Oleh: Abdel Bari Atwan, Kepala Editor Rai al-Youm

Hizbullah pada hari Minggu (20/12/2015) merilis pernyataan yang mengkonfirmasi kesyahidan Samir Quntar. Ia gugur di Damaskus, ketika Israel menyerang dengan menggunakan jet tempur.

Jet tempur Israel sebelumnya telah mencoba untuk membunuh Samir berkali-kali, namun gagal. Akhirnya kali ketujuh, barulah mereka berhasil. Ketika militer Israel harus keluar dari sarangnya untuk menargetkan dia, maka hal ini berarti dua hal. Pertama, Samir adalah ancaman serius bagi Israel. Kedua, ada perlawanan yang konsisten menghadapi Israel, kendatipun entitas Zionis ini terus melakukan kejahatan dan menciptakan konflik (untuk melemahkan front perlawanan-red). Walaupun Israel telah mengulurkan tangannya kepada negara-negara Arab dengan dalih menghadapi ancaman Iran, front perlawanan tidak bisa digoyahkan.

Samir adalah seorang pemburu syahid, dan ia telah bergabung dengan jajaran front perlawanan Palestina sejak usia 17 tahun. Kesyahidan menghampirinya 37 tahun kemudian. 30 tahun lamanya ia habiskan di dalam penjara.

Baca juga: Petinggi Hizbullah Lebanon Gugur, Israel Bersiaga Tunggu Balasan

Saya pertama kali bertemu Samir tujuh tahun yang lalu di sebuah restoran di Pantai Beirut. Saya diundang oleh teman sekelas saya, Ghassam bin Jiddo. Samir ada di lokasi tersebut bersama istrinya. Ia menikah — dengan Sayyid Hassan Nasrullah sebagai saksinya – ketika Samir bebas dari penjara.

Dia sangat rendah hati. Sepanjang percakapan, ia tidak pernah mengatakan bahwa ia telah melakukan ini itu. Ia juga mengaku menyesal kenapa belum mendapatkan syahid.

Akhirnya, Samir mendapatkan apa yang ia cita-citakan. Tetapi Israel akan segera membayar mahal, karena pembalasan tidak akan bisa dihindari. Ketika rekan-rekannya (Hizbullah-red) telah berjanji membalas, maka mereka memastikan bahwa hal ini akan terwujud.

Baca juga: Nasrallah: Kami Berhak Membalas Pembunuhan Syahid Quntar Oleh Israel

Penyerangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah PBB memetakan resolusi untuk krisis Suriah. Resolusi tersebut menyetujui beberapa tuntutan dari Rusia, seperti “Assad tidak boleh digulingkan”. Jadi, gugurnya Samir bisa menjadi tamparan keras bagi Presiden Vladimir Putin.

Di jejaring sosial banyak yang bertanya-tanya, mengapa Angkatan Udara Israel bisa berkelana di langit Suriah, padahal terdapat sistem pertahanan udara S-300 dan S-400? Sistem ini telah ditanam di lokasi strategis Suriah, dan saya mengira bahwa akan terjadi perubahan signifikan setelahnya.

Saya berharap Rusia akan bereaksi tegas atas tindakan Israel. Namun hingga saat ini, Rusia bungkam.

Baca juga: Kremlin Enggan Komentari Laporan Mengenai Serangan Israel ke Suriah

Namun yang paling penting adalah, ada celah-celah dalam pertahanan keamanan dalam front perlawanan dan Israel memiliki akses penuh terhadap informasi keberadaan Samir. Dimana ia berada, tempat tinggalnya, ternyata bisa dideteksi oleh Israel. Hal yang sama juga terjadi pada syahid Jihad Imad Mugniyeh. Ini adalah masalah yang butuh perhatian serius. (ba/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL