binneka

Bhineka Tunggal Ika

Oleh: Doni Febriando, Mahasiswa Universitas Gajah Mada Yogyakarta

Kondisi keagamaan di Indonesia pasca Reformasi 1998 memang mencemaskan. Agama yang seharusnya menjadi jalan hidup, justru dijadikan alasan bertikai. Tidak hanya antar pemeluk agama yang berbeda, jama’ah satu agama pun sering bertikai, karena masalah agama.

Kita bicara internal agama Islam saja. Karena, bagaimana bisa membicarakan toleransi antar umat beragama, jika kondisi internal umat Islam di Indonesia kacau-balau?

Kalau zaman Orde Baru dulu, organisasi NU (Nahdlatul Ulama) dan Muhammadiyah relatif damai, karena kebebasan berpendapat memang dibatasi. Mungkin karena kran demokrasi dibuka oleh Era Reformasi, banyak orang kini sangat bebas berpendapat, bahkan cenderung seperti lomba paling keras suaranya.

Menjadi masalah di kemudian hari, perlombaan keras-kerasan suara tersebut, kemudian mengarah ke “pembasmian” suara yang tidak sejalan. Jika orang A berpendapat A, maka ia akan berusaha menyalahkan pendapat B, C, dan D.

Perang Saudara dan Pembodohan

Indonesia itu negara yang luas wilayahnya, subur tanahnya, kaya sumber daya alam, dan banyak penduduknya. Maksud saya, “Indonesia” adalah sebuah negara dan bangsa yang akan sangat menyenangkan bila menjadi jajahan. Sumber daya alamnya dikeruk, lalu sumber daya manusianya dijadikan buruh.

Kalau saya adalah seorang penjajah, maka saya akan menghancurkan Indonesia dengan dua cara; pembodohan dan perang saudara. Dengan proses pembodohan bangsa Indonesia, maka sumber daya alamnya bisa dijarah tanpa perlu peperangan. Tidak ada perlawanan, karena bangsa Indonesia memang tidak tahu sedang dijarah.

Mantan Presiden Indonesia ke-3, B.J. Habibie pernah mengusulkan sistem pendidikan nasional direvolusi agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang cerdas dan kreatif, tapi usul itu tidak pernah ditanggapi. Dahulu beliau mengusulkan agar sistem soal kurikulum pendidikan Indonesia bukan “pilihan ganda”, tapi memakai “jawaban esai.”

Sistem pertanyaan dengan model jawaban pilihan ganda membuat siswa-siswa di seluruh sekolah Indonesia (menurut beliau) hanya pandai menghapal. Tapi, jika sistem pertanyaan dengan model jawaban esai, siswa-siswa di seluruh Indonesia (menurut beliau) akan menjadi pandai menghapal dan kreatif memecahkan masalah.

Jawaban esai menuntut kreativitas cara menjawab, juga mendidik generasi penerus bangsa untuk lebar pemikirannya. Dengan terbiasa dididik sejak SD hingga SMA bahwa bermacam-macam jenis jawaban bisa bernilai sama, maka para generasi penerus bangsa akan bisa hidup menjadi “manusia Indonesia.”

Konsep Bhinneka Tunggal Ika akan sulit dipahami oleh orang-orang yang sejak kecil disekolahkan untuk memandang dunia ini adalah “hitam-putih”. Kalau jawaban (a) yang betul, maka jawaban (b), (c), dan (d) adalah salah. Ya, sistem pendidikan nasional di Indonesia saat ini secara tidak langsung menyuburkan paham radikalisme agama.

Bisa kita amati bersama, banyak “orang kota” yang pandai soal ilmu agama, tapi justru adalah kalangan yang paling kejam dalam beragama. Kekacauan sosial karena alasan agama seringkali justru terjadi di perkotaan.

Hal itu terjadi karena masalah pola pikir. Karena terbiasa diajari “jawaban yang paling benar adalah satu saja” sejak SD sampai SMA, maka saat beragama pun pola pemikiran seperti itu dipakai. Dipikirnya Gusti Allah itu seperti guru sekolah. Dipikirnya Gusti Allah itu seperti manusia biasa.

Kalau Muhammadiyah menetapkan Idul Fitri jatuh pada hari Senin, maka umat muslim yang ibadah shalat ied di hari Selasa dianggap warga Muhammadiyah menyalahi agama Islam. Kalau NU menetapkan shalat tarawih sebanyak 20 raka’at, maka umat muslim yang ibadah shalat tarawih dengan 8 raka’at dianggap nahdliyyin menyalahi agama Islam.

Agama Islam adalah Akhlak ?
Inti agama Islam sebenarnya adalah akhlak. Maka dari itu, ilmu tasawuf berada di atas ilmu fikih. Kalau menurut bahasanya KH. Muhammad Ainun Nadjib, “kebenaran” adalah tingkatan paling rendah, karena di atasnya ada “kebaikan”, lalu di atasnya lagi ada “keindahan.”

Anda jangan salah mengira dulu. Maksud beliau adalah, tingkatan paling rendah adalah “benar-salah” saja. Di tingkatan kedua, kebenaran tersebut harus ditambah pertimbangan “baik-buruk.” Di tingkatan ketiga, kebenaran yang sudah mengandung kebaikan, harus ditambah pertimbangan “indah-jorok.”

Memang saya akui, konsep beliau sulit dipahami oleh umat Islam di Indonesia yang sedari SD sampai SMA dididik dengan sistem berpikir (a), (b), (c), atau (d). Sebab beliau menawarkan cara berpikir yang siklikal, sementara sistem pendidikan nasional kita mengajarkan cara berpikir yang linier.

Kebenaran itu sangat penting, tapi bukan yang utama. Kebenaran harus ditambahi kebaikan dan keindahan. Jika ketiga elemen itu bersatu di dalam jiwa seorang muslim, maka ia akan bisa mencapai derajat “kemuliaan.”

Kita pakai contoh kasus saja, agar lebih mudah dipahami. Kita pakai contoh kasus NU – Muhammadiyah saja, untuk menjelaskan maksud “kebenaran adalah tingkatan paling rendah di agama Islam” dan “kebenaran + kebaikan + keindahan = kemuliaan adalah tingkatan paling tinggi di agama Islam.”

Misalnya, sekali lagi ini cuma misalnya, kalau Muhammadiyah menetapkan Idul Fitri di hari Senin dan NU menetapkan Idul Fitri di hari Selasa, bagaimana sikap Anda?

Kalau Anda menggunakan tingkatan paling rendah di agama Islam, yaitu “kebenaran” saja, saya jamin hari lebaran Anda adalah hari penuh kebencian. Misalnya Anda adalah warga Muhammadiyah, maka Anda akan berusaha semaksimal mungkin melecehkan ibadah shalat Ied puluhan juta Nahdliyyin. Entah dengan mencari dukungan riset, ataupun hanya sekadar cacian tanpa dasar. Sebaliknya pun demikian.

Kalau Anda menggunakan tingkatan paling tinggi di dalam agama Islam, yaitu “kebenaran + kebaikan + keindahan = kemuliaan,” saya jamin hari lebaran Anda adalah hari penuh kasih sayang. Apapun hari yang Anda pilih, apapun organisasi Anda.

Anda akan berpikir; daripada sibuk menerka ijtihad ormas mana yang benar, lebih baik tawakal pada Allah SWT dan berbaik sangka kepada “pihak lain.” Jadi, warga Muhammadiyah dan Nahdliyyin akan saling mendoakan. Warga Muhammadiyah mendoakan ibadah para Nahdliyyin diterima Allah, demikian pula sebaliknya.

Daripada membahas shalat shubuh yang paling benar adalah pakai doa qunut atau tidak, lebih baik dan lebih indah adalah saling mendoakan shalat shubuh semua umat Islam di Indonesia diterima oleh Allah. Daripada membahas shalat tarawih yang paling benar adalah 8 raka’at atau 20 raka’at, lebih baik dan lebih indah adalah saling mendoakan shalat tarawih semua umat Islam di Indonesia diterima oleh Allah.

Pertikaian Penyebab Keterpurukan
Ketika dua gajah bertubrukan, yang sebenarnya menang adalah para pemburu gajah. Saat NU – Muhammadiyah sibuk bertikai, yang rugi adalah umat Islam di Indonesia. Rakyat miskin jadi semakin tidak terurus, anak yatim jadi semakin terlantar, jadi ada perang saudara, dan bangsa Indonesia jadi bangsa sangat lemah.

Jadi,  jika Anda ingin rakyat miskin semakin tidak terurus, anak yatim semakin terlantar, ada perang saudara, dan bangsa Indonesia menjadi bangsa sangat lemah, silakan Anda semua senang bertikai. Kalau Anda adalah warga Muhammadiyah, hinalah NU sekejam mungkin. Begitu pula sebaliknya. Kalau Anda adalah Nahdliyyin, tertawakan Muhammadiyah sekeras mungkin.

Tetapi, kalau Anda ingin menjadi muslim yang mulia dan ingin melihat Indonesia kuat, kembalilah ke ajaran leluhur kita; Bhinneka Tunggal Ika. Kemuliaan adalah ketika kita sudah bisa saling mendoakan “pihak lain” masuk surga secara bersama dan sama-sama bisa bertemu Nabi Muhammad SAW. Berbeda-beda jalan, tapi tetap satu jua tujuannya; menggapai ridha Allah SWT.

———————————

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL