Oleh: Ayudia az-Zahra, Blogger

salafy-mazumMenikmati detik-detik menjelang pemilu legislatif yang akan berlangsung besok, Rabu 9 April 2014, rasanya seperti hendak bertemu dengan pujaan hati. Deg-degan. 😀 Namun harap-harap cemas saya rasanya tidak sebanding dengan kekalutan sebuah partai “Islam” di Indonesia, yang demi memenuhi hasratnya untuk menjadi 3 besar, mereka rela  melancarkan aksi-aksi ajaib.

Sebut saja, kunjungan pemimpin puncak partainya ke makam Eyang Suharto untuk berziarah. Jika berziarah dilakukan oleh warga Nahdliyin atau umat Islam Aswaja pada umumnya di Indonesia, tentu itu bukanlah hal yang aneh. Tapi jika dilakukan oleh seorang petinggi “Partai Dakwah” – yang terbiasa membid’ahkan amalan seperti ziarah kubur – yang kadang dianggap sebagai syirik akbar,  tentu membuat kening berkerut. Apakah ziarah kubur bid’ah dan syirik  kecuali menjelang pemilu? Biarlah mereka yang menjawab.

Lalu partai dakwah tersebut mengusung jargon “Cinta, Kerja, Harmoni” dan membuka diri – menyambut dengan baik masuknya caleg terduga Syiah hingga caleg non-muslim untuk ikut bertarung dalam pemilu, yang tak ayal sikapnya ini menjadi cemoohan—bagi siapapun yang sangat mengenal sepak terjang “Partai Dakwah” yang selama ini selalu mencitrakan diri muslim sejati —  anti syiah,  kafir, liberal, dan  sekuler.

Menurut Republika (4/4), “Partai Dakwah” tersebut memiliki empat calon anggota legislatif  yang beragama Hindu di Bali.  Sementara itu menurut Arrahmah, Sekretaris Jenderal PKS, Taufik Ridho di Jakarta,  pada Senin (22/4/2013) menyatakan, caleg non-Muslim banyak diusung PKS untuk daerah pemilihan Indonesia Timur, seperti Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Papua, dan Papua Barat. “Memang kebutuhannya seperti itu,” ujar Taufik.

Namun, tidak ada yang lebih dahsyat lagi dan tidak terbayangkan sebelumnya, jika Arab Saudi pun – melalui ulama-ulamanya akhirnya menurunkan fatwa untuk memilih PKS !

Seperti yang dikabarkan PKS Piyungan—dari Ustadz Firanda;
Berdasarkan fatwa para ulama besar yang memiliki pandangan yang tajam, fikih yang tinggi, serta ketakwaan kepada Allah (seperti Syaikh Bin Baz, Syaikh Al-‘Utsaimin, dan Syaikh Al-Albani rahimahumullah) demikian juga fatwa Ulama Besar Madinah Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad hafizohullah, dan juga beberapa ulama lainnya yang sempat kami minta nasehat dari mereka, maka kami mengikuti nasehat para ulama tersebut untuk menganjurkan kaum muslimin untuk ikut mencoblos dalam pemilu

-sebagai pengamalan dari kaidah fikih (ارْتِكَابُ أَخَفِّ الضَّرَرَيْنِ) “Menempuh mudhorot yang teringan”,
terlebih lagi mengingat kondisi tanah air yang cukup mengkhawatirkan.

Setelah itu kami bermusyawarah dan mengambil keputusan untuk menganjurkan kaum muslimin melakukan hal berikut :

Pertama : Jika mengenal caleg yang terbaik dan cenderung kepada sunnah dan membela kepentingan islam maka pilihlah caleg tersebut.

Kedua: Berilah peringatan terhadap caleg nashrani, syiah maupun liberal walaupun dari partai islam.

Ketiga: Jika tidak kenal caleg, maka pilihlah Partai PKS,

Walaupun Kami tetap menyatakan haramnya demokrasi, karena bagaimanapun PKS –dengan segala kekurangannya- masih merupakan partai yang secara umum masih diharapkan bisa memberi kontribusi kepada Islam dan Kaum Muslimin. Namun tetaplah berhati-hati terhadap caleg syiah dan non muslim walaupun dari PKS.

SERUAN kami kepada PKS agar terus membenahi diri, dan mencari keridhoan Allah, dan tidak mencalonkan non muslim, syiah maupun liberal.

Sesungguh kemenangan bukanlah pada jumlah yang banyak akan tetapi pada meraih keridoan Allah dengan  menjalankan syari’atNya dan menjauhi sebisa mungkin larangan-Nya.

Akhirnya kami mengharapkan kaum muslimin menyatukan suara mereka demi Islam, dan terus berdoa dengan tulus dan membenahi ibadah masing-masing, karena penolong hanyalah Allah semata.

Semoga menjadi kemaslahatan bagi kaum muslimin.

Allahul musta’an http://www.pkspiyungan.org/2014/04/fatwa-salafi-pemilu-2014-pilih-pks.html

 

Sungguh menarik. Fatwa pun buru-buru diimpor demi meyakinkan kaum muslimin untuk memilih “Partai Dakwah” di Pileg nanti. Lihat di poin ‘Jika tidak kenal caleg, maka pilihlah Partai PKS’, kenapa harus PKS? Bukankah partai berbasis Islam di Indonesia bukan hanya PKS? Ada PKB, PAN, juga PBB yang moderat. Fatwa ini kontradiksi dengan kebijakan resmi Arab Saudi yang memasukkan organisasi Ikhwanul Muslimin sebagai teroris. Bukankah Partai Dakwah ini juga mengusung ideologi Ikhwanul Muslimin?

Hanya saja sayangnya, mengingat bahwa di dalam tubuh Salafi telah terkotak-kotak, fatwa ini tidak diindahkan oleh  kelompok Salafi Jihadi. Berikut ini saya paparkan penolakan fatwa ulama Saudi yang dipublikasikan oleh Shotussalam.

Para penyeru yang mengajak masyarakat untuk ikut serta  mencoblos pada pemilu, yang mana mereka mengaku sebagai muslim yang paling ahlussunnah, sadar atau tidak sesungguhnya telah memposisikan dirinya sebagai da’i-da’i yang menyeru kaum muslimin kepada kalimat buruk dan kepada pintu-pintu jahanam.

Ya, ajakan untuk menghidupkan dan mengokohkan  sistem demokrasi adalah ajakan kepada kalimat yang buruk dan ajakan untuk menuju neraka jahanam. Saya katakan bahwa Demokrasi adalah kalimat yang buruk (kalimatun khobitsah), dalilnya adalah :

“Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun”. (QS Ibrahim:26)

Dalam catatan kaki al qur’an terjemahan Departemen Agama disebut bahwa, termasuk kalimat yang buruk ialah kufur, syirik, segala perkataan yang tidak benar dan perbuatan yang tidak baik.
Dan dalam ajaran demokrasi terkandung seluruh unsur makna  kalimat buruk yang disebutkan.

Demokrasi adalah kekufuran, kesyirikan, perbuatan yang tidak benar dan perkataan yang tidak baik. http://shoutussalam.com/2014/04/kalimat-buruk-dan-kotor-itu-bernama-demokrasi/

Namun di luar itu, ada ormas lain yang juga tak kalah mengherankan tindak tanduknya. Hizbut Tahrir Indonesia, yang selama ini berada di garis depan menolak demokrasi yang dianggap system rusak- merusakkan, tiba-tiba saja berubah haluan. Juru Bicara Dewan Pimpinan Pusat Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Ustad Ismail Yusanto, membantah lembaga pejuang Khilafah ini anti-pemilu. Ia juga kembali menegaskan bahwa HTI tidak pernah menyerukan golput.

“Siapa bilang HTI anti-pemilu. Kami juga tidak pernah menyerukan golput. Yang kami selalu ingatkan adalah ‘haram hukumnya’ memilih caleg atau pemimpin yang tidak bermoral. Kami selalu ingatkan kepada kader dan masyarakat agar memilih caleg dan pemimpin yang peduli pada syariat Islam,” kata Ismail seperti dikutip Tribun, Ahad (16/3).

Bagi HTI, kata alumnus jurusan pertambangan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu, pemilu adalah instrumen dari sekian instrumen yang bisa dipakai untuk memperjuangkan syariat Islam. Hanya saja HTI belum tertarik untuk menempuh jalur ini sebagai arena perjuangan penegakan Khilafah.

Rasanya desain ini bukan sebuah kebetulan. Dirangkulnya non-muslim untuk menjadi perwakilan di dewan hingga turunnya fatwa dari Arab Saudi, serta berubahnya haluan Hizbut Tahrir secara mendadak, menunjukkan indikasi bahwa beberapa kelompok Islam yang sebelum-sebelumnya tidak terlalu akur bahkan sering cakar-cakaran di akar rumput, kini berupaya untuk menyatukan barisan yang tercerai berai kendatipun masih ada yang tetap keras kepala. Demi apa mereka bersatu? Menurut saya, mereka (Salafi- Wahabi) intoleran sedang berusaha sampai di titik akhir untuk membendung laju pria kurus kerempeng dengan wajahnya yang ndeso – yang kabar buruknya (buat mereka, tentu saja), si pria kerempeng ini elektabilitasnya paling tinggi di antara semua kandidat yang ada.

 

———————

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL