan direktur eksekutif Maarif Institute, menyatakan ini semua terjadi karena pemerintahan era sebelumnya tidak tegas. Banyak pihak melihat jika konflik di akar rumput dibiarkan efeknya adalah bola salju, tapi pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono cenderung melakukan pembiaran.

“Dan sekarang konflik di Yaman kemungkinan memburuk […] Saya mengamati usaha yang disengaja untuk memperburuk hubungan Sunni-Syiah di Indonesia dengan mengaburkan konflik di Yaman dan menyajikannya sebagai konflik Sunni-Syiah, padahal saat ini sebenarnya adalah konflik politik,” jelas Fajar.

Azyumardi Azra, Rektor Universitas Negeri Jakarta juga sepakat bahwa ketegangan Sunni-Syiah di Indonesia adalah bentuk lain perang proxy, di mana Arab Saudi dan Iran tengah menyebarkan pengaruh mereka dan mengaduk aduk muslimin di Indonesia.

Namun Azyumardi yakin upaya Arab Saudi dan Iran, dan siapapun di belakang mereka  akan gagal karena mayoritas umat Islam Indonesia, masih dijaga ‘malaikat’ moderat.

“Kelompok Anti-Syiah mencoba membakar konflik sektarian di Indonesia, tetapi konflik seperti itu tidak akan didukung oleh kelompok-kelompok Muslim moderat di Indonesia, seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah,” jelas Azyumardi. “Mayoritas Muslim di sini tidak terpengaruh oleh konflik karena keterlibatan NU, Muhammadiyah, dll”

Adapun, walau sepakat dengan Azyumardi tentang peranan kelompok muslim tradisionalis Indonesia, Fajar berharap  selalu ada mereka yang mampu turun ke lapangan memberikan penjelasan untuk menjauhkan masyarakat untuk dijadikan boneka perang negara lain.

“Kelompok-kelompok pemerintah dan masyarakat sipil Indonesia seperti NU dan Muhammadiyah harus menjelaskan bahwa ini bukan konflik Syiah-Sunni. Masyarakat Indonesia harus cerdas dan tidak terjebak di dalamnya.”

Fajar pula menambahkan bahwa Muslim di Indonesia harus berhenti melihat Arab Saudi sebagai pusat Islam, karena selain pihak kerajaan itu punya agenda egois menyebarkan pahamnya yang dinamakan Wahabi.

Pusat Islam sendiri dari masa ke masa selalu berpindah tempat, dari Kuffah dan Bagdad di Irak, sampai ke Rum dan Konstantinopel di Turki, Mesir dan Casablanca di Afrika Utara, bahkan sampai ke Cordova dan Sevilla di Spanyol, di mana ummat Islam menjadi rujukan dan inspirasi dunia.

Suatu hal yang diyakini di era modern ini hanya Indonesia atau Malaysia yang memilikinya, indikasinya sederhana yakni tengah merintis penguasaan pada ekonomi regional, teknologi, dan iptek. Rupanya ada yang gerah di luar sana, hingga menjadikan Indonesia atau Malaysia sebagai sasaran bumi hangus mereka.

(Disalin dari fiscal.co.id)

 

 
DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL