jokowi pesawatOleh: Putu Heri

Tidak ada yang menyangka, bahwa Presiden Indonesia Joko Widodo, akan berkunjung ke Sinabung dihari ke sepuluh ia dilantik. Tidak ada bocoran informasi sama sekali dari Istana, dan dari pantauan saya, hampir seluruh media nasional baru memberitakan rencana tersebut pada hari Selasa, 28 Oktober 2014 pada sore hari.

Akibatnya, sudah bisa ditebak. Tidak ada persiapan memadai yang digelar oleh pemerintah provinsi setempat. Arus lalu lintas di jalan utama kota itu pun lancar. Tidak terlihat kesiagaan aparat keamanan, sebagaimana biasa jika seorang presiden melakukan kunjungan kerja.

Relawan Sinabung, melalui akun twitternya @Sinabung_V mengungkap sebuah skenario dengan membuat agenda yang mengarahkan Jokowi ke posko pengungsi di Pendopu Bupati, dan para pengungsi yang diinstruksikan untuk tersenyum, seolah kondisi mereka baik-baik saja dalam penanganan pemerintah daerah.

Lalu, apa yang terjadi?

Sudah bisa ditebak, Jokowi tidak bisa diatur-atur dengan protokoler yang disiapkan. Alih-alih akan mendengarkan pemaparan di Pendopo, ia justru hanya bertahan selama 5 menit. Setelahnya, ia langsung blusukan menemui pengungsi yang tersebar di berbagai titik. Panitia dan awak media yang sudah disiapkan di lokasi pun kalang kabut.

Saya tidak akan membahas lebih jauh tentang kegiatan Jokowi di Sinabung dengan rombongan ‘rampingnya’, tapi kejadian ini, mengingatkan masa kecil saya waktu bersekolah. Dulu, setiap kali akan ada kunjungan camat, bupati, dan pejabat-pejabat pemerintah ke sekolah, maka sekolah kami pun dipercantik. Dinding dicat mengkilat, meja dan kursi yang rusak diperbaiki, taman sekolah ditata rapi, dan saat kunjungan tiba, murid-murid harus berpakaian rapi, tenang, tidak boleh ribut, tidak boleh main-main di luar halaman sekolah dan berbagai aturan lainnya. Singkatnya, para guru di sekolah hendak menunjukkan bahwa situasi di sekolah kami sangat kondusif dan murid-muridnya baik.

Padahal, kenyataannya pada hari-hari biasa, guru-guru sekolah tidak sepeduli itu. Saya sering main petak umpet, lalu bersembunyi di sawah dan kebun yang berada di belakang sekolah. Murid-murid juga sangat sering juga jajan di warung di luar sekolah. Fasilitas sekolah yang rusak juga pemandangan biasa.

Sepertinya, Indonesia yang pernah terperangkap dalam tradisi asal bapak senang (ABS), belum bisa membebaskan diri sepenuhnya dari budaya tersebut. Dulu di era Orde Baru yang dipimpin Soeharto, presiden memiliki kekuatan yang sangat besar dan mengontrol semua lini. Akibatnya, semua pejabat yang berorientasi pada kekuasaan dan kemapanan, akan menempuh politik ABS.

Sebut saja Harmoko, Menteri Penerangan yang namanya sangat populer karena selalu menghiasi layar kaca. Setiap kali Harmoko melakukan kunjungan ke daerah, dia selalu berucap,“Menyampaikan salam dari Bapak Presiden Soeharto.” Dan setiap kali memberikan keterangan Pers, selalu diawali dengan ucapan,“Menurut petunjuk Bapak Presiden…”

Para menteri dalam kabinet Soeharto, telah lihai dalam menerapkan politik ABS, dan pada umumnya, tidak berani melakukan kritik apapun. Dan tidak berhenti sampai di jajaran menteri, berbagai lembaga negara lainnya pun tidak luput dari praktik ABS. Tidak salah jika Iwan Fals, melalui lagunya mengkritik kelakuan anggota dewan yang hanya bisa mengucapkan kata’setuju’ terhadap kebijakan-kebijakan yang disodorkan oleh Soeharto. ABS ini pula, yang membawa Soeharto menuju kelanggengan kekuasaan selama 32 tahun.

Kini, kita hidup di jaman reformasi. Kebebasan berbicara telah dibuka seluas-luasnya. Informasi dari seluruh dunia sangat mudah untuk diakses, namun sayangnya, masih ada yang mencoba bermain-main dengan politik ABS. Saya yakin, teriakan pengungsi Sinabung telah sampai di Istana Negara.

Di lain sisi, gaya kepemimpinan Jokowi yang ‘merepotkan’ banyak pihak juga telah tersebar. Mulai dari staf Istana, Paspampres, hingga wartawan yang biasa meliput kegiatannya, semua mengeluhkan gerak Jokowi yang susah ditebak dan tiba-tiba. Jokowi juga dikenal tidak patuh kepada protokoler, dan cenderung bersikap seenaknya saja. Sidak mendadak juga biasa ia lakukan saat menjabat sebagai Gubernur Jakarta. Sayangnya, hal ini terlambat disadari oleh pemerintah daerah Sumatera Utara, yang akhirnya harus menanggung malu lantaran skenario ABS yang disiapkan gagal total.

Harapan saya sebagai rakyat biasa tidak banyak. Kepada para pemimpin negeri ini, berhentilah bersandiwara atau berpura-pura, memoles citra dengan skenario yang memuakkan. Lekaslah sembuh dan layani rakyat. Tentu, pesan ini juga saya sampaikan untuk guru-guru di sekolah saya dahulu.

_____
Redaksi menerima kiriman tulisan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL