Foto: Globalresearch.ca

Foto: Globalresearch.ca

Oleh: M Alfian Aulia Syahrani, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Ketiga, teroris ulama. Bagaimanapun, kita harus membedakan peran seorang “ulama” dengan seorang “intelektual”. Sekiranya kita mau mengkaji persoalan mengenai teroris ulama ini, kita akan melihat bagaimana ulama yang sekalipun ia hafal 30 Juzz al-Qur’an dan handal dalam ceramah-ceramah serta teori-teori kebaikan, dapat berubah menjadi sosok pembohong atas nama agama dan jihad palsu, karena, semua itu bukanlah jaminan. Belakangan ini, banyak ulama teroris yang mempromosikan gerakan terorisme atas nama Islam. Jihad, yang salah diartikan oleh banyak ulama dari seluruh penjuru dunia, menjadi wabah yang sangat berbahaya. Kita tidak sedang berada dalam posisi anti-jihad. Namun, kita menitikberatkan pada sasaran jihad itu sendiri. Dalam konflik Suriah, jihad yang dilakukan adalah membunuh mereka yang masih mengakui Allah sebagai Tuhan Yang Esa, mengakui Muhammad SAW sebagai utusan terakhir, dan tentunya membunuh mereka yang tidak sejalan dengan paham mereka. Semua itu terjadi karena adanya proses atau gerakan terorisme yang dilakukan oleh para ulama teroris, yang dengan tega mencuci otak masyarakat awam.

Mungkin, kita akan bertanya, mengapa hal semacam ini bisa terjadi? Mengapa dengan hafalan ayat suci yang sedemikian banyak, para ulama teroris ini bisa melakukan hal semacam ini? Adakah yang salah dengan mereka?

Salah satu kekeliruan yang terjadi adalah minimnya pemahaman. Dalam konflik Suriah, konflik Sunni-Syiah adalah “magnet” yang mampu mendatangkan ribuan orang dari berbagai negara. Mereka yang datang, kebanyakan diisi oleh orang-orang yang datang akibat dari hasil cuci otak ulama teroris di negara mereka. Dalam hal ini, setidaknya terdapat beberapa alasan utama mengapa ulama teroris dan para teroris awam ini mengatasnamakan diri mereka berjihad.

Kesadaran politik setiap mazhab dalam Islam tentunya berbeda-beda. Kita tidak bisa menyamakan kesadaran politik antara Syiah dengan Wahabi, atau antara Sunni dengan Wahabi. Syiah dan Sunni adalah kelompok dalam Islam yang memberikan warna dalam khazanah keilmuan Islam. Para ulama Syiah maupun Sunni banyak memberikan perhatian lebih pada dunia politik dan hubungan internasional. Meskipun hari ini kita melihat cukup banyak ulama yang tidak paham dengan politik dan hubungan internasional, tetapi, setidaknya, masih banyak pula ulama yang memahami politik dan hubungan internasional.

Sifat bijaksana, adalah salah satu sifat yang memungkinkan kita adil dalam memberikan penilaian terhadap sesuatu yang tengah kita amati. Pada umumnya, banyak orang yang beranggapan bahwa konflik Suriah adalah konflik antara Sunni melawan Syiah. Tetapi, orang-orang yang masih beranggapan semacam ini, tidak mengamati siapa yang pergi ke Suriah? Siapa ulama yang menyerukan jihad ke Suriah? Tidak lain adalah kelompok Wahabi yang mengatasnamakan diri mereka Sunni.

Teroris ulama ini, di beberapa negara, termasuk Indonesia, gencar merengek dukungan untuk mendulang dukungan dari masyarakat awam. Para teroris ulama yang tidak paham politik global serta hubungan internasioanal ini, tidak mempelajari konflik Suriah melalui berbagai macam sudut pandang. Nilai-nilai kekritisan dalam berfikir tidak hidup. Mereka sibuk mengkaji melalui sudut pandang Wahabi. Para ulama teroris ini tengah mencoba untuk “mewahabikan” Islam. Bagi mereka, siapapun yang tidak sejalan dengan paham mereka, bersiaplah untuk dipenggal kepalanya, direbus kepalanya, bahkan di makan hatinya.

Keempat, teroris awam.Dari sekian jumlah kelompok teroris yang sudah kami paparkan. Kelompok teroris awam adalah kelompok yang memiliki kelas paling rendah, namun memiliki peran yang sangat besar di lapangan. Artinya, secara langsung, kelompok ini adalah orang-orang yang menjalankan gerakan terorisme induk, terorisme intelektual, dan terorisme ulama. Jika teroris induk menyediakan dana dan senjata, teroris intelektual mencuci otak melalui kebohongan, dan teroris ulama menawarkan jihad serta iming-iming surga untuk menjalankan kepentingan mereka. Maka, teroris awam adalah pemain di lapangan. Para teroris awam ini tidak akan menyadari atas dasar apa mereka berperang, dengan tujuan apa mereka berperang, serta siapa yang diuntungkan dari pengorbanan yang mereka lakukan. Mereka hanya sibuk pada iming-iming surga dan bidadari. Bermodalkan teriakan takbir, mereka merasa sedang membela hak asasi Allah.

Dengan kata lain, tujuan mereka adalah syurga dan bidadari-bidadari. Tujuan akhir mereka adalah agar Allah memasukkan mereka ke dalam syurga. Cita-cita semacam ini lahir karena hasil dari pencucian otak. Semua gerakan, baik itu pemenggalan kepala atau sebagainya dilakukan karena hasil dari pencucian otak. Para teroris awam ini menjelma menjadi teroris yng mengerikan, yang menghancurkan masa depan Suriah. Menghancurkan mimpi-mimpi anak-anak yang ingin menjadi dokter, pilot, maupun perawat.

Dorongan untuk memberikan label tergantung pada kepentingan seseorang atau sekelompok orang. Orang-orang yang meyerukan bahwa mereka yang tengah “berjihad” di Suriah adalah mujahidin, dikarenakan kesamaan ideologi maupun kepentingan mereka. Disadari atau tidak, jihad yang mereka kumandangkan adalah jihad membunuh orang tak bersalah, menjadikan anak-anak sebagai temeng perang, menghancurkan masjid, gereja, dan masa depan Suriah. Gerakan terorisme berkembang melalui kepentingan. Dalam kasus Suriah, kepentingan para teroris adalah menyeret Suriah memiliki hutang luar negeri, mengendalikan minyak dan gas bumi Suriah, serta menyusun peta pipa minyak. Hanya saja, jihad atas nama agama dan mazhab menjadi hal yang seksi dalam kasus Suriah.

Semua pilihan ada pada kita. Apakah kita berpihak pada jihad minyak dan gas bumi. Jihad atas nama agama, pendirian khilafah, atau jihad sex.

Atau mungkin, kita berpihak pada jihad menegakkan perdamaian umat beragama di Suriah, persatuan Sunni-Syiah, dan menyertai masa depan anak-anak dan cita-cita bangsa Suriah.

Setiap penganut agama sejati, setiap individu beriman dari setiap bangsa, kapanpun, dan di manapun, senantiasa berada di belakang Suriah. Mereka hadir untuk menyuarakan kebenaran. Mereka hadir untuk menentang penindasan dan penjajahan. Hugo Chavez, Evo Morales, Vladimir Putin, Mahmoud Ahmadinejad, S.H Nasrullah, Sayyid Ali Khamenei, dan lainnya, menyuarakan kebenaran tanpa terikat oleh perbedaan agama, suku, maupun bangsa.

 

 

——————

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL