NDF- Tentara Pertahanan Nasional Suriah

NDF- Tentara Pertahanan Nasional Suriah

Kelompok ketiga, hampir sama dengan kelompok sebelumnya, hanya saja kelompok ini dapat dikatakan sebagai kelompok yang tidak melek politik internasional. Kelompok yang ketiga ini, anggotanya datang dari orang-orang Wahabi, bahkan Sunni yang awam politik internasional. Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menghadiri sebuah diskusi sebuah organisasi. Dalam diskusi tersebut, banyak yang memberikan perhatian dan bersimpati pada konflik yang tengah melanda Suriah. Banyak dari mereka menyatakan dukungannya kepada para “mujahidin” yang datang dari berbagai penjuru dunia. Ketika saya bertanya, mengapa bisa demikian yakin mendukung para teroris Suriah, dengan nada pasti mereka menjawab: Para mujahidin tengah berjuang menumbangkan rezim Assad karena, rezim Assad-lah yang menghalangi para mujahidin untuk kemerdekaan Palestina dari Israel. Apabila rezim Assad sudah tumbang, para mujahidin dapat dengan leluasa melancarkan agresi militer ke Israel untuk memerdekakan Palestina. Mendengar jawaban itu, saya hanya bengong. Mungkin mereka tidak mau bertanya pada diri sendiri, dari mana senjata yang digunakan oleh para “mujahidin” ini? Siapakah yang merawat para “mujahidin” ini ketika mereka terluka? Dan kepada siapa mereka merengek-rengek meminta bantuan senjata”

Kelompok keempat, yang ini berbeda dari kelompok-kelompok sebelumnya. Kelompok ini datang dari para pengangguran yang tidak memiliki pekerjaan dan para pemalas yang putus asa. Ada hal menarik yang perlu kita simak dari perang Suriah. Para teroris ini mendapatkan gaji dari para negara pendukungnya. Amerika Serikat, Saudi Arabia, Israel yang rutin memasok senjata bagi para teroris ini, juga tidak ketinggalan menggaji para teroris ini. Konflik Suriah tidak hanya tentang kepentingan global atau perang Dunia Ketiga yang terselubung. Namun, konflik Suriah juga merupakan sebuah ladang kerja bagi para pemalas mata duitan.

Kelompok kelima, kelompok ini lebih parah dari kelompok-kelompok sebelumnya. Mereka yang datang dari kelompok ini adalah orang-orang yang sudah tidak tahu ingin melakukan apa lagi. Beberapa saat yang lalu, terdengar kabar bahwa pemerintah Arab Saudi akan mengirim para tahanan yang telah divonis hukuman mati untuk berperang ke Suriah. Dalam hal ini, Arab Saudi hendak bermaksud untuk memanfaatkan orang-orang yang sudah tidak punya masa depan. Di seluruh penjuru dunia, kelompok Wahabi adalah kelompok yang bisa dikatakan anggotanya datang dari orang-orang bodoh yang tidak paham agama dan sejarah, berpendidikan rendah, serta identik dengan pengkafiran, pengancaman, semua itu menunjukkan bahwa kualitas kelompok ini sangat rendah baik itu dari pemahaman agama maupun ilmu pengetahuan.

Dengan demikian, para teroris Wahabi yang tengah menyatakan diri “berjihad” di Suriah, bisa dikatakan hampir semuanya berasal dari kalangan orang-orang bodoh yang gemar mengkafirkan orang lain, tidak berwawasan, pengangguran, buta sejarah. Pendeknya, dengan kebodohan yang mereka miliki, mereka menganggap kebodohan itu sebagai sebuah sarana yang akan membawa mereka pada dunia yang mereka inginkan. Dengan kebodohan yang mereka miliki, mereka beranggapan bahwa “Tuhan” kelak akan menghadiahkan surga dan bidadari bagi mereka. Dengan melakukan aksi bom bunuh diri, mereka beranggapan bahwa mereka akan mampu merubah peradaban umat manusia.

Dengan menyembelih, memenggal, memakan hati manusia, mereka beranggapan bahwa perbuatan itu direstui oleh Allah. Mereka juga mengira bahwa perbuatan itu adalah mulia di hadapan Allah.

Islam dan Kasih Sayang

Asumsi yang mengatakan bahwa Islam adalah agama perang. Islam adalah agama kebencian, pembunuhan, dan anti nilai kasih sayang adalah asumsi yang muncul karena pemahaman yang kurang sempurna. Pangkalnya adalah ketidaktepatan pemahaman. Asumsi yang mengatakan bahwa Islam adalah agama perang dan anti nilai kisah sayang adalah sebuah asumsi yang diliputi rasa pesimis. Seperti yang kita ketahui bersama, pesimis adalah ungkapan yang sangat jauh dari sebuah harapan. Pesimis menggambarkan rasa putus asa. Sementara harapan adalah penggambaran dari rasa ingin maju. Pesimis hanya akan mengantarkan umat manusia pada level degradasi rasa kemanusiaan. Pesimis memungkinkan manusia untuk tenggelam pada masa depan yang suram, masa depan yang diliputi kejahatan, pembunuhan, dan akan mengantarkan manusia menuju makhluk yang jauh di bawah hewan.

Banyak orang bertanya terkait tragedi menggenaskan yang menimpa warga Suriah. Penggunaan senjata kimia, eksekusi masal, penyaliban di depan umum yang dilakukan oleh teroris yang diikuti oleh teriakan “takbir” menjadi pertanyaan terbesar akhir-akhir ini. Islam menjadi tertuduh utama dalam konflik Suriah. Islam bertanggung jawab dalam kasus pembantaian di Suriah. Sekiranya Islam adalah agama kasih sayang, Islam adalah agama perdamaian, Islam adalah rahmat bagi semesta alam, mengapa hal ini bisa terjadi.

Tragedi Suriah, banyak menjadi pusat perhatian para agamawan dari agama lain. Mereka yang datang dari agama lain, seperti Katolik, Hindu, Buddha memberikan perhatian lebih pada konflik Suriah. Mereka pesimis pada Islam. Islam sebagai sebuah agama peneyebar nilai-nilai kasih sayang berubah menjadi penyebar kebencian, pembunuhan, dan Islam berdusta atas nama kasih sayang. Para agamawan dan masyarakat menilai Islam adalah “tumor ganas” yang dengan cepat merubah pemikiran para pemeluknya menjadi manusia tidak berprikemanusiaan.

Biang seluruh kerancauan ini adalah orang-orang yang menggunakan label Islam sebagai kedok kepentingan mereka. Islam yang diliputi kasih sayang, perdamaian, berubah menjadi agama primitif. Bahkan, banyak pemeluk agama lain berpendapat bahwa bahwa konflik Suriah adalah salah satu konflik paling kejam abad ini.

Mereka lupa, bahwa kelompok teroris ini sama sekali tidak mewakili Islam. Para masyarakat ini mengira bahwa Islam adalah apa yang tengah dipertontonkan oleh para teroris di Suriah. Sebuah pertontonan yang anti nilai kemanusiaan dan kasih sayang. Mereka menangkap Islam sebagai sebuah agama primitif, barbar, bahkan jauh lebih buruk apabila dibandingkan dengan era gereja di abad pertengahan.

Dalam tatanan masyarakat Suriah, terdapat berbagai macam agama. Islam, Kristen, dan agama lainnya hidup berdampingan selama beratus-ratus tahun. Mereka hidup dengan rasa kasih sayang antar sesama umat manusia. Kasih sayang mempertemukan agama-agama mereka. Kristen dan Islam hidup berdampingan. Gereja dan masjid berdiri kokoh hampir di seluruh penuju Suriah. Mereka mencintai tanah air mereka. Kasih sayang mengantarkan mereka menuju tatanan kehidupan yang semurna. Mufti Syaikh Ramadhan al-Buthi menjadi penyambung lidah umat beragama. Islam merangkul agama-agama lain. Suriah menjadi rumah yang indah bagi para pemeluk agama. Bahkan seorang Jesuit dari Belanda menghabiskan lebih dari separuh hidupnya di Suriah, hingga akhirnya tewas tertembak oleh teroris. Islam memerikan tempat bagi mereka yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sayang. Islam mereangkul seluruh agamawan di Suriah. Namun, kini semuanya seolah-olah memudar, menjauh, bahkan hampir sirna karena ulah para teroris yang datang dari berbagai penjuru dunia. Kelompok teroris ini, tidak akan pernah mewakili Islam dalam kehidupan umat manusia.

Semua itu jelas mustahil. Islam yang diliputi nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sayang tidak akan mampu diwakilkan oleh para teroris ini. Al-Qur’an adakalanya membahas jihad. Tetapi tidak seperti yang dilakukan oleh para teroris ini. Islam menentang pembunuhan orang-orang yang tidak bersalah. Islam akan melawan apabila ia diserang. Islam akan melawan apabila harkat dan martabatnya diancam. Selama orang lain tidak menyakitinya, Islam akan menaruh rasa hormat pada siapapun dan kapanpun.

 

Bersambung ke bagian ketiga

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL