Contoh antrian di Jepang

Contoh antrian di Jepang

Oleh: Putu Heri

Jatuhnya korban jiwa di kediaman wakil presiden terpilih, Jusuf Kalla, saat digelar acara Open House, tak ubahnya menggarami luka. Sudah seringkali, berkali-kali,  di negeri yang katanya gemah ripah lohjinawi ini, nyawa melayang demi beberapa rupiah, atau demi sekerat daging.

Sakit sekali rasanya, saat saya menyaksikan para polisi, menggunakan pentungnya untuk menghalau warga. Besi hitam itu mendarat di atas kepala-kepala penduduk yang berdesakan berharap mendapat sedekah. Kasihan sekali.

Hal serupa pernah terjadi setahun silam. Seorang warga tewas manakala menanti pembagian daging kurban di Masjid Istiqlal. Beberapa orang lainnya, menurut laporan Kompas, 16 Oktober 2014, mengalami luka-luka.

Kericuhan ini terjadi karena antrean yang tidak teratur. Warga yang sudah menunggu lama di luar, baru diperbolehkan masuk ke masjid sekitar pukul lima pagi. Tak sabar, mereka lantas menyerbu dari satu pintu, saling berdesakan , dan saling menginjak-dan terinjak. Sadis.

Tentunya, masih banyak lagi kasus-kasus serupa yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Acara yang harusnya berlangsung penuh kekeluargaan, malah menelan korban jiwa.

Sekarang kita beralih ke Open House yang diselenggarakan oleh presiden terpilih, Joko Widodo. Kebetulan, saat acara itu berlangsung, ditayangkan di berbagai televisi swasta dan saya sempat mengikutinya.  Dalam hati, saya merasa, kok Open House ini seperti acara pernikahan ya?

Jokowi, dan istrinya, juga ibu dan anaknya berada di atas panggung. Dan masyarakat satu persatu, tua –muda, besar kecil, laki- perempuan, naik ke atas panggung dengan tertib untuk bersalaman dengan Jokowi dan keluarganya. Mereka semua terlihat senang, dan di penghujung panggung, telah disediakan buku tulis dan amplop – sebagai cinderamata.

Warga yang hadir, juga dibagi berdasarkan waktu kedatangannya. Yang hadir terlebih dahulu, dipersilahkan masuk ke gedung. Namun, mereka terlebih dahulu “dilucuti” petugas yang berjaga-jaga di depan. Tidak boleh membawa tas, dan benda lainnya, kecuali handphone. Ketika bersalaman dengan Jokowi, warga ini  dilarang berfoto, karena, sesi foto ini akan menyita waktu,  sementara warga yang antre jumlahnya juga membludak.

Dan  warga yang hadir belakangan, tidak diperkenankan masuk, dan harus menunggu di luar. Mereka pun disediakan tempat duduk, dan menunggu dengan tenang. Sehingga, kendati ada sekitar 8.000 orang yang berdatangan ke acara Open House Jokowi, tidak ada kericuhan, berdesak-desakan, dan tentunya, tidak ada jiwa yang melayang sia-sia.

Mari Koreksi Diri

Siapa yang harus disalahkan? Warga miskin yang berharap kebagian rejeki? Penyelenggara acara ? Atau pihak keamanan? Tidak ada yang perlu disalahan, namun pastinya, kita semua harus berbenah.

Pihak penyelenggara Open House, bagi-bagi kurban atau sedekah, ataupun acara serupa lainnya, sebaiknya memperhitungkan dengan detail berbagai kemungkinan yang timbul jika menggelar acara tersebut. Misalnya, luas tempat. Berkaca dari pengalaman tahun ke tahun, acara seperti ini selalu dibanjiri oleh ribuan orang. Dan tentunya, memerlukan tempat yang cukup besar.

Namun sesungguhnya, ada cara yang jauh lebih efisien. Coba datangi tiap-tiap kelurahan dan minta data warga yang kurang mampu. Lalu, penyelenggara mendatangi mereka langsung ke rumahnya. Sepertinya ini bukanlah hal yang sulit. Jaman dulu, Sayyidina Umar juga pernah menggunakan punggungnya untuk memikul gandum ke pintu rumah rakyatnya.

Sedangkan untuk warga yang mengharap sedekah pada khususnya, dan untuk kita pada umumnya, sepertinya kita harus mulai belajar menjadi pengantri yang baik. Di Jepang, bahkan untuk membeli roti atau air minum, mereka bisa mengantri dengan tertib yang panjangnya puluhan meter. Tidak ada kericuhan sama sekali. Mengantri, mengajarkan kita untuk bersabar.

Jika di Jepang dan Solo, ribuan warga bisa mengantri dengan tertib, mengapa kita tidak bisa?  Ini bukan tentang tentang dimana  tempatnya, atau tentang siapa pemimpinnya, tapi tentang bagaimana kita menempa diri dalam kehidupan bermasyarakat.

———–
Redaksi menerima sumbangan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL