SAY SHNOleh: Abu Murtadha

Kerap kali, ketika publik ditanya  tentang tokoh-tokoh dari kelompok perlawanan seperti Hamas dan Hizbullah, yang mereka kenal adalah ketangguhan, keberanian dan kematangan strateginya dalam menghadapi musuh. Sebut saja tokoh Hamas yang telah berpulang, Syeikh Ahmad Yasin (SAY), publik mengenalnya sebagai ‘yang menggerakkan dunia dari kursi roda’. Begitu pula dengan Sekjen Hizbullah, Sayyid Hasan Nasrallah (SHN), publik mengenalnya sebagai target utama (most wanted) bagi Israel, Barat, dan kaum Takfiri.

Namun, adakah yang mengenal sisi lain dari kehidupan kedua tokoh tersebut, di luar waktunya yang digunakan untuk melawan para penjajah? Berikut ini saya hadirkan kisah manis yang jarang diungkap media, bahwa baik SAY, maupun SHN, tetap saja seorang pria, juga seorang ayah yang menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta.

Syeikh Ahmad Yassin, Pegulat yang Penyayang

SAY bersekolah SD di Jaurah hingga kelas lima. Situasi kacau pada tahun 1948 memaksanya hijrah menemani keluarganya ke Gaza. Di sana, situasi berubah pahit. Keluarganya, seperti umumnya pengungsi, merasakan kefakiran, kelaparan dan intimidasi. Masa itu, ia biasa pergi ke perkemahan tentara Mesir bersama teman-temannya untuk mengambil sisa-sisa makanan tentara untuk ia berikan pada keluarganya. Sekolahnya sempat terhenti pada tahun 1949-1950 demi menolong ekonomi keluarganya yang berjumlah dari tujuh orang, Ia terpaksa bekerja di salah satu restoran kacang di Gaza.

Malang tak dapat ditolak. Pada tahun 1952, saat berusia 16 tahun, rangka leher SAY patah ketika bermain bersama kawan-kawannya. Di dekat kamp pengungsi al Shati’, pantai adalah tempat bermain yang sangat penting dan strategis. Di sana banyak dilakukan aktivitas mulai dari keilmuan yang disusul dengan kegiatan olah raga. Di antara olah raga yang dilakukan adalah melompat dari ketinggian ke pasir laut, atau seorang naik di atas pundak yang lain saling berpegangan tangan kemudian melompat ke laut, atau bermain bola dan berbagai permainan berat lainnya.

Dr. Abdul Aziz Rantisi, menyatakan, “Beliau mengalami musibah patah tulang leher saat bermain gulat dengan salah satu teman beliau, Asy – Syahid Abdullah Shiyam (Komandan Perang ‘Khalda’ Beirut tahun 1982 yang gugur dalam perang tersebut).”

”Setelah empat puluh hari lehernya digips, ternyata ia harus menjalani sisa hidupnya dalam keadaan lumpuh. Selain lumpuh penuh, mata bagian kanannya buta setelah ia dipukul dalam penjara Israel oleh dinas intelijen Israel. Mata kirinya juga tidak dapat melihat banyak. Selain itu, masih ada beberapa penyakit fisik lainnya yang menimpa beliau. Namun semua ini tidak menghalanginya untuk berjuang.

SAY  terkenal karena rasa humorisnya dan kebaikannya kepada anak-anak di Gaza. Dia mencintai dan bersimpati dengan anak-anak tersebut. Anak-anak Gaza bahkan menganggap SAY seperti ayah mereka sendiri yang lembut dalam mendidik mereka.

SAY sering merawat dan mengajar anak-anak Palestina tentang pelajaran-pelajaran agama dan tentang kehidupan mereka sehari-hari. Musbah Shaghnuby, salah satu muridnya menceritakan kenangan ketika ia masih berusia 8 tahun. Konon, SAY sering memanjakan dia dan anak-anak di lingkungannya. Mereka menganggap Syaikh Yassin sebagai ayah yang penuh kasih sayang terhadap mereka.

Musbah berkata,”Semoga Allah memberkati dia, dia adalah ayah dari semua orang Palestina dan seorang kakek bagi anak-anak mereka. Kami sering mengiringi SAY baik di masjid ataupun di rumahnya yang sederhana, dan ia sangat menghargai kami ketika kami shalat Subuh di masjid dan mau menghafal Al-Qur’an.”

Musbah melanjutkan, “Terus terang, saya tidak terlalu suka mendengarkan khotbah kecuali khotbah atau ceramah dari SAY, bukan semata-mata karena dia adalah SAY, tetapi karena kata-kata yang ia sampaikan memang berasal dari hati dan penuh dengan kata-kata yang membangkitkan semangat dan menyenangkan. SAY sering menyerukan kepada orang-orang untuk rajin belajar dengan ketekunan, serta terus menambah ilmu pengetahuan.”

Sayyid Hasan Nasrallah, Pendukung Kesebelasan Argentina

Begitu pula halnya dengan SHN, banyak orang menduga bahwa ia menjalani kehidupan sehari-harinya berbeda dengan kebanyakan orang. Mereka mengira dia hidup dalam pengawalan yang ketat setiap saat dan berada di tempat yang tersembunyi mengingat rezim Israel yang bertetangga dengan kediamannya di Lebanon memiiliki mata-mata dan alat canggih untuk memantaunya. Semua orang tahu bahwa ia dalam pengawasan dari berbagai pihak yang tidak menyukainya.

Ternyata dugaan mereka salah. SHN ini menjalani kehidupannya biasa saja dan normal serta tidak ada yang aneh. Pada beberapa hari yang lalu, ia menerima sejumlah wartawan dari Harian Al-Akhbar Lebanon di kediamannya. Para wartawan ini menuturkan pertemuan mereka dengan SHN dan menyebutnya sebagai sebuah kejutan( mufajaât). Beliau memang acapkali membuat kejutan bagi kawan dan lawan dalam berbegai kesempatan.

Pertemuan itu berlangsung selama lima jam hingga waktu fajar. Mereka menceritakan bahwa SHN tidak tinggal di sebuah ruangan bawah tanah sebagaimana diduga oleh sebagian besar kalangan. Melainkan, ia tinggal bersama keluarganya di lantai lima atau lantai enam. Dari lantai itu terdengar adzan yang dikumandangkan di sebuah masjid. Beliau menyampaikan banyak hal tentang kehidupannya dan cerita-cerita yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang.

Para wartawan itu menjelaskan bahwa Sekjen Hizbullah  ini hidup di tengah warga dan berkeliling di jalan-jalan sekitar pinggiran selatan Beirut dan tempat-tempat lainnya. Ia bahkan mengingat nama-nama jalan yang ada di sana. SHN pun turut merasakan apa yang dirasakan oleh masyarakat pada umumnya, seperti kejadian padamnya listrik.

Yang menarik, sebagaimana diceritakan seorang wartawan dari mereka, bahwa SHN tidak pernah kalah dalam kehidupannya kecuali ketika beliau mendukung kesebelasan Argentina dalam putaran final menghadapi Jerman di Brasil beberapa waktu yang lalu. Ia menonton pertandingan itu sekedar menghangatkan suasana karena anaknya menjagokan kesebelasan Jerman. Kenyataan ini menunjukan bahwa SHN mempunyai banyak waktu dengan keluarganya. Sebagai seorang ayah, ia tetap mengikuti perkembangan anak-anaknya dan kegemaran mereka, termasuk di bidang olahraga.

Layaknya manusia modern,  SHN juga mengikuti perkembangan dunia bahkan film-film serial melalui saluran-saluran televisi selain al-Manar dan juga mengikuti perkembangan di jejaring sosial melalui para pembantunya. Ia menguasai Bahasa Inggris pasif, dan mampu berbahasa Persia dengan baik.

Benar, SHN harus  hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain,  tapi hal ini tidak menghalanginya untuk terjun langsung di tengah warga Lebanon. SHN mengatakan bahwa sesungguhnya ia menginginkan kehidupan yang biasa dan normal, namun para pengikutnya tidak menghendakinya karena pertimbangan keamanan dan keselamatannya.  Saat ini, SHN selalu dikawal oleh pengikut yang sangat mencintai dan siap berkorban untuknya.

Keduanya, telah ‘melahirkan’ pejuang-pejuang tangguh, yang siap mati dalam membela martabat dan kehormatan bangsanya. Semoga Allah, merahmatinya, dan segenap Mujahidin sejati yang memang berjuang di jalan Allah.

—————–

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL