shamsi aliOleh: Imam Shamsi Ali

Jumat, 13 November lalu dunia kembali dikejutkan oleh sebuah peristiwa yang tidak diharapkan (undesirable event). Serangan teroris di kota Paris, ibu kota negara Perancis, yang menewaskan lebih dari seratusan warga sipil.

Merespon peristiwa itu serentak di seluruh dunia, dari anak jalanan, warga biasa, pimpinan agama hingga kepala negara angkat suara. Ibarat sebuah paduan suara sepakat menyuarakan “kutukan” atas peristiwa itu. Tentu tidak ketinggalan media massa sebagai “spirit lifter” (pembakar semangat) yang cenderung mengambil kesimpulan sebelum ada fakta hitam di atas putih.

Sebagai seorang Muslim yang hidup di jantung dunia, kota yang pernah mengalami peristiwa sama bahkan lebih parah lagi di tahun 2001, saya tidak ketinggalan mengangkat suara dan mengutuk peristiwa itu. Bagi saya, kekerasan dan pembunuhan kepada rakyat sipil, khususnya anak-anak dan wanita, adalah pembunuhan kepada semua manusia. Dan pelakunya adalah penjahat, siapapun dan apapun afiliasinya, harus dikutuk dan ditempatkan sebagai musuh bersama.

Keyakinan saya di atas adalah keyakinan universal Islam. Kebenaran dan keadilan ketika sudah bersentuhan dengan kemanusiaan kita maka akan melewati semua batasan kemanusiaan kita. Tidak ada kebenaran atau keadilan Muslim vs Kristen misalnya. Secara sosial kebenaran adalah kebenaran dan keadilan adalah keadilan. Walaupun secara teologis kita meyakini adanya “keyakinan individu” dan bersifat absolut. Tapi sekali lagi, kebenaran dan keadilan pada tataran sosial kemanusiaan kita melampaui semua batas, termasuk batas keagamaan.

Korban Murakkab

Sesungguhnya kekerasan atau pembunuhan yang dilakukan terhadap siapa yang dipersepsikan sebagai “musuh Islam” di Barat, tanpa disengaja atau tanpa diketahui ternyata menjadikan komunitas Muslim menjadi korban berlipat ganda (murakkab). Terlebih lagi komunitas Muslim yang kebetulan hidup di tengah-tengah masyarakat mayoritas non Muslim.

Hal itu dikarenakan di satu sisi masyarakat Muslim di dunia barat adalah bagian integral dari masyarakat barat itu sendiri. Segala hiruk pikuk yang terjadi, manis pahitnya, hitam pithnya, asam tawarnya, mereka juga menjadi bagian dari setiap dinamika itu. Ketika adas serangan teroris terhadap sebuah kota maka komunitas Muslim menjadi bagian dari korban, langsung atau tidak.

Ambillah contoh 9/11 2001. Menurut estimasi kantor pemerintahan kota New York tidak sedikit juga orang-orang Islam yang menjadi korban dalam serangan itu. Termasuk di dalamya anggota kepolisian kota New York dari kalangan Muslim. Saya sendiri mengenal beberapa orang di antara mereka.

Tapi lebih dari itu konsekuensi sebuah peristiwa seperti tragedi Paris ini, baik secara ekonomi, sosial dan politik, san juga konsekuensi retaliasi militer, menjadikan komunitad Muslim-lah yang akan menanggung korban yang jauh lebih dahsyat. Serangan balik Perancis atas apa yang disebut ISIS do Suriah saat ini sudah pasti membawa akibat jahat yang lebih lebih besar kepada rakyat sipil, khususnya mereka yang dhuafa (anak-anak dan wanita).

Tapi bagi umat Islam yang paham akan peta pertarungan dunia saat ini, kejahatan terbesar kepadanya adalah bukan sekedar kematian atau keterpurukan ekonomi, dan seterusnya. Justru kejahatan terbesar terhadap umat ini setiap kali ada kekerasan seperti tragedi Paris adalah “Islam victimization”. Yaitu adanya upaya yang jelas, khususnya dari media dan politisi-politisi serta kelompok-kelompok tertentu yang punya kepentingan untuk secara sistimatis, dan kadang juga secara sistemis, melakukan langkah-langkah “memburukkan Islam” di mata publik Barat.

Kenyataan ini menjadikan orang seperti saya, yang insya Allah dengan izinNya, berjuang siang dan malam, dengan segala daya yang memungkinkan, untuk memperbaiki wajah Islam yang telah sedemikian lama disalahpahami di dunia Barat. Tapi dengan kejadian semacam itu bangunan persepsi yang telah diupayakan bertahun-tahun itu kembali diruntukan dalam beberapa menit. Sungguh menyedihkan!

Kemunafikan Dunia

Hal yang lain yang menyedihkan adalah kenyataan bahwa dunia sudah sedemikian menafik sehingga fakta-fakta yang ada di hadapan matanya disikapi secara berbeda. Saya mengatakan di awal tulisan ini bahwa kebenaran dan keadilan pada tataran sosial kemanusiaan, bukan tataran teologis, bersifat universal. Tidak mengenal batas-batas apapun, termasuk agama.

Oleh karenanya prinsip saya salam menyikapi tragedi kemanusiaan, di manapun, siapapun pelaku dan korbannya, adalah sama. Ketika ada orang Kristen yang dilanggar haknya oleh seorang Muslim, maka saya menempatkan diri sebagai pembela sang Kristen itu melawan seorang Muslim. Dan bagi saya ini adalah bagian dari iman saya yang diajarkan oleh Rasulullah SAW ketika bersabda; “barangsiapa yang menyakiti dzimmi (minoritas non Muslim) maka saya adalah musuhnya di hari kiamat”.

Untuk itu kepada saudara-saudara seiman saya, kiranya jangan selalu membandingkan kejahatan dengan kejahatan. Terkadang kita dengar, mereka diserang karena mereka menyerang. Mereka membunuh karena mareka dibunuh. Seorang kejahatan bisa jadi justifikasi terjadap kejahatan yang lain. Masanya untuk kita “move on” dan berada di atas “higher moral ground” dalam menyikapi berbagai peristiwa yang tidak diinginkan (undesirable tragic events).

Sayangnya sikap keadilan universal dan kejujuran seperti ini hilang dari dunia kita. Ketika terjadi serangan kekerasan terhadap rakyat sipil di Barat, atau negara non Muslim, maka semua menyuarakan oposisi dan kutukan. Tapi ketika kekeran, pembunnuhan dan pembantaian bahkan menjadi pemandangan harian di negara-negara mayoritas Muslim, termasuk di Irak, Suriah, Afghanistan, dan tentu Palestina khususnya di Gaza, semua seolah menutup mata dan berpura-pura seolah semua baik-baik saja.

Sikap ini diperlihatkan secara umum, baik masyarakat luas termasuk orang-orang Islam sendiri dan pemimpinnya, maupun mereka yang non Muslim dan pemimpin mereka, termasuk media massa. Mungkin saya ingin memberikan julukan, terjadi kemunafikan murakkab (rangkap) dalam menyikapi peristiwa kekerasan dan pembunuhan rakyat sipil di dunia ini.

Oleh karenanya untuk menyelesaikan atau minimal mempersempit ruang pertumbuhan tendensi kekerasan-kekersan dan kebuasan dunia kita diperlukan perubahan sikap dunia. Selama dunia memilih kemunafikan di atas kejujuran selama itu pula semua upaya menghentikan peristiwa seperti tragedi Paris akan selamanya dilihat sebagai permainan sandiwara semata.

New York, 17 Nopember 2015

—–

Artikel ini disalin dari tulisan Imam Shamsi Ali di halaman Facebook-nya.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL