Oleh: M. Fanaei Eshkevari*

eshkvariCitra Islam di kalangan masyarakat Barat sangat berbeda dengan realitas Islam yang sesungguhnya. Bisa dikatakan bahwa situasi seperti ini adalah hasil dari usaha kaum ‘Salibis’. Mereka adalah anak-anak ideologis dari kelompok yang dulu pernah menggelar Perang Salib yang berlangsung selama 200 tahun. Sama seperti para pendahulunya, mereka senantiasa memandang Islam sebagai sebuah ancaman dan selalu mengkhawatirkan penyebaran agama ini di seantero Eropa. Mereka lalu melakukan banyak hal untuk melawan Islam.

Salah satu usaha mereka adalah menunjukkan wajah yang kasar dan irasional tentang Islam. Mereka telah menulis banyak buku untuk mencoreng kemuliaan Rasulullah SAW. Perhatikan, bagaimana ketika terjadi pembakaran Al-Quran yang dilakukan oleh seorang pendeta gila Amerika. Aksi yang sangat menjijikkan itu malah memperoleh dukungan dari gerakan Salibis dan Zionis.

Negara-negara imperialis dunia tidak segan-segan melakukan aksi dan tindakan apapun untuk mencoreng wajah Islam dan menciptakan kebencian terhadap kaum Muslimin. Mereka canangkan beragam program karikatur dan film yang isinya berupa penghinaan kepada Rasulullah SAW. Di sisi lain, mereka memunculkan tingkah laku aliran Wahabi yang kolot dan kelompok-kelompok teroris sebagai representasi agama Islam. Padahal, kelompok-kelompok itu adalah kaki tangan mereka sendiri.

Baratlah yang sebenarnya menjadi tuan bagi kelompok-kelompok teroris tolol yang melakukan segala bentuk kejahatan dan dengan mudahnya menyembelih kepala orang di Suriah dan Iraq; lalu, tanpa malu, para syaikh Arab memberikan dukungan kepada perilaku menjijikkan tersebut. Tangan-tangan Barat berada di balik kejahatan kelompok teroris di Nigeria yang menyandera anak-anak gadis tak berdosa. Lalu, Barat melahirkan para karikaturis di Denmark dan Prancis yang berani menghina Rasulullah SAW. Mereka mendanai penerbitan semua karikatur ini dalam oplah jutaan eksemplar, dengan alasan konyol kebebasan berpendapat.

Semua itu lantas menciptakan stigma yang sangat buruk terhadap agama Islam, khususnya di kalangan para pemuda Barat. Islam dalam pandangan para pemuda Barat tak lebih dari citra buruk yang sebenarnya hanyalah kombinasi rekaan propaganda para pemuja setan, Salibis, Zionis, imperialis, dan teroris. Ketika disebut nama Islam, citra yang muncul pada generasi muda Barat adalah agama yang anti logika, keras, terbelakang, anti peradaban, anti etika, anti kemanusiaan, dan `menjijikkan`.

Ketika Islam dan kaum Muslimin memiliki citra yang sangat buruk seperti itu, seluruh kejahatan yang dilakukan oleh Israel dan penjajahan yang dilakukan oleh Amerika dan para sekutunya atas negeri-negeri Muslim, dengan mudah memperoleh justifikasi dan dukungan, bahkan dari para pemuda. Artinya, jika masyarakat Barat tidak memiliki gambaran semacam ini tentang Islam, niscaya segala macam kejahatan Barat tidak mungkin dengan mudahnya bisa ditolerir.

Di sini, media memainkan peranan yang sangat penting. Media-media Baratlah yang paling berperan dalam menciptakan opini publik. Media yang seharusnya bersifat netral dan hanya menyampaikan fakta ternyata telah jauh menyimpang. Di belakang layar, media Barat sebenarnya bekerja sama sepenuhnya dengan segala macam agenda negara-negara imperialis.

Hollywood dan NATO juga memainkan peran masing-masing untuk satu proyek. Salah satu memegang kendali “perang-kasar” dan satu lagi mengendalikan “perang-lunak”. Embargo ekonomi, ancaman dan serangan militer, dan serangan budaya adalah satu paket yang saling melengkapi dan berjalan seimbang.

Kondisinya memang sangat buruk. Dunia sudah terperangkap ke dalam sihir media. Dalam kondisi seperti ini, diperlukan sebuah tindakan dan aksi untuk menyadarkan opini masyarakat dunia. Jika sihir media bisa dikalahkan, maka musuh akan kalah dari dalam diri mereka sendiri.

Inilah konteks yang melatarbelakangi surat dari Ayatullah Khamenei yang ditujukan kepada para pemuda Barat. Surat ini adalah sebuah upaya untuk memberi isyarat bagi mereka yang ingin mencari hakikat. Generasi muda umumnya memiliki kesiapan lebih untuk mengubah keyakinan mereka. Untuk itu, Ayatullah Khamanei menjadikan kelompok ini sebagai lawan bicara langsung beliau. Tentu, surat ini hanyalah sebuah “lonceng peringatan”; hanyalah sebuah permulaan, bukan sebuah penutup. Surat ini bisa membuahkan hasil ketika seluruh kalangan pemikir, penulis, kalangan media, dan budayawan menindaklanjutinya.

Pesan utama surat ini adalah: kita harus mengambil air dari sumbernya. Kita harus mempelajari Islam dari sumbernya yang asli, bukan dari para dedengkot musuh dan tingkah laku para pengklaim palsu. Islam bukanlah agama yang dipertontonkan oleh Al-Qaidah, ISIS, dan para syeikh Arab. Islam juga bukan yang diperkenalkan oleh media-media Barat. Islam sejati termaktub dalam Al-Quran dan Sunah Rasulullah SAW. (liputanislam.com)

* Guru Besar Filsafat Islam di Pusat Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini, Iran

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL