sengkuni wayangOleh: Khadija, Blogger

Dalam sebuah perniagaan, adalah hal yang sangat wajar jika si penjual mempromosikan barang dagangannya sedemikian rupa sehingga calon pembeli tertarik untuk membelinya. Si pedagang pastinya berkata “produk saya nomor satu, paling berkualitas dan terbaik di kelasnya.” Setidaknya sampai hari ini, saya tidak pernah menemukan pedagang yang menjelek-jelekkan dagangannya sendiri.

Begitupula halnya dengan pemilihan presiden, yang hiruk pikuknya memenuhi hampir semua ruang masyarakat. Di media cetak dan elektronik, jejaring sosial hingga masjid-masjid tak luput dijadikan “tempat jualan” capres cawapres. Puja puji pendukung masing-masing pasangan kepada tokoh yang mereka usung, ataupun caci maki kepada tokoh yang menjadi lawannya berlangsung siang dan malam.

Yang turut membumbui gonjang ganjing kali ini tentu saja pernyataan-pernyataan blunder dari berbagai tokoh dari kedua kubu. Misalnya, dulu JK pernah bilang,”kalau dipimpin Jokowi, bisa hancur negeri ini…” Namun ajaib, hari ini, JK malah bersedia jadi cawapresnya.

JK berdalih, katanya wawancara itu dilontarkan saat Jokowi baru beberapa bulan menjadi gubernur dan hasil kerjanya belum terlihat. Sekarang setelah berjalan dua tahun, JK melihat sendiri ada banyak perubahan yang dilakukan Jokowi sehingga memantapkan hatinya untuk mendampingi Jokowi dalam Pilpres kali ini.

Pertanyaannya adalah, JK sebagai orang yang ikut “menyeret” Jokowi meninggalkan Solo untuk bertarung di Jakarta sebagai calon gubernur – tentunya mengetahui potensi besar yang dimiliki Jokowi. Lalu, mengapa ketika ada usul agar Jokowi diusung menjadi capres, serta merta JK menolak keras, bahkan sampai bilang [saya ulangi lagi] “jika dipimpin Jokowi, akan hancur negeri ini…?”

Apakah JK salah mengenali potensi Jokowi? Apakah JK merasa masih banyak yang layak memimpin negeri ini selain Jokowi, dan misalnya – Jokowi tidak meminang JK sebagai cawapres, akankah JK tetap mendukung Jokowi? Maaf Pak, saya sangat berterimakasih dengan sumbangsih Pak JK untuk Indonesia, namun demikian, saya tetap mengkritik Bapak dalam kasus ini.

Setali tiga uang dengan tokoh reformasi satu ini. Dulu Amien Rais pernah bilang, “seret Prabowo ke Mahkamah Militer,” namun hari ini, Amien Rais paling getol memuji Prabowo, sampai bilang Prabowo mirip Soekarno (mirip apanya, Soekarno istrinya banyak, Prabowo tidak punya istri). Lalu, dalam rapat pemantapan tim pemenangan Prabowo-Hatta di Provinsi Jawa Tengah, ia menyatakan bahwa rakyat Indonesia harus memilih calon presiden yang tampan dan kaya raya. Menurutnya, hal tersebut sesuai dengan ajaran Islam (Kompas, 25/5/2014).   Monggo jika itu memang pilihan politik Bapak, tapi mbok ya rasional dikit. Benarkah memilih pemimpin harus yang kaya dan tampan?

Sayyidina Ali ra, terkenal dengan kezuhudannya, dan bahkan ia punya julukan Abu Turab atau si manusia debu. Dikisahkan, ketika Sayyidina Muhammad Saw mencari Sayyidina Ali menantunya, ternyata Ali sedang tidur. Bagian atas pakaiannya tersingkap dan debu mengotori punggungnya. Melihat itu Kanjeng Nabi pun duduk dan membersihkan punggung Ali sambil berkata, “Duduklah wahai Abu Turab, duduklah. Dari kisah tersebut, mengambarkan bahwa Sayyidina Ali hanya memakai kain yang menempel di tubuhnya saja saat tertidur – dan debu yang mengotori punggungnya ditafsirkan bahwa beliau tidur di lantai. Bisa dibayangkan betapa sederhananya. Begitu pula halnya dengan Sayyidina Umar yang hidup sederhana dan tetap didaulat menjadi pemimpin kaum muslimin.

Muhammad AS Hikam, seorang pengamat politik dalam The Hikam Forum juga sangat menyayangkan pernyataan dari Amien Rais tersebut. Menurutnya, memilih presiden bukan seperti mencari model untuk fashion, atau salesperson yang memang memerlukan kriteria kecantikan atau setidaknya menarik secara fisik. Presiden sebuah negara ukurannya sudah ditentukan dlm Konstitusi dan Undang-Undang, dan Hikam tidak yakin bahwa soal kekayaan dan ketampanan ataupun kecantikan termaktub dalam syarat-syarat pemimpin. Pernyataan seperti itu sama halnya dengan membuka pintu bagi kampanye yang memakai fisik dan status sosial sebagai bahan olok-olok. Berbahaya dan sangat tak layak. Dan sangat mungkin hal-hal seperti ini akan merugikan pasangan yang didukung.

Dan 9 Juli nanti, rakyat yang akan menjadi hakim. Siapapun pemimpin Indonesia kelak, semoga dia adalah sosok yang pro-rakyat, dan mampu menjaga keutuhan nusantara.

 

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL