Oleh: Arie Saptaji*

Siang itu cuaca terik. Saya meluncur ke Jalan Kaliurang karena ingin membuktikan informasi seorang teman. Di depan sebuah minimarket, katanya, ada penjual tahu gejrot dan dawet ayu yang enak. Saya memesan masing-masing empat bungkus untuk dibawa pulang.

Teman saya tidak berbohong. Tahu gejrotnya pedas segar dan dawet ayu rasa durennya mantap. Cocok dinikmati di tengah udara panas.

Namun, menyaksikan sampah plastik belanjaan tersebut, saya diganduli perasaan bersalah.
Tiap porsi tahu gejrot diwadahi mangkuk plastik, tiap porsi dawet diwadahi gelas plastik, belum lagi sendok-sendok plastik, dan sepasang tas kresek untuk membawanya. Betul-betul tidak ramah lingkungan.

Beberapa hari sebelumnya saya menemukan infografis tentang berapa lama waktu yang diperlukan untuk proses penguraian beberapa jenis sampah. Tas kresek perlu 10-20 tahun. Sendok plastik perlu 100-100 tahun. Beberapa jenis sampah –diwakili gambar botol plastik– diperkirakan tak bakal terurai. Kecuali kalau kena bom nuklir barangkali. Ngeri.

Bukan cuma susah terurai, menurut sebuah artikel di Time, sampah plastik juga merusak perairan, membuatnya kebak bibit penyakit. Salah satu dampaknya, kerusakan terumbu karang.

Itu baru satu jenis sampah. Kalikan dengan beragam sampah yang mencemari alam. Lipat gandakan dengan gaya hidup yang tidak ramah lingkungan dari kebanyakan orang. Bayangkan dampaknya jika berbagai sampah itu terus terakumulasi bertahun-tahun. Ngeri kuadrat!

Bagaimana kita bisa sedia payung sebelum hujan –mencegah jauh-jauh hari biar bumi tak rusak kian parah gara-gara kesembronoan dan ketidakpedulian manusia?

Suku Indian Amerika punya ucapan bijak, “Kita bukan mewarisi Bumi ini dari nenek moyang kita; kita meminjamnya dari anak-cucu kita.” Kalimat ini kerap digunakan para aktivis lingkungan untuk menyerukan pentingnya pelestarian alam.

Dalam konteks negara kita, yang Pancasilais dan ber-Ketuhanan yang Mahaesa, kalimat itu dapat diselaraskan: “Bumi ini adalah pinjaman atau titipan Tuhan –suatu amanah– untuk kita gunakan dan kita pelihara, untuk kita daya gunakan bukan hanya bagi generasi saat ini, melainkan juga generasi-generasi yang akan datang sampai akhir zaman.”

Yang jelas, kedua hal tersebut –warisan dan pinjaman– mengandung perbedaan yang halus, tetapi sangat tajam. Berlainan beban moralnya.

Warisan menyiratkan bahwa kitalah sang pemilik. Kita boleh berbuat semaunya atas Bumi ini. Mau kita keruk mineralnya sambil tandas, mau kita sedot air dan minyaknya sampai kerontang, mau kita babat hutan pohonnya menjadi hutan beton, mau kita cemari air, tanah, dan udaranya, siapa peduli?

Bagaimana dengan generasi berikutnya? Ya, kita tinggalkan dan kita sisakan bagi mereka dalam keadaan seadanya. Kalau masih baik dan berlimpah, ya syukurlah. Kalau sudah rusak dan tercemar, ya merekalah yang mesti berusaha memperbaikinya. Memangnya ada makan siang gratisan?

Sikap yang betul-betul jahanam. Kita tentu akan memaki jika ada orangtua yang sesontoloyo itu. Nyatanya, entah dalam dosis rendah entah dosis tinggi, kita sering memperlakukan Bumi ini dengan sesuka hati tanpa memikirkan dampak masa depannya, bukan?

Pinjaman atau titipan mengingatkan bahwa kita ini hanya petugas atau penjaga sementara. Kita mengelola, merawat, dan memanfaatkan Bumi seperlunya. Pada waktunya kita mesti mengembalikan bumi ini kepada Sang Pemilik, dan bagi generasi penerus –dalam keadaan seperti semula, bahkan jika mungkin dalam kondisi lebih baik.

Lain kali kepingin menikmati tahu gejrot dan dawet ayu lagi, tampaknya saya perlu berpikir ulang. Mungkin cukup makan di tempat saja. Atau, membawa wadah dari rumah. Atau, kalau terpaksa membawa pulang wadah plastik, perlulah saya memikirkan bagaimana bisa mendaur ulang sampahnya.

Ribet ya? Siapa bilang bertanggung jawab atas barang pinjaman itu tidak repot. Kalau tidak mau repot ya jangan pinjam.

Perbedaan antara warisan atau pinjaman ini bukan hanya menyangkut masalah sampah dan lingkungan. Hal itu juga bisa meluas ke soal sikap hidup dalam berhubungan dengan sesama.

Ketika kita hidup dalam pertengkaran dan kebencian, misalnya, kita merusak kehidupan yang dipinjamkan pada kita, dan merampas kesempatan generasi berikutnya untuk menikmati kebaikan hidup, kesempatan untuk menjalani kehidupan dalam persaudaraan dan perdamaian. Sebaliknya, ketika kita mengembangkan kebajikan, kita memelihara kehidupan ini bagi generasi yang akan datang.

Jadi, rupanya saya bukan hanya perlu mengontrol sampah dan polutan lainnya, tetapi juga sikap dan gaya hidup yang berpotensi mencemari dan mencekik kesejahteraan lintas generasi. (LiputanIslam.com)

*penulis serabutan, penggemar tahu gejrot dan dawet ayu, tinggal di Yogyakarta, disalin dari Detik, 23 Februari 2018

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*