Prabowo Jokowi waktu kecilOleh: Iqbal Aji Daryono

Waktu SMA kelas 3, saya punya adik kelas laki-laki. Sebut saja namanya Adit. Pada awal-awal datang sebagai siswa baru, Adit sudah mencuri perhatian. Mukanya itu, ya, mukanya itu. Tampak sayu, pucat, dan ada sedikit lingkaran gelap di sekitar matanya. Sementara, badannya kurus ceking.

Para kakak kelas yang ingin menegakkan martabat senioritas mendatangi Adit, menyeretnya ke sudut sekolah yang sepi, nantang dia gelut, mungkin sempat mukuli dia juga, hanya berbekal satu alasan: “Heh! Kowe ngepil-an yo?? Rupamu kuwi!”

Saya tidak termasuk di antara para senior itu. Maklum, dalam soal kanuragan dan adu otot saya memang pecundang. Tapi itu saya syukuri beberapa hari kemudian, ketika saya melihat si Adit tengah khusyuk sholat di mushola. Saya dekati dia, saya ajak ngobrol, hingga sampai ke perbincangan soal kasus dia ‘dicangking’ itu. Adit berkata lesu, “Demi Allah, Mas, aku ki ra tau ngepil tenan. Lha piye, rupaku ki yo pancen koyo ngene. Kit mbiyen yo koyo ngene iki…”

Adit objek prasangka. Prasangka akibat takdir fisiknya. Dia korban dari — ketidakadilan Tuhan (?). Untung waktu itu dia sudah besar, sudah SMA. Gimana dengan Adit-Adit lain yang masih SD, atau bahkan di usia yang lebih kecil lagi? Mungkin Adit-Adit kecil yang entah ada berapa ribu jumlahnya di Indonesia itu cuma bisa menangis, pasrah saja dijauhi teman-temannya, diam saja dipukuli, atau bahkan berakhir mati.

Bisa jadi, kita orang-orang tua yang membentuk watak para ‘kakak-kakak kelas’ itu. Dengan apa? Ya dengan kebiasaan kita sendiri. Kebiasaan untuk berprasangka, menjatuhkan penghakiman, bukan dengan argumen rasional berdasar konsekuensi atas perbuatan-perbuatan, melainkan karena landasan yang penuh ketololan, yaitu penampilan, cara berpakaian, dan yang lebih mengerikan lagi adalah berdasar takdir fisik, satu takdir yang tak terlawan.

Postingan yang saya capture ini contoh menarik, karena membandingkan sosok dua tokoh yang terkait dengan fisik. Tapi saat ini masa rekonsiliasi, dan saya tak ingin berkutat terlalu serius-serius lagi soal Prabowo vs Jokowi. Jadi bukan itu poin saya.

Poin saya sama dengan obrolan tempo hari, tentang betapa mengerikan sebenarnya efek dari pasar fitnah dan kampaye hitam bermodal SARA dalam Pileg dan Pilpres lalu. Ia tak akan berhenti di 22 Juli, atau di bulan Agustus ini, atau di Oktober nanti. Ia akan meresap ke jaringan pembuluh bawah sadar masyarakat Indonesia, merontokkan bangunan kecerdasan yang selama ini sudah mulai tertata, dan akan sulit disembuhkan hingga puluhan tahun lamanya. Bahkan ia bukan sekedar pembodohan, namun lebih jauh lagi, ini adalah penghinaan atas harkat kemanusiaan.

Ketika si empunya akun memposting lelucon dua foto anak-anak ini, yang terjadi sebenarnya lebih mengerikan dari yang kita duga. Bukan lagi tentang cara memandang para capres, melainkan sudah jadi–sadar ataupun tidak–pembiasaan diri kita dalam cara memandang sebuah karakter fisik atau raut wajah.

Mungkin saya lebay. Mungkin saya ketularan para kelas menengah yang hobi meributkan hal-hal sepele. Tapi coba nama ‘Prabowo’ di bawah foto anak lelaki ganteng ini Anda ganti dengan Ricky atau Jimmy. Lalu nama ‘Jokowi’ di sampingnya itu Anda ganti dengan…nama anak Anda sendiri.

_______

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL