Foto: Globalresearch.ca

Foto: Globalresearch.ca

Oleh: M Alfian Aulia Syahrani, Mahasiswa  UIN  Sunan Kalijaga Yogyakarta

Di antara persoalan sebuah negara, salah satu pembahasan yang paling penting ialah permasalahan tentang gerakan terorisme. Pada kesempatan ini, tidak ada salahnya jika kita mengkaji persoalan teroris dan terorisme ini melalui berbagai macam sudut pandang, melalui sebuah analisa yang mendalam, serta melihat benang merah dari setiap gerakan terorisme yang hingga hari ini menjadi masalah terbesar dalam kehidupan umat manusia terutama yang terjadi pada negara Dunia Ketiga (negara mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam). Salah satunya adalah gerakan terorisme yang sedang melanda Suriah.

Para pakar, banyak memberikan definisi mengenai pengertian teroris maupun terorisme. Beberapa di antara mereka mendifinisikan teroris sebagai sebuah tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan motif tertentu, dimana kegiatan tersebut dilakukan dengan dalih politik maupun politik yang dibalut dengan agama. Sedangkan terorisme adalah sebuah paham yang berkaitan dengan ideologi seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu. Hanya saja, dalam memberikan label, apakah seseorang atau sekelompok orang dapat dikatakan sebagai seorang teroris atau pahlawan? Bagaimana teroris ini dapat berkembang? Dan apa dampak dari kegiatan atau tindakan terorisme ini bagi kelangsungan hidup sebuah bangsa atau negara yang tengah dilanda penjajahan oleh para teroris seperti yang terjadi hari ini di Suriah?

Untuk menjawab beberapa pertanyaan tersebut, terlebih dahulu, saya ingin mengajukan pandangan saya perihal siapakah yang dimaksud dengan teroris yang sedang beraksi di Suriah.

Dalam hal ini, saya membaginya menjadi beberapa bagian sesuai dengan level atau tingkatannya.

Pertama, teroris induk. Ada beragam pengertian yang akan kita peroleh manakala menggunakan kata induk. Tetapi, pada umumnya, kata induk seringkali digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang bersifat terbesar, tertinggi, maupun terkuat. Konflik Suriah adalah sebuah konflik yang menjadi arena pertaruhan dua negara adidaya yaitu, Rusia dan Amerika Serikat. Kedua negara ini ingin memiliki pengaruh yang besar di kawasan jalur sutera, sebuah jalur yang sangat strategis apabila di lihat dari kepentingan minyak dan gas bumi.

Konflik Suriah tidak hanya melibatkan satu, dua, atau tiga buah negara. Tidak berhenti pada Rusia dan Amerika Serikat. Konflik Suriah melibatkan banyak negara dan mengundang banyak teroris yang datang dari berbagai macam negara. Disadari atau tidak, pemerintah Suriah yang bersekutu dengan Rusia, Iran, maupun negara sekutu lainnya yang tengah berjuang melawan para teroris bayaran yang didanai dan disuplai oleh berbagai macam senjata sepenuhnya oleh Amerika Serikat, Israel, Saudi Arabia, Qatar, dan negara-negara lainnya yang bertujuan untuk meneror bangsa Suriah dikarenakan rezim yang berkuasa enggan untuk tunduk pada keinginan Israel dan Amerika Serikat.

Setiap kali orang awam menghadapi persoalan yang berhubungan dengan konflik Suriah, banyak di antara mereka yang langsung terjebak dalam propoganda sesat yang sering diberitakan oleh banyak media, bahwa konflik yang sedang terjadi di Suriah adalah konflik antara Sunni dengan Syiah, sebuah konflik yang menceritakan atau menggambarkan tentang bagaimana orang-orang Sunni di Suriah dibantai oleh pemerintahan Bashar Al-Assad. Konflik Suriah seolah-olah telah dibentuk sedemikian rupa, sehingga banyak orang akan menyimpulkan bahwa Bashar Al-Assad adalah sosok presiden yang haus darah dan membantai rakyat Sunni secara membabi buta. Hal itu dikarenakan pengaruh media yang sangat besar. Sirus-situ berita besar dunia seperti CNN, BBC, FOX, Al-Jazeera serta situs-situs yang berkedok “Islam” yang menyeret opini publik pada ranah yang keliru. Media-media besar di dunia, banyak digerakkan oleh teroris induk ini. Dengan menyebarkan propoganda sesat, kebohongan, serta pembunuhan karakter, media-media yang secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan Amerika Serikat semakin menguatkan tuduhan bahwa Amerika Serikat dan sekutunya sebagai pelaku utama gerakan terorisme.

Amerika Serikat, dengan segala jaringan, dana, dan media-media yang terkait dengannya, menjadi sponsor utama gerakan terorisme di Suriah. Selain itu, negara-negara di bawahnya, seperti Qatar, Turki, dan Saudi Arabia juga bergerak atas instruksi Amerika Serikat, dengan menggunakan media, mereka hendak membentuk opini masyarakat dunia.

Posisi Amerika Serikat sebagai teroris induk, yang juga dipengaruhi oleh lobi-lobi Zionis yang menjadikan Amerika Serikat sebagai sebuah negara yang harus mati-matian mendanai serta mempersenjatai para terorisnya yang mengatasnamakan diri mereka berjihad di jalan Allah. Perlu digarisbawahi bahwa Yahudi dan Zionis sangatlah berbeda. Tidak semua orang Yahudi menginginkan tumpahnya darah umat Islam, seperti yang dikampanyekan oleh organisasi Yahudi, Naturei Karta. Namun, Zionis, berbanding terbalik dengan Naturei Karta. Zionis adalah sebuah organisasi terlarang yang anggotanya tidak hanya datang dari Yahudi, namun, anggotanya juga datang dari Islam dan Kristen. Umumnya, para pemimpin negara-negara di Timur Tengah banyak menjadi anggota organisasi terlarang ini, tentunya dinaungi oleh induknya, yaitu Amerika Serikat.

Kedua, teroris intelektual. Kehidupan umat manusia tidak akan pernah bisa lepas dari peran seorang intelektual. Intelektual adalah mereka yang bergulat pada dunia akademik, yang dengan ilmu dan kemampuannya akan mencerdaskan masyarakat. Para intelektual ini diharapkan mampu untuk mengangkat kesadaran masyarakat.

Bagi kebanyakan orang, intelektual adalah mereka yang sangat dipercaya oleh masyarakat. Masyarakat akan percaya pada mereka. Masyarakat menaruh harapan pada sosok intelektual, yang mereka anggap sebagai sosok yang akan membawa mereka pada sebuah kesadaran, baik itu menyangkut duniawi maupun akhirat.

Tetapi, apa jadinya jika para “intelektual” ini mengkhianati ilmunya serta menyeret masyarakat awam untuk menjalankan kepentingannya? Yang tega membodohi masyarakat awam dengan ilmunya? Yang menyembunyikan kebenaran demi kepentingannya?

Dunia adalah tempat bagi umat manusia untuk mengabdi pada kebenaran. Seandainya kebenaran-kebenaran dapat diyakini dan dilaksanakan, nicscaya tidak akan ada perang, fitnah, dan konflik-konflik lainnya. Pada dasarnya, manusia adalah makhluk yang sadar akan nilai-nilai kebenaran. Namun, uang dan kepentingan merubah segalanya.

Dalam konflik Suriah, kita tidak melihat pemikir maupun pandangan filosofis. Revolusi Suriah dilaksanakan tanpa pandangan yang jelas. Di Suriah, kita tidak melihat tokoh pemikir yang menginspirasi terjadinya revolusi. Kita juga tidak melihat ulama Sunni yang menentang Bashar Al-Assad. Dan tidak pula melihat intelektual meyerukan revolusi. Namun, revolusi Suriah, bergema dari luar Suriah. Isu Sunni-Syiah, banyak dibicarakan oleh para “intelektual” teroris yang secara tidak langsung ambil bagian dalam konflik berkepanjangan yang tengah terjadi di Suriah. Yusuf Qardhawi, Yunahar Ilyas, Baharun Muhammad, dan lainnya tiada henti menyuarakan permusuhan terhadap mereka yang dituduh sebagai seorang Syiah. Siapapun itu, yang tidak sejalan dengan pemikiran mereka, arah politik, serta dianggap mengancam kepentingan mereka, dengan mudah dilabeli sebagai seorang Syiah yang harus disingkirkan. Pengelihatan, hati nurani, pendengaran, seakan-akan tak berarti. Dengan menggunakan ilmunya, dengan label doktornya, mereka melakukan gerakan “terorisme” intelektual. Menyulut api kebencian antar mazhab, menghindari persatuan, membodohi masyarakat, adalah sebuah jihad bagi mereka. Mereka, dan kelompok politiknya, dengan rutin menulis, mengadakan seminar, mencuci otak mahasiswa dan masyarakat awam. Semua demi kepentingan. Manusia semacam ini, mungkin menganggap dirinya berada di posisi yang benar, mengetahui atau tidak, mereka berada diposisi yang mana gerakan mereka sejalan dengan Amerika Serikat, para pedagang agama, dan Zionis.

Suatu ketika, salah seorang teman mengajak saya untuk mengikuti seminar. Sebuah seminar yang dihadiri oleh para mahasiswa dan masyarakat. Dalam seminar tersebut, membicarakan tentang penyimpangan Syiah dan bagaimana kita menyikapinya. Tak hanya itu, konflik Suriah pun menjadi salah satu pembahasan. Para “inteletual” teroris tersebut, dengan lantang meyuarakan kebencian pada Syiah. Syiah sebagai tertuduh utama dalam konflik Suriah. Dengan seni berbohong yang tinggi, mereka menggambarkan bahwa Syiah adalah ancaman terbesar bagi Indonesia dan umat Islam. Pendeknya, Syiah harus dihabisi.

 

Bersambung ke bagian kedua

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL