Oleh: Kalis Mardiasih*

 

Pada berita seorang anak perempuan yang hamil di luar perkawinan, seorang teman perempuan berkomentar pada dinding media sosial.

“Makanya, kalau punya anak diajari menutup aurat sejak kecil agar tidak salah pergaulan: pacaran, seks bebas, hamil.” Ia lalu menambah keterangan bahwa Islam punya instrumen aturan berjilbab untuk menjaga kehormatan perempuan dan melindungi diri dari sebentuk kejahatan seksual.

Dalam hati, ingin kukabarkan kepadanya bahwa banyak janda di kampungku hamil di luar perkawinan, tapi tak ada urusan dengan jilbab. Mereka adalah buruh migran yang dipulangkan setelah disiksa dan ketahuan dihamili oleh tuannya di negeri tetangga.
Pada berita seorang istri ustaz yang dikhianati suaminya karena poligami, seorang teman perempuan berkomentar lagi. Ia bilang, istri si ustaz hebat sebab ikhlas dengan keputusan suami. Poligami adalah sesuatu yang disyariatkan dalam Al Quran, dan bagi perempuan yang mampu menerima, surga adalah balasannya.

Dalam hati, aku mau bilang padanya bahwa Rasulullah SAW berpoligami pada sepuluh tahun terakhir periode dakwahnya ketika banyak terjadi peperangan. Pilihan Nabi untuk menikahi janda-janda pada fase itu menerangkan fase sosial yang khas, yakni pada masa kini ketika tak ada kebutuhan atas situasi yang sama khasnya, pilihan poligami dengan tegas boleh ditolak.

Ingin pula kubisikkan kepadanya bahwa tradisi beristri lebih dari satu adalah tradisi jahiliyah yang tidak hanya terjadi pada masa Arab pra-Islam, melainkan juga menjadi tradisi gelap sejak suku Yunani, bangsa Yahudi, dan masyarakat Eropa yang bukan Islam. Islam datang menerangkan konsep pembatasan jumlah serta konsep keadilan yang diakhiri dengan syariat larangan bilamana laki-laki tak mampu berbuat adil.

Ketika kasus pembunuhan istri oleh seorang suami menjadi viral sebab kebetulan si suami seorang pejabat, komentar-komentar yang berserakan adalah “ya gimana lagi, dengar-dengar, si istri memang tidak setia.” Voila, dahsyat betul peradaban perempuan ini. Setelah kita berjuang keras menghilangkan kata tunasusila dari kamus sebab percaya tidak ada perempuan yang berhak dibilang “tuna”, kini perempuan sendiri tak hanya ikut mengembangkan istilah misoginis baru seperti “pelakor” alias perebut laki orang, bahkan mereka juga membenarkan pembunuhan untuk menebus kesetiaan.

Bahkan, ketika Ni Putu Kariani terbaring tak berdaya di rumah sakit di Bali sebab dipotong kakinya dengan parang oleh suami sendiri, lagi-lagi perempuan harus bersabar. Kabar ironis yang terdengar, penganiayaan pada Putu sudah terjadi bertahun-tahun. Putu menjadi korban penganiayaan besar dan kecil, dengan jumlah penganiayaan besar sebanyak empat atau lima kali.

Putu pernah pulang dengan kepala benjol berisi cairan dan akhirnya harus dioperasi, kali lain dengan kondisi tubuh disundut rokok atau memar-memar. Akan tetapi dari pihak keluarga menyarankan bertahan dengan harapan suaminya bisa berubah.

Mengapa perempuan selalu salah? Mengapa ia tak boleh bicara? Mengapa perempuan harus menjadi pihak yang paling ikhlas, paling sabar dan paling tak boleh melawan?

Dinding pembatas kemerdekaan perempuan berjenis tiga hal. Pertama adalah tradisi. Sekalipun negara telah menetapkan undang-undang yang membatasi praktik pernikahan dini, misalnya, pengadilan agama dan Kantor Urusan Agama toh selama ini masih banyak tunduk pada penduduk lokal dan memberikan dispensasi.

Hasil penelitian yang dilakukan BKKBN pada 2014 menyebutkan 46% atau setara 2,5 juta pernikahan yang terjadi setiap tahun di Indonesia melibatkan mempelai perempuan berusia 15 sampai 19 tahun. Bahkan, 5% di antaranya berusia di bawah 15 tahun.

Tradisi pernikahan dini dihubungkan dengan mitos bahwa jika seorang perempuan telah dilamar oleh seorang laki-laki, maka tak boleh ditolak jika tak mau anak itu gagal mendapatkan jodoh seumur hidup, meskipun usianya masih di bawah 16 tahun. Selain itu, kultur Indonesia juga masih menempatkan perempuan sebagai warga kelas kedua. Mempercepat perkawinan seorang gadis seringkali menjadi solusi untuk berbagai alasan ekonomi, sosial, anggapan pendidikan tidak penting dan stigma negatif terhadap perawan tua.

Berhadapan dengan tradisi, masyarakat seolah tidak peduli pada fakta bahwa pernikahan dini yang berlangsung tanpa kesiapan mental dari pasangan, rentan terhadap terjadinya kekerasan dalam rumah tangga yang berujung tingginya angka perceraian.

Kedua, doktrin agama. Banyak dari teman perempuan muslimah saya seringkali mempersempit diskusi-diskusi tema “Perempuan dan Islam” hanya pada bahasan soal jilbab dan ketaatan. Sintesis yang keluar dalam diskusi itu terbatas pada simpulan bahwa perempuan mesti taat agar tidak ditinggalkan oleh suaminya. Perempuan tampak berjuang keras sekali pada ranah-ranah itu. Padahal, di sisi lain perempuan boleh lebih maju untuk berdiskusi perihal tingginya angka kematian ibu melahirkan dan problematika sosial lain. Seperti kisah di bawah ini.

Pada usia 15 tahun, Srey Rath, seorang gadis Kamboja, bekerja sebagai tukang cuci piring di Thailand untuk membayar keperluan keluarga. Sebuah agen tenaga kerja menyerahkan Rath pada kelompok preman yang membawanya ke Kuala Lumpur untuk bekerja di sebuah tempat pelacuran. Rath berhasil kabur ke apartemen terdekat memakai tali yang ia gunakan untuk nekad melompat, tapi di kantor imigrasi Malaysia ia ditahan selama setahun dengan tuduhan ketiadaan dokumen, dan justru dijual lagi oleh polisi setempat ke agen trafficking Thailand.

Gadis-gadis belia seusia Rath bekerja di rumah pelacuran itu tujuh hari dalam seminggu, lima belas jam sehari. Mereka dibiarkan telanjang supaya lebih sulit untuk melarikan diri atau menyembunyikan uang tip, dan mereka tidak dibolehkan meminta pelanggan menggunakan kondom. Jika lelah berpura-pura tersenyum, para majikan itu akan memukul hingga mereka membuang wajah muramnya. Rath dan kawan-kawannya tidak menerima sepeser pun dari pekerjaan itu, dan tidak boleh keluar ke jalan. Mereka hanya diberi sedikit makan sebab pelanggan tidak menyukai gadis gemuk.

Nicholas D Kristof dan Sheryl Wudunn, wartawan peraih penghargaan Pulitzer, mendokumentasikan pengalaman human trafficking Rath itu dalam buku Half The Sky. Bersama kisah menyedihkan perbudakan seks Meena Hasina di perbatasan Nepal yang kini berhasil menyelenggarakan sekolah asrama untuk perempuan di kotanya, Mamitu di Ethiopia, yang tak pernah merasakan pendidikan formal namun kini melatih ahli bedah di Addis Ababa. Juga, kisah Saima di Pakistan yang kerap dipukuli suaminya namun kini berhasil menjadi perempuan pengusaha yang menggerakkan roda perekonomian desanya.

Ya, diskusi-diskusi soal “Perempuan dan Islam” di kalangan perempuan sendiri sudah mesti ditingkatkan kualitasnya. Perebutan klaim golongan perempuan mana yang terbaik atau paling taat biar saja menjadi omong kosong paling berisik dan segera saja kita tinggalkan.

Ketiga, kapitalisme. Akar dari seluruh persoalan kekerasan berbasis gender, atas nama apapun, adalah soal kekuasaan, soal dominasi dan penindasan oleh yang kuat terhadap yang lemah. Laki-laki terkondisikan tidak boleh menangis sejak kecil, sedangkan perempuan yang baik adalah stereotip perempuan lembut dan tidak melawan.

Pada peristiwa sesederhana catcalling (bersiul pada perempuan asing di jalan) misalnya, yang terjadi bukan hal kompleks seperti doktrin agama bahwa laki-laki tak mampu menundukkan pandangan. Tapi, semata sejak mula laki-laki menganggap dirinya sebagai pribadi lebih kuat yang punya kuasa untuk meneror perempuan serta keyakinan bahwa banyak perempuan lebih sering terteror dan tidak mampu melawan.

Kapitalisme memandang tubuh perempuan sebagai aset yang sejak dulu boleh diobjektifikasi pada billboard iklan, pada siaran televisi, juga bahasa media yang mereduksi entitas keperempuanan sebatas kata “cantik” atau “seksi”. Padahal, semestinya tubuh perempuan adalah pantulan kehidupan.

Kaki Ni Putu Kariani yang hilang adalah tapak kehidupan yang membesarkan anak-anak manusia sedari benih hingga remaja, yang justru menyaksikan ibunya disiksa di depan matanya sendiri. Beritahukan pada sesama perempuan bahwa perempuan boleh berkata tidak, boleh meminta bantuan, dan boleh bekerja sama. Selamat berjuang untuk sembuh, Ibu Putu! Penghormatan pada tubuh perempuan adalah penghormatan paling tinggi pada hidup…(LiputanIslam.com)

*penulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian, disalin dari Detik, 15 September 2017.

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL