UI-okeOleh: Moch Boerhan

“Hari ini IQ Universitas Indonesia (UI) turun 100 poin ke batas peradaban,” tulis Rocky Gerung, dosen UI beberapa wakatu yang lalu.

Kejengkelan Rocky rupanya dipicu oleh pemberian gelar Doktor Honoris Causa Bidang Kemanusiaan dan Ilmu Pengetahuan Teknologi oleh UI kepada Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdul Azis.

Bukan hanya Rocky yang marah. Guru Besar UI yang juga mantan Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Emil Salim, bersama para akademisi lain juga ikut murka. Hal ini karena sebelumnya Arab Saudi telah memancung Tenaga Kerja Indonesia. Rupanya hal ini tidak membuat UI bergeming meski hibah 5 M dari Arab Saudi bukanlah fakta yang bisa langsung dikaitkan.

Saya tidak bisa membayangkan apa yang ada dalam benak para akademisi UI, jika besok Sabtu, 12 Desember, UI jadi menghadirkan kelompok radikal yang gemar membasmi kelompok yang berbeda, yang direpresentasikan oleh Fathi Yazid Attamimi. Ia datang untuk memberi ‘pencerahan’ bagi UI. (Baca juga: Jawaban untuk Fathi Yazid Attamimi)

Yazid adalah pendukung kelompok bughot/ pemberontak Free Syrian Army (FSA), mempunyai kedekatan dengan Barat dan Israel. Di Indonesia, kelompok ini didukung oleh kader-kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan menyebutnya sebagai ‘mujahidin’.

Setidaknya peta kelompok radikalis pejuang “negara Islam” (menurut tafsirnya sendiri) terbagi menjadi: 1) Koalisi pendukung “Khilafah” ala Hizbut Tahrir mendukung Jabhat Al Nusrah, 2) FSA yang berafiliasi dengn Ikhwanul Muslimin, 3) ISIS. Sepertinya agak rumit, tapi akar ideloginya tetap sama, yakni Salafi Wahabi yang berpusat di Arab Saudi dengan dukungan penuh dari Amerika dan sekutunya negara-negara Barat.

Di Timur Tengah mereka saling bertikai berebut kekuasaan atas nama Daulah Islamiyah dan Khilafah. Kasus terakhir adalah dibunuhnya tokoh senior Hizbut Tahrir Suriah Abu Bakar Mustafa Khayal oleh ISIS.

Maka tema kajian di UI yaitu “ISIS dan Syiah, Islamkah mereka?” sudah diketahui jawabannya sekarang. Konstelasi perpecahan kelompok radikal Salafi Wahabi bukankah dimaksudkan untuk kita dalami saat ini.

Yang menarik adalah, bagaimana sebuah universitas sekaliber UI dapat terkontaminasi aliran radikal dengan keangkuhan inteleketual dan ideologi yang melekat pada Fathi Yazid Attamimi?

Jika diberitakan tanggal 3 Nop 2007 Arab Saudi menghibahkan dana lebih dari 5 M untuk pembangunan masjid UI, tentu tidak bisa langsung dikaitkan dengan acara tersebut.

Meski dari bocoran Wikileaks menyebutkan, “Pemerintah Arab Saudi juga dikenal sangat murah hati menyalurkan uang untuk mempengaruhi kelompok-kelompok strategis. Kedutaan Arab Saudi diketahui membiayai renovasi masjid Universitas Indonesia di Salemba, Jakarta sehingga nampak megah. Namun di sisi lain, kerajaan Arab Saudi mensyaratkan agar setiap penceramah yang akan tampil bicara di masjid tersebut – termasuk dalam shalat Jumat – harus memperoleh persetujuan Kedutaan Arab Saudi terlebih dahulu. Untuk kemurahan hati itu, Raja Abdullah (almarhum) memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dari UI.

Seorang almamaternya bahkan menulis, “Lantas kenapa Rektor UI, berangkat ke Arab Saudi, repot benar datang sendiri, membungkuk takzim penuh penghormatan, menyerahkan piagam pengangkatan Doktor Honoris Causa kepada Raja Abdullah, Raja Arab Saudi. Sungguh di luar kelaziman, karena setahu saya, bahkan presiden, perdana menteri (kalau sehat walafiat) datang sendiri untuk menjemput piagam penghargaan sejenis itu…”

Menjadi mahasiswa tentu menjadi impian sebagian besar pemuda, apalagi di kampus ternama seperti UI. Dari rahimnya lahir para intelektual muda, agen perubahan, yang saling mencerahkan, memberi ruang pada setiap tafsir terhadap kebenaran. Seperti lazimnya rahim kebaikan, kadangkala darinya terlahir pula anak jaddah, berupa ‘kesombongan intelektual’. Merasa sebagai pemilik tafsir satu-satunya terhadap kebenaran yang pada titik ekstrim akan menjadi radikal dengan menistakan setiap yang berbeda.

Moga bukan menjadi penanda metamorfosis UI, dari agen perubahan menjadi agen kemapanan kelompok radikal opportunis. Sungguh pertaruhan besar bagi UI jika menggadaikan tradisi intelektualnya, veritas – probitas – iustitias. (LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL