before-afterOleh: Anton DH Nugrahanto

Inilah kondisi Suriah sebelum  Amerika Serikat dateng ke Suriah dan membantu pemberontak lalu menciptakan propaganda dengan membuat permusuhan Sunni dan Syiah. Sebelum AS, sekutunya, dan pasukan bayaran internasional mengobrak abrik Suriah, negeri ini adalah negeri yang tenang, makmur dan berdaulat.

Hanya karena Assad menolak tunduk dengan Amerika dan dituduh maen mata dengan Iran, maka dibuatlah kekacauan dan permusuhan. Sejarah kita tidak asing dengan ini, di tahun 1965 Bung Karno dikerjain oleh intel intel asing, tapi Bung Karno memang rela mundur walau dihinakan tapi Bung Besar kita itu tak ingin bangsa ini porak poranda ia rela tubuhnya sakit dan gagal ginjal demi sebuah bangsa yang disatukannya, dan Suharto bermain halus sehingga tidak ada intervensi asing seperti Vietnam, tapi kerugiannya sampai 40 tahun ke depan negeri ini seperti pengemis di depan Amerika dan tidak ada lagi kehormatan kecuali kita berdiri tegak kembali pada rel sejarah.

Untuk Presiden Jokowi, soal Suriah ini adalah persoalan dialektika internasional yang bisa berakibat pada kekacauan bangsa ini bila tidak diantisipasi, gerakkanlah menteri menterimu, barisan intelijenmu dan bersikap tegaslah dengan landasan konstitusi yang sudah kita sepakati: Pancasila dan UUD 1945.

Sedikit mulai sedikit sudah banyak propagandis propagandis yang menyebarkan konflik ini itu di Indonesia. Bashar Assad yang namanya tak pernah disebut sekarang seperti setan terkutuk, dulu nama Iran dijadikan keberanian Islam menantang Amerika, oleh media-media bayaran Saudi kini dijadikan “Setan Besar”, isu Palestina merdeka sontak hilang menjadi isu yang menghantam Syiah dan Iran. Padahal tujuan AS dan sekutunya itu hanya ingin merebut selat Hormuz dan menjadikan Timur Tengah mutlak di tangan AS dan sekutunya. Lalu para intelijen media mereka mengembangkan opini Syiah adalah musuh bersama, politik stigma ini memang mengerikan, dan bangsa kita sudah merasakannya sepanjang Orde Baru berkuasa.

Sementara kekuatan dunia lain bangkit, RRC, Rusia dan India. Rusia menghalangi proyek Arab Spring, dimana AS mempersenjatai pemberontak-pemberontak seperti di Libya, Mesir dan Suriah. Libya paling parah, di masa Khadaffi adalah negara kaya raya, kini hancur sudah.

Barisan Nasionalis harus waspada politik pecah belah ala Suriah ini, dan Polisi jangan diam saja melihat keributan propaganda mereka, sudah saatnya intelijen bekerja serius agar jangan sampai propaganda di media online berubah jadi propaganda bersenjata.

Hindari bangsa kita menerima informasi informasi permusuhan, perkuat persatuan nasional agar Republik kita tidak “di-Suriah-kan”…

Dari Penderitaan akhir hidup Bung Karno, kita belajar bagaimana bangsa ini harus terus bersatu.

——-

Artikel ini disalin dari tulisan Anton DH Nugrahanto di akun Facebook-nya.

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL