Foto: facebook

Foto: facebook

Oleh: Ardiansyah, Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Siapa yang tak kenal Yerusalem? Kota suci tiga agama. Kota yang mana mampu membuat keluarga Abraham yaitu umat Yahudi, Kristen dan Islam bertemu dalam satu tempat. Tetapi kota ini juga bisa disebut kota darah. Invasi Kristen Eropa dalam perang Salib telah banyak menelan korban dikedua belah pihak. Kemudian dilanjutkan invasi Zionis Yahudi Azkenasic yang menjajah negeri ini dengan alasan bahwa ini negeri yang dijanjikan Tuhan.

Tapi ada kisah yang menarik ketika Yerusalem ditaklukan oleh Islam pada zaman Sayyidina Umar Bin Khattab. Disana penuh dengan toleransi dan keserasian antara Yahudi, Kristen dan Islam. Mari kita simak kisahnya.

Yerusalem ialah nama kota yang berada di negara Palestina (walaupun sekarang status Yerusalem dalam pengawasan PBB, dan dalam Wikipedia, Yerusalem dimasukkan ke dalam ibu kota Israel walaupun terdapat keterangan “Tidak diakui internasional”.  Pra modern Palestina termasuk wilayah yang dinamakan negeri Syam (Yordania, Suriah, Palestina, Israel).

Ketika  Sayyidina Abu Bakar terpilih menjadi Khalifah, dia memerintah untuk berdakwah dan futuhat (pembebasan) negeri-negeri di sekitar Arab yang belum masuk wilayah kekuasaan Islam dan belum memeluk Islam. Pada bulan Rajab, Sayyidina Abu Bakar mengirim empat pasukan untuk menaklukkan negeri Syam yang pada waktu itu dalam kekuasaan Byzantium.

1. Pasukan Yazid Bin Abi Sufyan menuju Damaskus.
2. Pasukan Syurahbil Ibn Hasanah menuju Urdun.
3. Abu Ubaidah Al Jarrah menuju Humush.
4. Amr Bin Ash menuju Palestina.

Tapi, keempat pasukan itu mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan pasukan Byzantium, sehingga, Sayyidina Abu Bakar mengutus Sayyidina Khalid Bin Walid untuk pergi ke Palestina dan menarik diri dari Irak guna membantu keempat pasukan tersebut.

Pada akhirnya cita-cita Abu Bakar tidak tercapai. Dia meninggal ketika Syam belum berhasil ditaklukkan. Kemudian pada masa Umar, Amr Ibn Ash berhasil mengepung Palestina sehingga Amr Ibn Ash mengundang Sayyidina Umar untuk menaklukkan sendiri kota Yerusalem.

Amr menunggu Sayyidina Umar dan akhirnya ia datang dengan menaiki unta. Kemudian ketika melewati sungai, Sayyidina Umar turun sambil melepaskan sendalnya dan menuntun untanya menyeberangi sungai.

Umar sudah tiba di Jabiyah, sementara itu penduduk Yerusalem mengajukan perjanjian damai. Lantas Sayyidina Umar menyetujui dan berjanji akan melindungi kota Elia dan Ramallah.

Akhirnya Sayyidina Umar memasuki kota Yerusalem untuk menerima kunci kota. Kemudian ia  menuliskan perjanjian sebagai berikut:

“Bismillah Al-Rahman Al-Rahim. Ini jaminan keamanan yang di berikan hamba Allah, Umar, Amirul Mukminin kepada penduduk Elia (Yerusalem). Umar menjamin keamanan bagi seluruh jiwa, harta, Gereja, Salib, orang lemah, orang merdeka, dan semua agama yang ada. Gereja-gereja mereka tidak akan dihuni dan dirusak, dikurangi atau dipindahkan. Demikian pula dengan Salib dan harta mereka. Mereka tidak akan dibenci karena agama. Tidak ada seorang Yahudi pun boleh tinggal bersama mereka di Elia. Jika ada penduduk Elia yang lebih senang menggabungkan diri dan hahrtanya dengan Byzantium serta meninggalkan gereja-gereja dan salib-salibnya, maka jiwa, Gereja, dan Salib mereka dijamin keamanannya sampai mereka tiba di daerah tujuan. Siapa saja dari penduduk setempat (Syam) yang tinggal bersama mereka (penduduk Elia), maka jika mau ia boleh tinggal dan wajib membayar Jizyah (ialah pajak yang ditetapkan Khalifah untuk penduduk suatu tempat sebagai jaminan keamanan) seperti kewajiban penduduk Elia, atau jika mau bergabung dengan Byzantium atau jika mau kembali kepada keluarganya sendiri. Tidak ada sesuatu pun yang boleh diambil dari mereka sampai mereka memetik panen mereka.”

Ketika Sayyidina Umar selesai menulis perjanjian ini, maka tibalah waktu Zuhur yang mana Uskup Yerusalem/Elia yang bernama St. Shopronius mempersilahkan Umar untuk shalat di Gereja Anastasis/ Holy Sepulchre.  Gereja ini juga disebut Gereja Makam Kristus karena dipercaya di tempat inilah Kristus disalibkan. Lantas Umar menolak karena khawatir bila dia shalat disana mereka akan disalahkan oleh umat Islam yang berseru bahwa” Amirul Mukminin shalat di tempat ini (gereja).”  Kemudian Sayyidina Umar shalat di depan gereja, sampai sekarang terdapat masjid kecil yang dinamakan Masjid Umar karena dahulu Sayyidina Umar shalat  di depan Gereja. Sampai sekarang umat Kristiani dapat melihat Gereja Makam Kristus di Yerusalem.

Yang lebih menarik bahwa kunci gerbang Gereja Makam Kristus yang memegangnya ialah umat Islam, diakibatkan ketegangan yang sangat sengit diantara sekte Kristen yang mengaku paling berhak memegang kunci itu sehingga sering terjadinya konflik. Sampai akhirnya Khalifah memutuskan untuk menyerahkan kunci Gereja kepada umat Islam sekaligus merawatnya. Hal ini dirasakan oleh Karen Armstrong dalam bukunya “Perang Suci” bahwa ketika dia membuat film mengenai Perang Salib dan ketika waktunya sudah habis maka datanglah seseorang yang memakai peci menutup gerbang gereja ketika gerbang itu dibuka maka giliran Kristen Ortodoks Yunani untuk berziarah.

Sungguh toleransi yang di bangun Sayyidina Umar di kota Yerusalem sebagai teladan bahwa apapun agamanya kita wajib saling mengasihi dan melindungi segenap rakyatnya apabila kita menjadi pemimpin. Tidak membedakan ras, agama, dan ideologi, itulah yang dilakukan Sayyidina Umar. Bahkan umat Islam menyebut kota Yerusalem dengan sebutan “Al-Quds” yang berarti suci. [Dipublikasikan pertama kali di Fanpage Berita Harian Suriah]

Baca juga: The House of One, Saat Islam, Kristen dan Yahudi Bersatu

—————-

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL