Kwl pemilu

Data dari kawalpemilu.org, klik untuk memperbesar

Oleh: Putu Heri

Para pakar politik di Indonesia acapkali mengemukakan bahwa hasil Pemilu di Jawa Barat adalah cerminan dari hasil Pemilu secara nasional. Bisa jadi benar, apalagi jika kita melihat hasil Pileg lalu.

Dari data yang dilansir Ketua KPU Jawa Barat, Yayat Hidayat, inilah hasil Pemilihan Legislatif pada April lalu di Jawa Barat:

1.PDIP 4.159.404 suara (19,63 persen)
2. Partai Golkar 3.540.629 suara (16,71 persen)
3. Partai Gerindra 2.378.762 suara (11,22 persen)

Dan benar, ketiga partai inilah yang menjadi pemenang Pileg nasional:

1.PDIP  23.681.471 suara  (18,95 persen)

2.Golkar  18.432.312 suara   (14,75 persen)

3.Gerindra  14.760.371 suara  (11,81 persen)

Apakah teori ini juga berlaku pada Pemilihan Presiden 2014, yang hanya diikuti oleh dua kandidat yaitu Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK?

Hasil resmi dari KPU belum diumumkan dan kita masih harus menunggu hingga tanggal 22 Juli nanti. Namun, jika kita merujuk pada situs independen kawalpemilu.org, yang didirikan oleh Ainun Najib, sepertinya mitos Jawa Barat tersbut sudah tidak berlaku lagi.

Berikut ini perolehan suara di Jawa Barat

1.Prabowo Hatta: 13.387.795 suara (59,93%)

2.Jokowi-JK: 8.948.915 suara (40,06%)

Sedangkan perolehan suara nasional

1.Prabowo-Hatta: 58.746.818 suara (47,17%)

2. Jokowi-JK: 65.770.783 suara (52,47%)

Data suara yang masuk sebesar 99,47 %

Di Jawa Barat, pasangan Prabowo-Hatta mendapatkan suara yang sangat fantastis, selisihnya mencapai kurang lebih 5 juta suara dibandingkan dengan Jokowi-JK. Namun perolehan suara secara nasional ternyata jauh berbeda. Data kawalpemilu.org justru menunjukkan bahwa suara Jokowi-JK lebih tinggi daripada rivalnya.

Mengapa harus ada kawalpemilu.org? Bukankah kita harus menunggu hasil resmi dari KPU?

Kedua pasangan capres-cawapres, Presiden SBY, hingga para ulama – kesemuanya menyerukan kepada bangsa Indonesia untuk melakukan pengawalan/ pengawasan terhadap jalannya perhitungan suara. Hadirnya kawalpemilu.org adalah wujud nyata partisipasi rakyat untuk mengawasi suara itu sendiri. Dengan adanya kawalpemilu.org, artinya kita memiliki data pembanding.

Maksud saya begini. Sebelumnya, yang lumrah dijadikan pembanding dalam Pemilu adalah hasil quick count, yaitu proses hitung cepat yang mengacu pada sample dari berbegai TPS di seluruh Indonesia – dan diproses dengan  menggunakan metode ilmiah. Pada Pileg lalu-pun, hasil hitung cepat lembaga survey diterima dan dipakai oleh semua partai politik guna membentuk koalisi. Tidak terdengar protes dari partai manapun. Namun jika pada Pilpres kali ini hasil quick count menunjukkan hasil yang berbeda-beda, dan lalu kita diminta untuk menunggu hasil KPU pada tanggal 22 Juli, artinya, mau tak mau hasil hitung cepat ini harus diabaikan.

Nah, ketika quick count sudah tidak bisa dipakai lagi, lalu, bagaimana kita bisa mengatakan bahwa hasil perhitungan dari KPU itu benar atau salah? Kawalpemilu.org, menyuguhkan data perhitungan yang diambil berdasarkan scan form C1 yang dipublish oleh KPU dan didigitisasi dengan bantuan relawan netizen yang independen. Dengan kata lain, data yang dimasukkan bukanlah data imajiner dan sangat bisa dipertanggungjawabkan.

Dengan adanya kawalpemilu.org, kita bisa membandingkan hasil  perhitungan suara dari KPU dengan data yang berasal dari partisipasi masyarakat.

Bagaimana jika terjadi perbedaan hasil diantara keduanya? Lihat dimana perbedaannya, lalu ditelusuri. Dengan tekhnologi yang serba canggih seperti hari ini, dan dengan kecerdasan generasi muda Indonesia, hal ini bukanlah pekerjaan yang sulit. Saya yakin.

Kendati keberadaan kawalpemilu.org juga masih menjadi perdebatan hangat – dimana ada kelompok yang keukeuh menyatakan kita harus menunggu rilis resmi dari KPU, toh data-datanya diyakini benar dan digunakan sebagai acuan oleh kedua kubu pasangan capres-cawapres. Mau bukti?

Pius Lustrilanang, politisi dari Partai Gerindra, dari akun resminya di Facebook, menyatakan bahwa “Beroposisi sama terhormatnya dengan memerintah.” Berikut kutipan pernyataannya:

“Dengan selesainya pleno rekapitulasi suara di tingkat kecamatan (15/7/2014) dan dimulainya rekapitulasi di tingkat Kabupaten sejak (16/7/2014), pemenang pilpres sudah diketahui publik. Saya mencoba menghitung data DB1 yang sudah di-upload di Website KPU, ternyata hasilnya tidak jauh beda dengan hasil yang ditayangkan di situs www.kawalpemilu.org.

Salam hormat saya buat siapapun yang sudah mendedikasikan dirinya buat mengawal pemilu sehingga berjalan jujur dan adil. Siapapun presidennya, yang menang adalah demokrasi yang telah kita pilih dan perjuangkan. Demokrasi adalah alat sekaligus tujuan. Keyakinan saya terhadap demokrasi tidak akan pernah berubah.

Saya berharap sistem demokrasi kita semakin matang. Semoga demokrasi bisa mendatangkan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. Mari kita rajut lagi persatuan dan kesatuan bangsa. Semoga rakyat tidak perlu menyaksikan akrobat politik dagang sapi. Untuk harapan yang terakhir, saya agak pesimis.

Hormat selanjutnya saya berikan buat partai yang lapang dada menerima kekalahan dan siap beroposisi. Oposisi bagi mereka yang kalah, adalah sikap yang sama terhormatnya dengan kesiapan memerintah bagi yang menang. Apapun pilihan yang diambil akan menentukan peta politik Indonesia ke depan.”

Artinya, Bapak Pius dengan berbesar hati mengakui kemenangan dari kubu Jokowi-JK, berdasarkan pada data KPU dan kawalpemilu.org.

Sedangkan dari akun resmi Joko Widodo yang dikelola oleh Tim Media Center Kampanye Jokowi-JK, membuat pernyataan sebagai berikut:

“Banyak kejanggalan dan ketidaksesuaian jumlah dalam rekapitulasi C1 di berbagai tempat. Menurut data scan C1 nasional yang diunggah di website www.kpu.go.idterdapat 10.422 lembar C1 bermasalah pada pukul 22.09 WIB. Relawan ditantang untuk lebih jeli lagi mengawasi dan mencermati proses yang sedang berlangsung, baik di lapangan maupun di website. Silakan mengunjungi www.kawalpemilu.org sebagai pembanding.”

Artinya, kubu Jokowi-JK pun menggunakan situs kawalpemilu.org sebagai pembanding atas hasil rekapan KPU.

___________

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL