imam-khomeiniOleh: Alfathri Adlin

Bagi generasi sekarang yang tidak banyak mengetahui tentang Uni Soviet, Uni Soviet adalah kekuatan utama di dunia sebagai lawan dari Amerika Serikat pada saat itu. Pada tahun 1991, negara ini telah terpecah menjadi beberepa negara, di mana salah satu pecahannya adalah negara Rusia. Surat ini menjadi rujukan dari berbagai tulisan ilmiah, tesis, artikel internasional, terutama di bidang Political Science dan Islam Modern. Islam adalah rahmatan lil ‘aalamiin.

Ini salah satu potongan paragraf surat tersebut yang mengajak Presiden Soviet, belajar Islam, “Yang Mulia Tuan Gorbachev, ketika seruan “Allah Maha Besar” dan pernyataan kesaksian akan kerasulan Nabi terakhir SAW, terdengar kembali setelah tujuh puluh tahun dari menara-menara mesjid pada sebagian Republik Soviet, bergetarlah hati seluruh pengikut sejati Islam yang dibawa Muhammad SAW. Karena itu, saya merasa perlu menyebutkan hal ini kepada Anda agar Anda sekali lagi mempertimbangkan pandangan dunia materialis maupun ilahi.”

Bagi yang membaca dan tahu sejarah, kalaupun tidak suka dengan Iran, pasti tidak akan sampai hati untuk menfitnahnya, apalagi dengan fitnah yang keji. Setelah memposting tentang surat Ayatullah Khamenei tentang bom Paris, ada seorang teman yang memberi tahu bahwa dulu, Ayatullah Khomeini pernah berkirim surat pula ke Presiden Uni Soviet. Karena penasaran apa isinya, saya langsung mencari-cari informasinya, dan ketemu isi surat tersebut dan juga videonya. Saya jadi makin jatuh hati dengan negara ini. Bagi saya, negara Iran, adalah negeri yang punya marwah, berani ke Amerika Serikat, berani pula ke Uni Soviet.

Ketika memutar video ini saya terharu, dalam salah satu momen yang dramatis, dalam keadaan sakit Ayatullah Khomeini menemui utusan Uni Soviet. Karena tidak menerima saran Khomeini, beliau meninggalkan ruanganmelangkah tanpa menatap Menlu Soviet, membuat utusan Uni Soviet terbengong-bengong walaupun sudah berusaha memberi hormat ke Ayatullah Khomeini.

Setelah Perang Teluk berakhir tahun 1988, di awal tahun 1989, Pemimpin Spiritual Iran saat itu, Ayatullah Khomeini mengirim surat kepada Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev, presiden terakhir Uni Soviet. Negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat sangat penasaran isi dari surat tersebut. Mereka mengira pasti Iran akan menggalang kerja sama atau meminta bantuan ke Uni Soviet. Pihak Uni Soviet pun bahkan mempunyai pemikiran yang sama. Tapi ternyata tidak, Ayatullah Khomeini berbicara panjang lebar tentang kekurangan ajaran Marxisme, dan mengajak presiden untuk mempelajari Islam.

Dua bulan kemudian utusan Uni Soviet menyampaikan balasan Uni Soviet, yang intinya tidak bisa mempelajari Islam. Dua tahun setelahnya Uni Soviet runtuh. Di bawah ini adalah rentetan peristiwa sebelum dan sesudah pengiriman surat di atas.

Akhir tahun 1988: Perang Teluk antara Iran dan Irak yang dibantu Amerika Serikat berakhir.

1 Januari 1989, Ayatullah Khomeini menulis surat kepada Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev.

3 Januari 1989, utusan Iran datang ke Moskow untuk menyampaikan surat Ayatullah Khomeini kepada Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev.

Februari 1989, Ayatullah Khomeini menjatuhkan fatwa hukuman mati bagi penulis India berkebangsaan Inggris, Salman Rusdhie, penulis buku “Ayat-ayat Setan” yang telah menghina Nabi Muhammad SAW. Sebagai reaksi atas fatwa ini, beberapa kedubes negara Barat menarik diplomatnya dari Teheran.

Maret 1989, surat Ayatullah Khomeini, dibalas Presiden Gorbachev delapan minggu kemudian dengan mengutus Edward Shevardnadze, Menteri Luar Negeri Uni Soviet, untuk bertemu Imam Khomeini di Tehran.

Maret 1989, diplomatik-diplomat negera Barat kembali dengan sendirinya ke Teheran.

3 Juni 1989, Ayatullah Khomeini wafat.

Desember 1991, Mikail Gorbachev mengumumkan pembubaran Uni Soviet atau dua tahun setelah ia menerima surat dari Pemimpin Revolusi Islam Iran.

Berikut ini, isi surat lengkapnya…

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL