contoh buku jihad di afghanistan

contoh buku jihad di afghanistan

Oleh: Putu Heri

Apakah sebuah tanaman bisa tumbuh, berbuah, dan berkembang biak dengan pesat jika tidak ada yang merawat, menyiram atau memberikan pupuk? Mungkinkah Al-Qaida bisa menjadi kelompok transnasional yang hadir di berbagai negara, menciptakan teror, memiliki persenjataan canggih yang tidak terputus, tanpa adanya sebuah kekuatan yang mendukung keberadaan mereka? Mustahil. (Baca tulisan sebelumnya: Sarang Laba-laba Jaringan Al-Qaida)

Itulah yang dilakukan AS. Setelah mereka menciptakan Al-Qaida, maka hal selanjutnya yang dilakukan adalah ‘merawat kelompok ini’ sehingga menjadi jaringan yang besar.

The Washington Post melaporkan, “AS menghabiskan jutaan dollar untuk memasok sekolah di Afghanistan dengan buku pelajaran yang penuh dengan gambar kekerasan dan ajaran ekstremis. Pelajaran yang mendasar, berisi tentang jihad yang menampilkan gambar senjara, peluru, tentara dan tambang, dan inilah yang mengisi kurikulum pendidikan di Afghanistan. Bahkan Taliban menggunakan buku-buku yang diproduksi AS…”[1]

The Council on Foreign Relations mencatat, “Laporan serangan 9/11 yang dirilis pada tahun 2004 menyatakan bahwa beberapa sekolah agama dan madrasah di Pakistan berfungsi sebagai inkubator untuk tumbuhnya ekstremis. Sejak saat itu, muncul berbagai perdebatan terkait hubungan madrasah dengan militansi.

Madrasah yang baru bermunculan, didanai dan didukung oleh Arab Saudi dan Bandan Intelejen Pusat AS, para siswa didorong untuk bergabung dengan kelompok perlawanan Afghanistan…”[2]

Ahli nuklir yang juga seorang aktivis perdamaian asal Pakistan mencatat, “Gerakan jihad Global didanai oleh Arab Saudi, dan dieksekusi oleh Pakistan. AS menciptakan sesuatu yang menjadi magnet bagi para militan untuk bertempur. Orang-orang yang memiliki dedikasi kepada ideologinya disebut-sebut sebagai pejuang terbaik. CIA memasang iklan pada surat kabar di seluruh dunia, yang menawarkan, membujuk, dan memotivasi ummat Islam bergabung dengan gerakan jihad.

Universitas di AS memproduksi buku-buku untuk anak-anak Afghanistan yang memuji kebaikan jihad dan membunuh komunis. Bahkan hingga hari ini, kadang-kadang kita bisa menemukan buku yang diproduksi oleh Universitas Nebraska pada tahun 1980-an, yang menghabiskan dana sekitar 50 juta dollar. Buku-buku ini berusaha mengimbangi Marxisme melalui penciptaan semangat militansi Islam. Mereka mendesak anak-anak Afghanistan untuk mencongkel mata musuh (Uni Sovyet) dan memotong kakinya. Bertahun-tahun setelah buku pertama yang dicetak ini disetujui oleh Taliban digunakan di madrasah, ‘stempel kebenaran’ atas ideologi yang mereka anut masih banyak diyakini baik di Afghanistan maupun Pakistan.

Pada tingkat internasional, gerakan Islam radikal masuk sebagai ‘kekuatan penambah daya’ dan AS menyalurkan bantuan kepada jihadis. Pemimpin jihad dipestakan di halaman Gedung Putih, karena mereka dianggap penting.” [3]

Suka atau tidak, fakta bahwa AS dan sekutunya mendukung ekstremisme dengan mendirikan sekolah-sekolah dengan kurikulum jihad, adalah sesuatu hal yang tidak bisa dibantah. Sejak kecil, anak-anak di wilayah itu sudah didoktrin dengan kekerasan, dan akhirnya, mereka tumbuh menjadi teroris. Dengan kata lain, seandainya AS tidak mendukung militan ini secara sistematis, mungkinkah kelompok-kelompok tersebut akan berkembang dan membesar hingga hari ini?

Namun saya juga tidak menampik, bahwa seringkali memang terdapat pemeluk suatu agama atau keyakinan tertentu yang teramat fanatik, dan menganggap bahwa ia berada di pihak yang benar. Dalam Islam, kelompok ini diwakili oleh kaum takfiri, yang mengklaim diri sebagai representasi Islam, dan merasa berhak menumpahkan darah dari golongan lain yang tidak sepemahaman dengannya. Penganut paham inilah yang lantas dimanfaatkan AS dan sekutunya, untuk mengamankan kepentingan mereka di Timur Tengah.

Al-Qaida Tumbuh di Berbagai Negara

Jadi, tujuan awal kelompok ekstremis ini dibentuk adalah untuk menyingkirkan Uni Sovyet. Setelah setelah Uni Sovyet runtuh, kita melihat kelompok ini lahir, tumbuh dan membesar di berbagai negara, dengan nama yang berbeda-beda. Dengan melihat motif kelompok ini dibentuk di Afghanistan, maka kita tidak akan kesulitan untuk mencari motif tumbuhnya Al-Qaida di berbagai negara.

Contoh yang ini adalah Jabhat al-Nusra, yang lahir di Suriah. Kelompok ini mulai menampakkan dirinya ketika terjadi pemberontakan untuk menggulingkan pemerintahan Bashar al-Assad. Mengapa Assad harus digulingkan? Karena ia merupakan penghalang bagi AS dan sekutunya untuk menjalankan agendanya di Timur Tengah. Sebagai musuh bebuyutan Israel, pemerintah Suriah aktif menyuplai dan menyalurkan senjata kepada kelompok perlawanan Hamas dan Hizbullah. Suriah juga bekerjasama dengan Irak dan Iran membangun Pipa Islam, yang mengancam kepentingan Qatar. Juga ada ambisi Turki yang ingin menjadi pemain penting di kawasan Timur Tengah. Singkatnya, Assad adalah duri, yang harus disingkirkan dan diganti dengan sosok boneka yang bisa dikendalikan. Untuk tujuan inilah, Al-Nusra dibesarkan. AS tidak perlu repot-repot menurunkan tentaranya ke Suriah, dan melalui seruan jihad dari ‘ulama-ulama’ untuk memerangi Assad, maka puluhan ribu jihadis pun berbondong-bondong masuk ke Suriah, termasuk Indonesia.

Motif serupa juga bisa kita lihat dengan lahirnya kelompok-kelompok ekstremis yang terkait dengan Al-Qaida di berbagai negara. Ketika suatu negara dianggap menghalangi kepentingan AS dan sekutunya, maka kelompok ekstremis ini akan digunakan untuk mengacaukan negara tersebut.

Lalu Suriah, setelah hancur lebur selama dua tahun, pada Juni 2013, Bank Dunia ‘berbaik hati’ mengulurkan pinjaman senilai 21 miliar dollar kepada Suriah untuk memperbaiki infrastruktur, namun ditolak mentah-mentah oleh Assad. Kita tentu bisa membaca agenda dibalik tawaran menggiurkan ini. Jika Assad menerima pinjaman, maka kekayaan alam Suriah akan dikeruk untuk membayar hutang. [4]

Kepada dunia internasional, AS akan terus berusaha menunjukkan komitmen palsunya memerangi terorisme. AS menghujani Suriah, Yaman dan Afghanistan dengan drone, dengan klaim memburu teroris. Namun yang kita dapati, justru korban terbesar dari drone-drone ini adalah masyarakat sipil yang tidak berdosa.

Bersambung…

Referensi:

[1] http://bit.ly/1DOEcOp

[2] http://www.cfr.org/pakistan/pakistans-education-system-links-extremism/p20364

[3] www.physics.harvard.edu/~wilson/pmpmta/2010_Hoodbhoy.doc

[4]http://www.kataeb.org/en/news/details/408700/Assad%3A+The+World+Bank+offered+Syria+a+loan+of+$+US+21+billion++++++++++++++++++++++++++%0D%0A

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL