bung tomoOleh: Umar Zain Assegaf

Bulan Agustus adalah bulan spesial bagi kita, rakyat NKRI. Setiap Agustus, saya selalu terkenang pengalaman indah di waktu kecil dulu, yaitu membuat rangkaian kertas minyak merah putih dan digantung di depan rumah, serta ikut lomba-lomba di kampung. Saya juga terkenang masa remaja, saat menjadi panitia acara Agustusan lewat karang taruna. Kadang kami tampil saat acara tirakatan dengan menyajikan drama yang saya sisipkan nasehat Islami.

Tapi, terhitung sekitar 10 tahunan lalu hingga tahun ini, suasana kemeriahan Agustusan, khususnya di daerah saya, sangat jauh berbeda. Mungkin di derah lain gregetnya masih tampak, namun saya rasa juga sama saja.  Semangat anak-anak kecil dalam ikut lomba, semangat para pemuda karang taruna, bahkan semangat orang-orang tua dalam memasang bendera di depan rumah pun semakin surut.

Memang banyak sekali faktor yang membuat semangat dalam merayakan Agustusan semakin luntur. Di samping kesibukan, orang sekarang yang cenderung ingin hal-hal praktis alias tidak mau repot-repot di luar urusan pekerjaan. Faktor kemodernan, terutama meluasnya game online dan gadget juga membuat anak-anak kecil dan anak muda lebih suka sibuk dengan dunia maya, dibanding bersibuk ria di dunia nyata, untuk menyiapkan acara Agustusan.

Meski saya juga lebih suka acara yang simpel dan tidak merepotkan, saya tetap merindukan suasana yang dulu. Kemeriahan yang dulu benar-benar sangat terasa di bulan Agustus, memunculkan semacam semangat kepahlawanan di dalam hati. Semangat kepahlawanan, cinta bangsa, dan persatuan dengan sesama warga, adalah nilai-nilai penting dalam perayaan Agustusan, yang seharusnya dijaga.

Sayangnya, kenyataan yang ada saat ini adalah, alih-alih semakin meresapi makna kemerdekaan tapi masyarakat malah semakin cenderung membuang nilai-nilai ketimuran, nilai-nilai yang dulu diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa. Para pahlawan mengusir para penjajah bukan karena benci, bukan karena anti-asing, tapi karena penindasan mereka serta karena mereka memaksakan nilai-nilai asing yang bertentangan dengan nilai-nilai ketimuran.

Para penjajah datang ke Nusantara dengan semangat Gold, Gospel and Glory, yaitu pencarian kekayaan, penyebaran agama (Kristen oleh Inggris dan Katholik oleh Portugis), dan perluasan wilayah kekuasaan. Kedatangan mereka telah mengganggu tatanan masyarakat yang sudah tertata baik. Demi mensukseskan 3 misi tadi, membuat mereka melakukan tindakan pemaksaan, penindasan dan kesewenang-wenangan kepada penduduk setempat

Tapi, Alhamdulillah, Islam yang lebih dulu masuk di negeri ini dengan jalan damai sudah mengakar di hati para penduduknya. Karenanya, dengan cara apapun mereka berusaha mengubah keyakinan rakyat, tetap tidak berhasil. Padahal mereka itu cukup lama memegang kekuasaan penuh saat itu dan biasanya penyebaran agama sangat efektif jika lewat jalur kekuasaan. Namun mungkin hanya sekitar 5 persen dari penduduk Nusantara yang meninggalkan ajaran Islam.

Upaya penjajah dalam merusak tatanan masyarakat, disertai berbagai bentuk kezaliman, mendorong para ulama di negeri ini untuk memimpin perjuangan mengusir para penjajah. Jika kita lihat dalam sejarah,  hampir semua pahlawan perjuangan adalah ulama. Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin, dan Wali Songo, adalah ulama yang juga pemimpin  perjuangan. Di antara Wali Songo, ada Sunan Gunung Jati yang langsung turun tangan mengutus muridnya Fatahillah berjuang melawan penjajah.

Jiwa revolusioner mereka muncul asas dasar agama, yaitu penolakan terhadap penindasan, kesewenang-wenangan dan penjajahan. Itulah yang paling ditakuti oleh para Penjajah, mereka menyebut para ulama pejuang ini dengan sebutan “Paus Islam”, karena pakaian mereka putih-putih, seperti Paus dalam agama Katholik.

Selain berjuang dalam medan perang, mereka berjihad dalam dunia pendidikan. Lembaga pendidikan Jamiatul Khair didirikan oleh para Habaib pada tahun 1901, lebih dulu daripada Budi Utomo yang dibentuk pada tahun 1908. Jamiatul Khair dianggap lebih berwawasan kebangsaan. Sarekat Islam yang lahir di tahun 1911 juga terinsprirasi dari Jamiatul Khair.

Pertanyaan yang muncul saat ini adalah, apakah penjajahan, kesewenang-wenangan dan penindasan itu sudah hilang dari negeri yang kita cintai ini? Sayangnya tidak, mereka sudah berubah wajah menjadi orang-orang Indonesia, tapi mengadopsi kerakusan dan kezaliman penjajah. Sikap-sikap egois, sewenang-wenang, penindas, haus kekuasaan, masih sangat banyak kita temui di tengah bangsa ini. Belum lagi masalah kebobrokan moral, gaya hidup kebarat-baratan yang jauh dari etika agama.

Perjuangan panjang para ulama dalam merebut kemerdekaan, kini harus dilanjutkan oleh para ulama hari ini. Negeri ini rindu dengan sebuah masa, di mana pemimpin mereka adalah ulama-ulama yang ikhlas, dan sultan serta rakyatnya patuh kepada ulama-ulama yang ikhlas itu. Umat rindu pada media yang menjadi corong perjuangan, bukan perusakan. Media yang menjadi penerus lisan ulama bukan pengusaha atau penguasa korup. Media yang menjadi alat pemersatu rakyat, bukan adu domba umat. Semoga, masa itu segera tiba. Amin, Allahumma aamiiin. (LiputanIslam.com).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL