Dont-LieOleh: Khadija, Blogger

Jalan apa saja sekalipun haram – akan dihalalkan oleh pihak-pihak tertentu demi memenuhi ambisinya. Tak terkecuali dalam pertarungan Pilpres kali ini, bertebaran kampanye hitam yang memuakkan dan tak beretika demi menjungkalkan lawan. Saling tuding pun tak terelakkan, dan rakyat lagi-lagi disuguhkan tontonan basi yang tak mendidik dari elit politik.

Adalah Hashim Djojohadikusumo, Wakil Ketua Pembina Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra yang juga adik calon presiden Prabowo Subianto, mengatakan bahwa ia merasa dibohongi Joko Widodo selama 1,5 tahun. Kata Hashim, Jokowi mengaku tidak dapat dukungan biaya selama pemilihan kepala daerah DKI Jakarta.

“Maaf ya, saya buka saja, saya sudah dibohongi Jokowi satu setengah tahun. Saya kenal Jokowi sejak 2008, yang biayai Jokowi kampanye (pilgub) itu saya, sembilan puluh persen. Saya habis Rp 52 miliar,” kata Hashim di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta (STTJ), Senin (2/6/2014) seperti dilansir Kompas.

Lalu apa tanggapan Jokowi? Ia menampik tuduhan itu.

“Ah, itu sudah dibantah sama Pak Ahok juga, kan. Uang yang masuk ke dalam rekening kita itu Rp 6 miliar,” ujarnya di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (2/6/2014) malam kepada Kompas.

Dan bagaimana tanggapan Ahok? Ia juga membantah telah menerima dana kampanye pemilihan gubernur (Pilgub) DKI 2012 dari Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Soebianto sebesar Rp 60 miliar.

“Mana ada segitu. Yang sebenarnya terjadi kalau menurut saya, beliau mungkin keluar itu karena beliau iklan di TV. Iklan di TV disitu ada muncul saya dan Jokowi lagi jalan. Jadi bukan iklannya DKI,” kata Ahok kepada Beritasatu.com (1/4/2014).

Ahok juga menegaskan seluruh pendapatan dan pengeluaran biaya kampanye sewaktu Pilgub DKI 2012 telah dilaporkan secara detail kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU). “Pada waktu itu habis uang pada waktu kampanye di TV. Kami nggak pernah kampanye di TV. Kita laporin kok pada waktu itu cuma habis berapa puluhan atau berapa belas miliaran rupiah.

Ahok juga mengatakan PDIP turut mencari dana kampanye, namun dia tidak mengetahui besaran sumbangan dana kampanye dari PDIP. “Mereka juga cari kok, dari PDIP gerakin langsung ke bawah. Saya nggak tahu jumlahnya, soalnya nggak pegang duitnya,” kata pria berkacamata ini.

DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan juga membantah. Menurutnya, dana kampanye pilgub 2012 diperoleh dari gotong-royong.

“Dana pemenangan Pilgub DKI itu diperoleh secara gotong royong. Seluruh kepala daerah dari PDIP se-Indonesia, seluruh anggota legislatif dan struktural partai termasuk Ibu Megawati bergotong royong untuk Pak Jokowi,” kata Wakil Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto.

Disini kita melihat ada 4 pemain yang terlibat, yaitu Hashim, Jokowi, Ahok, dan PDIP. Dari keempat pernyataan diatas, posisinya 3: 1. Tiga pemain membantah kucuran dana sebesar 52 miliar [di lain kesempatan disebut 60 miliar] yang diklaim telah digelontorkan oleh Hashim. Pertanyaannya, siapa yang benar? Saya tidak bisa menebak-nebak, karena hal seperti ini butuh data-data yang akurat, dan pihak PDIP sendiri telah mengaku siap untuk buka-bukaan mengenai rekening kampanye Jokowi-Ahok, dan pastinya kita harus menunggu.

Namun dengan peristiwa ini, saya menemukan ‘titik cerah’ di sisi lain. Sebelumnya santer diberitakan bahwa naiknya Jokowi dan Ahok sebagai orang no 1 dan 2 di Jakarta, merupakan campur tangan para ‘cukong hitam’ yang memiliki banyak kepentingan terhadap Jakarta. Berita tersebut bisa dilacak di Google dengan menggunakan keyword “Jokowi Cukong Hitam” dan dalam sekejap puluhan ribu artikel bertengger di internet tentang keterkaitan Jokowi dan para cukong – dan tentu saja dipermanis dengan isu agama dan etnis.

Nah dengan perang mulut yang terjadi diantara empat pemain sentral tersebut, saya merumuskan dua hal:

  1. Diasumsikan bahwa Hashim memang benar membiayai Jokowi 90%, maka ketiga pemain lainnya (Jokowi, Ahok, PDIP) adalah pembohong. Penolakan mereka terhadap pernyataan Hashim bisa ditafsirkan: tidak tahu diri, tidak tahu terima kasih, tidak punya malu dan bukan contoh pemimpin yang baik. Dan tentu saja, karena Hashim yang membiayai untuk pemenangan Jokowi –Ahok di Jakarta, maka isu bahwa Jokowi dibiayai cukong hitam saat Pilgub DKI adalah kampanye hitam dari pihak yang tidak bertanggung jawab –karena ternyata—adik Prabowo sendiri yang membiayai kampanye tersebut [kecuali Hashim bersedia disebut cukong hitam]. Dan jika Hashim bersedia disebut cukong hitam, artinya kampanye Prabowo juga dibiayai oleh cukong hitam.
  2. Diasumsikan jika Jokowi, Ahok dan PDIP yang benar – bahwa mereka menerima dana kampanye dari berbagai pihak secara gotong royong, maka Hashim-lah yang pembohong. Dan Hashim menuduh Jokowi telah berbohong adalah kampanye hitam.

Kepentingan bisa menjadikan teman menjadi musuh, dan musuh menjadi teman. Tapi siapapun yang benar dan bohong dalam kasus diatas, tidak akan mengubah kenyataan bahwa hari ini masih banyak rakyat Indonesia yang hanya bisa menelan ludah mendengar miliaran bahkan trilyunan uang dihamburkan demi “pesta demokrasi”, sementara hari demi hari, rakyat harus gigit jari.

 

———————

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL