Militan di Suriah

Militan di Suriah

Oleh: Ayudia, Blogger

Karena cinta itu, memuliakan. Karena cinta itu, menghadirkan rindu, dan karena rindu menjadikan hati ingin bertemu…

Seorang Muslim manapun, pasti merasakan rindu teramat sangat kepada Rasulullah, sehingga banyak dari mereka yang berdatangan dari seluruh penjuru dunia ke Madinah agar bisa bertamu kepadanya.

Shotussalam, situs media jihad menyampaikan, bahwa kaum Syiah berdatangan dari Iran, Irak, Lebanon, untuk berziarah ke makam para sahabat Nabi di Suriah untuk menyembah makam-makam. Namun saya tidak meyakini demikian. Mereka ke Suriah untuk bertamu, dan berziarah kepada para sahabat Nabi yang mereka cintai dan mereka rindukan.

Lalu, sesuai nubuat Rasulullah, telah datang sebuah kaum yang katanya – membaca Al-Qur’an hanya sampai di kerongkongan. Mereka, konsisten hidup dalam paradoks. Mereka, selalu mengaku mencintai para sahabat Rasululah Saw, namun apakah yang mereka lakukan sesuai dengan klaim cinta mereka?

Hujr Ibn Adi al Kindi adalah salah seorang sahabat dekat Nabi Muhammad Saw. Beliau ra memimpin pasukan Muslim untuk meraih kemenangan dalam beberapa pertempuran penting. Makam beliau, terletak di distrik Adra dekat Damaskus, dimuliakan dan banyak diziarahi kaum muslimin. Lalu, datanglah mereka, para “Penegak Tauhid” yang mengaku mencintai sahabat Nabi ke Suriah. Dengan brutal, mereka merusakkan makam, mengambil jenazahnya dan dibawa ke tempat yang tidak diketahui. Lah, apa salahnya sebuah makam hingga harus dirusak dan dibongkar? Mencintai sahabat kok sambil merusakkan peristirahatan terakhirnya?

Hal serupa juga terjadi pada makam Ammar bin Yasir ra, seorang sahabat nabi yang mulia. Dalam sebuah video yang diunggah di YouTube, tampak seorang militan dari kelompok ISIS dengan bangganya berujar,

“Dengan menyebut nama Allah, semoga keselamatan tercurah untuk Rasulullah…

Dengan rahmat Allah, kami akan meledakkan shrine ini yang terletak di salah satu desa Suriah, agar [manusia] bertauhid…”

Lantas mereka bertakbir, dan dentuman bom pun meledak dahsyat…

[Saksikan video di sini]

Inilah cinta yang janggal. Mencintai tapi menghancurkan. Tentang cara-cara yang mereka tempuh untuk menegakkan tauhid jika ditinjau dari Al-Qur’an dan hadist, dengan menghancurkan tempat-tempat bersejarah – saya bukan ahlinya, namun dalam tradisi masyarakat Indonesia, berziarah ke makam bukanlah hal yang baru. Berziarah ke makam tidak lantas berarti menyembah makam, tidaklah lantas menduakan Allah. Hal ini pun telah banyak dibahas oleh para alim ulama, dan sebagian besar mempersilahkan kaum muslimin untuk berziarah dan berdo’a di makam.

Justru ketika “Penegak Tauhid” ini dengan begitu ringan menghancurkan warisan bersejarah, mengingatkan saya kepada sebuah wasiat yang disampaikan oleh seorang panglima perang bangsa China tentang strategi menghancurkan sebuah bangsa. Sun Tzu berpesan, “…untuk mengalahkan bangsa yang besar tidak dengan mengirimkan pasukan perang, tetapi dengan cara menghapus pengetahuan mereka atas kejayaan para leluhurnya, maka mereka akan hancur dengan sendirinya…” (The Art of War)

Apakah mereka para jihadis tengah berusaha menghancurkan Suriah? Mari kita telusuri bersama. Pada bulan November 2013, Tentara Elektronik Suriah (Syrian Electronic Army – SEA) dalam sebuah serangannya berhasil meretas email dan akun Facebook Matthew van Dyke, agen lapangan Amerika Serikat yang berpura-pura menjadi jurnalis di Suriah. Percakapan pribadi Matthew van Dyke yang berhasil dihimpun oleh SEA mengungkap beberapa informasi sebagai berikut:

1. Mayoritas warga Suriah menentang pemberontakan dan terorisme.

2. Barat, pemberontak Suriah dan Al-Qaeda berkolaborasi.

3. Oposisi menggunakan senjata kimia.

Penolakan rakyat Suriah terhadap terorisme di negaranya, adalah hal yang sangat rasional. Rakyat manakah yang ridho hidup dalam bayangan ketakutan setiap hari? Rakyat manakah yang tenang melihat begitu mudah kepala terlepas dari badannya? Atau melihat mayat-mayat bergelimpangan setiap harinya – tanpa tahu kapan akan berakhir?

Pun ketika NATO mengadakan survey untuk mengetahui “isi hati” rakyat Suriah, hasilnya mencengangkan. Seperti yang dilansir democraticunderground.com, 70% rakyat Suriah berpihak kepada Bashar al-Assad, bukan kepada pemberontak yang didukung negara-negara asing.

Poin kedua, bahwasanya negara-negara Barat, pemberontak Suriah (yang lebih “moderat”) dan Al-Qaeda berkolaborasi, adalah petunjuk yang terang benderang. Para militan yang tengah bertempur di Suriah, baik dari kelopok yang lebih moderat maupun ektremis [dan faktanya hampir semua kelompok jihadis memiliki style serupa: horor], merupakan tunggangan dari negara-negara Barat untuk menghancurkan Suriah, dan berupaya menghancurkan kejayaan Islam – namun tanpa mengotori tangannya sendiri. Ulama-ulama dibunuhi, masjid-masjid dihancurkan, warisan sejarah dimusnahkan, pada akhirnya, Suriah akan kehilangan identitasnya.

Ya, militan Takfiri yang mengaku “Penegak Tauhid” ini hanyalah perpanjangan tangan, dari musuh-musuh Islam dan kemanusian, untuk mewujudkan rencana besar mereka, The New World Order.

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL