Oleh: R Budi Sarwono

Usai Ujian Nasional Berbasik Komputer (UNBK) tempo hari banyak peserta yang memprotes soal-soal Matematika yang baru saja mereka kerjakan. Protes mereka ungkapan di akun Instagram @kemendikbud.ri. Akun tersebut memang bukan official account Kemendiknas, tetapi marilah jangan dianggap sepi. Meskipun anak-anak telanjur meratap di tembok ratap yang salah, cobalah kita dengar esensi keluhan mereka.

Posting-an yang meramaikan tagar #SuaraMilenial itu sebagian mengeluhkan tentang soal-soal mata pelajaran Matematika yang menurut mereka tidak membumi. Keluhan anak-anak ini sebetulnya bentuk mini dari pertanyaan besar pada tulisan ini, pendidikan untuk apa?

Coba kita simak posting-an Emilfhanik berikut ini (contoh-contoh berikut ini saya copy paste apa adanya, tanpa diedit); Pak tadi saya ke sekolah niatnya mau ngerjain soal mtk, kok malah jadi soal mtk yang ngerjain saya?

Berikut ini posting-an Auinf: Pak tolonglah ngapain saya ngitung jumlah gram NaCI yang ada dalam 1 ton salju Pak. Indonesia kan tropis pak hedeuhhh lieur

Sementara itu akun Im.evelynnn menulis, Pak itu dadu dikocok 600 kali faedahnya ap pak? Kalau main monopoli ud keburu wafat.

Dua komentar terakhir jika disorot-besarkan akan menjadi pertanyaan fundamental, untuk apa pendidikan itu? Mengapa anak-anak di daerah tropis harus menghitung NaCI yang ada dalam satu ton salju? Mungkin si pembuat soal akan menjawab, kan ada kemungkinan mereka akan bekerja di daerah bersalju? Lalu, diskusi akan berkembang, apakah pendidikan yang mahal ini harus menjawab sebuah tantangan yang kemungkinan terjadinya kecil, atau lebih baik menjawab permasalahan besar yang riil?

Sama juga dengan soal yang dipertanyakan Im.evelynn, mengapa dadu harus dikocok 600 kali sebelum diluncurkan? Bukankah itu pekerjaan tanpa faedah, tidak riil, mengada-ada, dan artifisial? Begitu kira-kira pikiran yang lebih njlimet pada diri siswa ini. Apakah jika si pembuat soal, misalnya, menuliskan dadu dikocok 5 kali lalu mengurangi mutu soal? Bukannya mengocok dadu 5 kali lebih realistis dibanding 600 kali? Jika demikian mengapa harus 600 kali kocokan?

Komentar akun Zulfikarfadli ini lebih mencerminkan sikap frustrasi anak-anak karena dipaksa mengerjakan sesuatu yang nyaris tidak ada manfaatnya karena tidak base on reality. Zulfikarfadli menulis; 7 tahun yang lalu umur budi 6 kali umur Ani. 4 tahun yang akan datang umur Ani sama dengan umur Budi tambah Sembilan tahun. Berapa umur Budi? Pa, ya mana saya tahu pa umur orang ga ada yang tahu, cuma tuhan yang tahu.

Pendidikan harus berbasis realitas. Tugas pendidikan adalah menyiapkan anak-anak untuk terjun di dalam konteks masyarakat yang riil. Bukan menyiapkan mereka untuk terjun di dunia rekaan. Sementara soal-soal yang dibahas anak-anak kita itu adalah persoalan di dunia rekaan yang “lebay”.

Leo Tolstoy, seorang sastrawan Rusia, pernah mendirikan beberapa sekolah tani untuk meyakinkan pikirannya sendiri bahwa pendidikan adalah kebudayaan. Tolstoy, seperti direfleksikan oleh Reginald D Archambault (dalam Naomi, 2015) mengatakan, tugas pendidik bukannya menyiapkan kurikulum yang mencerminkan kebudayaan semu yang dijalin dengan prasangka-prasangka, atau konsepsi-konsepsi artifisial para teoritisi yang berbicara abstrak.

Guru, menurut Tolstoy harus memahami betul dunia nyata dan memahami kebudayaannya. Tugas mereka adalah menyiapkan murid agar tumbuh dan berkembang di dalam kebudayaan tersebut. Tolstoy adalah salah satu pemikir indigenous di bidang pendidikan. Ia a-teori, dan cenderung mendekonstruksi apa yang telah diteorikan oleh Heinrich Pestalozzi (1746-1826), Friedriech Frobel (1782-1852), maupun John Dewey.

Pemikiran Tolstoy lebih dekat dengan pemikiran Rousseau dalam hal membebaskan siswa-siswa dari berbagai macam prasangka. Tetapi bedanya dengan para ahli tersebut, Tolstoy bukanlah pedagog yang berkecimpung dalam dunia teori pendidikan. Ia hanyalah seseorang yang secara autentik mengejawantahkan pemikirannya tentang pendidikan, dan melaksanakan dalam praktik yang sesungguhnya.

Beberapa Sekolah Petani yang didirikan Tolstoy pada akhirnya tidak bertahan lama. Para guru yang menterjemahkan pemikiran Tolstoy merasa kesulitan karena ketiadaan prosedur standard (SOP) yang jelas. Tetapi meskipun begitu, pemikirannya hidup sampai sekarang, dan dibahas serta direfleksikan oleh para pemikir di bidang pendidikan seperti Reginald D Archambault.

Kembali ke pertanyaan awal, untuk apakah pendidikan di Indonesia diadakan? Apakah sekedar untuk mempersiapkan anak supaya siap bekerja? Oh, alangkah rendahnya cita-cita pendidikan kita. Peradaban ini tengah menuntun kita menuju sebuah pemahaman baru, bahwa hidup tidak sekedar bekerja, tetapi bermain. Dari doing menjadi playing karena manusia adalah Homo Ludens, makhluk yang bermain. Mestinya pendidikan kita menyiapkan anak didik untuk lebih serius dalam bermain-main.

Peradaban ini tengah menghadapkan kita pada sebuah kenyataan baru bahwa orang-orang sukses bukannya orang yang mengenyam pendidikan tinggi. Jack Ma, Mark Zuckerberg, Bill Gate bukanlah orang yang cemerlang di dunia pendidikan. Tetapi mereka orang-orang yang serius dalam bermain-main. Perusahaan-perusahaan mereka sekarang dilengkapi dengan playground, di mana karyawannya bisa bekerja sambil tetap bermain-main.

Bagi generasi sekarang bekerja itu bersenang-senang, bukan suatu bentuk hukuman karena harus melakukan rekonsiliasi dengan yang Illahi. Oleh sebab itu anak zaman now cenderung mencari pekerjaan yang menyenangkan, bukan mencari pekerjaan berdasarkan besar-kecilnya perusahaan. Anak-anak kita juga lebih fleksibel, keluar-masuk perusahaan seperti sesuka hatinya. Tetapi, itu dalam rangka mencari suasana yang menyenangkan.

Kadang dunia usaha juga belum siap menghadapi kondisi ini. Banyak manajer perusahaan yang mengatakan, anak sekarang tidak faithfull. Bukan! Bukan perkara faitfull-nya, mereka keluar-masuk pekerjaan karena suasana di perusahaan itu tidak menyenangkan; di situ mereka tidak bisa bekerja sambil bermain-main. Sementara informasi lowongan begitu terbentang. Begitu gampang anak-anak zaman ini mencarai pekerjaan. Browsing sebentar di internet, dapat informasi, mengirim email lamaran, wawancara, dan mendapat keputusan. Beda dengan 20 tahun yang lalu.

Menyaksikan perkembangan zaman yang terus merambat maju, dunia pendidikan tidak boleh jalan di tempat. Pendidikan tidak sekadar menyiapkan anak untuk bekerja, tetapi menyiapkan mereka untuk dapat bekerja sambil bersenang-senang. Jadi, kepada para pembuat soal UNBK, saran saya, buatlah soal-soal yang realistis dan menyenangkan, insya Allah Anda telah berkontribusi dalam menyiapkan anak didik terjun di dalam konteks kebudayaannya yang riil.

Sebagai penutup tulisan ini, saya menyitir posting-an akun Gregoryjoshua di situs yang sama. Ia mengajak Pak Menteri supaya berempati kepada anak-anak yang mengerjakan soal-soal UNBK, “Pak Bapak kan mentri, katanya merasakan penderitaan rakyat, ikut unbklah pak.” (LiputanIslam.com)

*dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, disalin dari Detik, 20 April 2018.

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*