CW

Foto:www.juancole.com

Oleh: Haerul Ali, Blogger

Secara kebetulan saya  menemukan web atau halaman yang dilengkapi dengan gambar suatu peristiwa yang pernah terjadi di Mesir dan mungkin sudah basi, seperti yang dipaparkan oleh web ini , bukan masalah basi-nya suatu berita yang hendak ditulis di sini, namun mencoba mengaktifkan pikiran yang seimbang atau dengan kata lain ber-tabbayun, anggaplah ini adalah pola belajar melihat suatu berita. Ya, tentu saja saya awam mengenai masalah Mesir a sampai z, yang menarik bagi saya adalah foto dari web itu, dan satu hal bahwa apa yang terjadi sekarang atau peristiwa yang terjadi sekarang adalah sebab dari peristiwa yang terjadi dulu, dulu-sekarang-dan menuju masa depan, maka kehidupan masa depan Mesir bisa ditentukan dari kehidupan masa sekarang, masa sekarang Mesir ini sebab dari masa yang lalu. Bukankah ini disebut sunnatullah? Dan lagi-lagi bagi orang yang berpikir tentu tak luput dari pengkhayatan ini (tafakkur).

Halaman yang berbahasa Inggris itu, yang dapat saya tangkap meski Bahasa Inggris saya belum terlalu bagus adalah seorang ibu yang marah akibat disodorkan kata makian, mungkin dalam bahasa “gaul” berangkali seperti ini “Oee…pakai kerudung…pelacur!” Tentu saja ini sangat kasar, atau saya salah tangkap? Sementara dalam foto sangat jelas aksi yang terjadi, dalam halaman web itu tertulis “Cover your face you harlot!”.

Sempat saya berpikir dan mencoba mencermatinya, andaikan ada dalam bentuk video mungkin bisa terlihat jelas peristiwa yang terjadi, apa benar orang yang memakai kopiah putih dan berjenggot itu dan memakai gamis mengucapkan kalimat itu? Dan paham makna dan sangat jelas diucapkannya? Dan ekspresi wajahnya saat mengucapkan kalimat itu begitu antusias atau seperti apa? Kalau yang terlihat dalam gambar adalah sepatu sudah mendarat di sisi wajah lelaki itu.

Kalaupun ada dalam bentuk video, saya pun masih berpikir dan mengamatinya, apa benar peristiwa itu terjadi tanpa skenario atau orang-orang dalam video itu mungkin sedang melakukan aksi teater? Disinilah sangat perlu mencermati berbagai hal, apalagi seseorang jauh ribuan kilometer dari tempat kejadian.

Atau mungkin saat peristiwa itu terjadi atau peristiwa di Mesir kala itu, ada beberapa “pemain teater” yang melakukan aksi dengan serentetan beberapa media meliputnya atau dengan kata lain setingan telah dilakukan dengan rapi dan baik. Sehingga terkesan memojokkan salah satu kelompok. Mungkin saja kan?

Baiklah, itu sekelumit dari cara berpikir dan menyikapi dari setiap hal peristiwa yang belum sangat jelas, karena belum jelas maka setidaknya kaidah umum arti “kejelasan” bisa ditarik sehingga bisa menyikapinya secara proporsional (ini menurut apa yang saya pahami saat ini), sehubungan peristiwa pada gambar di atas, maka bisa diambil point-pointnya yaitu :

Bahwa agama apapun itu tidak mengajarkan mengucapkan kata-kata kotor, mengucapkan saja sudah tercela apalagi menerapkan cara-cara kotor dalam setiap bidang kehidupan, misalnya politik. Namun sayangnya, seberapa besar orang-orang yang bergelut dalam politik menggunakan cara-cara yang tidak kotor?

Mengucapkan kata-kata kotor bisa juga terjadi dalam sesi perdebatan, maka tujuan dari dialog dan berdebat menjadi hilang, bukankah debat itu awalnya bersifat positif? Demi menemukan suatu kebenaran dengan cara berpikir benar? Namun kadang karena begitu sulitnya atau alotnya argumen-argumen sehingga salah satu pihak meski tidak menggunakan kata yang “kotor” namun terkesan “kasar”, sehingga masing-masing individu beda memahami antara debat dan marah-marah atau kesal, itu bisa saja terjadi, seperti yang pernah saya alami dalam grup Whatsapp beberapa waktu lalu. Semoga itu semua adalah bagian dari menjalani kedewasaan mental dan motivasi dalam merangkai cara berpikir benar serta solid dalam cita-cita yang luhur.

Dalam menjalani suatu keyakinan, arogansi bahkan pemaksaan suatu keyakinan bukanlah substansi atau hakikat dari agama atau keyakinan itu, maka memaksakan suatu keyakinan bukan keyakinan itu sendiri, namun adalah tindakan agresi terhadap persepsi individu kepada individu lain, misalnya saja dalam foto itu jika memang benar-benar terjadi maka seseorang telah melakukan agresi namun akibatnya ada perlawan berupa sepatu melayang ke wajah. Tindakan memaksakan suatu keyakinan sementara keyakinan dalam benak manusia bukanlah keyakinan mutlak, maka tentu saja akan menimbulkan konflik, jika nalar enggan diaktifkan dengan baik maka chaos begitu mudahnya tersulut atau terjadi. Dari konflik “keyakinan persepsi” yang menjadi semrawut akan menjalar ke ranah yang lebih jauh, ribuan nyawa telah melayang akibat cara berpikir yang “menyimpang” dari fitrah, atau karena arogansi, kesombongan, ego keyakinan telah mengantarkan peradaban manusia semakin “hitam pekat”, entahlah bagaimana nasib bumi ini ke depannya akibat dipicu oleh arogansi keyakinan atau teman menyebutnya radikal.

Dan yang terakhir yang bisa saya tulis di sini adalah; Bagaimana pun gencarnya suatu informasi, sebelum meng-abstraksinya maka pikiran jernih perlu menjadi pijakan awal sebelum menganalisa lebih jauh, atau mendengar, melihat bahkan mencium segala sesuatu, akal atau pikiran bersih perlu menjadi alat timbangan sebelum masuk ke tataran berikutnya.

 

————–

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL