Sumber foto: facebook

Sumber foto: facebook

Oleh: M. Ilham Fadli (Dosen IAIN Imam Bonjol)

Dik, mari kita bicara politik, walau sederhana.

Tahukah kamu, politik itu hanya diikat oleh satu kata saja: kepentingan. Agama dan ideologi itu, hanyalah penguat dan perekatnya saja. Bila kepentingan dirasa sama, maka semua ideologi terasa jadi sohib-karib. Beberapa kawan Abang berkata, “Mana bisa komunisme satu biduk dengan agama, utara-selatan bro!” Cukuplah eksperimen politik Soekarno yang menjawabnya: Nasakom, Dik. Nasionalis agama komunis yang disatupadukannya menjadi satu paket dengan aura revolusi.

Lalu lihat Dik, mana mungkin Iran menyatu dengan Arab Saudi dan Amerika Serikat? Itu sekarang. Bagi yang melihat realitas sebelum tahun 1979, justru akan terkejut. Jimmy Carter, Presiden Amerika Serikat masa itu pernah mengatakan, “Sahabat terbaik yang saya miliki di Timur Tengah adalah Syah Reza Pahlevi (Kaisar Syahansyah Iran), Menachen Begin (PM Israel), Anwar Sadat dan Arab Saudi.”

Tahukah kamu, Dik, kedatangan Raja Iran ke Arab Saudi maupun ke Amerika Serikat selalu disambut dengan “karpet merah”. Kepentingan yang menghadirkan semua itu. Lebih spesifiknya, bisnis. Minyak, ya minyak, Dik. Ketika kepentingan tak lagi saling menguntungkan, Iran bagi Amerika Serikat dan negera-negara sekutunya adalah menjadi salah satu negara “poros setan”, istilah yang dikeluarkan oleh George W. Bush Jr.

Dik, pernahkan kamu menonton film Bourne, tiga serial itu? Film yang diputar berkali-kali di TV swasta nasional. Film yang dibintangi Matt Damon tersebut memang luar biasa. Kamu juga sering memuji film ini. Dari film itu kamu akan tahu, makna politik yang dihubungkan dengan kepentingan. Bagaimana Bourne yang ditugasi untuk memuluskan suatu proyek rahasia. Bourne yang menjadi kesayangan dan diandalkan pimpinannya itu, ternyata gagal untuk memuluskan rencana rahasia tersebut. Tahukah kamu apa harga yang harus dibayarnya?

Bourne dikejar-diburu dengan satu target: dilenyapkan. Seluruh data dan opini “disesuaikan” agar Bourne layak untuk dilenyapkan. Tahukah kamu siapa yang berusaha melenyapkan Bourne? Bos-nya. Dahulu Bourne diandalkan untuk menjalankan misi, namun ketika misi tak lagi efektif, maka pantas untuk dilenyapkan. Kepentingan yang merubah “sudut pandang”. Data dan opini, hanya bumbu yang bisa dibentuk kemudian.

***

Lalu lihatlah foto ini!

VIA1Reagan dengan Mujahiddin Afghanistan (termasuk Osama bin Laden) adalah sohib. Kemudian, ketika misi sukses dan kepentingan tidak lagi ada, berubah menjadi lawan. Opini dan data, dimunculkan belakangan.

Saddam Hussein selama hampir 10 tahu menjadi harapan besar Amerika Serikat dan sekutunya (Eropa dan Timur Tengah) untuk mengahncurkan rezim demokrasi-teokratis Iran. Seluruh biaya dan sumber daya diberikan kepada Saddam Hussein. Pembunuhan terhadap suku Kurdi dan warga Syiah di Irak oleh Saddam Hussein kala itu dianggap sesuatu wajar, karena Saddam putra Tikrit ini sedang menjalankan misi besar, mengembalikan kejayaan Kekaisaran Persia yang direbut Ayatullah Ruhullah Khomeini.

Tapi Saddam gagal. Kemudian Saddam dimusuhi, dibunuh dan dianggap pemimpin jahat. Pembenarannya, disusun belakangan, pokoknya Saddam harus tumbang. Apalagi ditambah ketika Saddam mulai meningkatkan “daya tawarnya” ketika mencaplok Kuwait dengan alasan historis. Dari pangkalan militer Amerika Serikat di Arab Saudi, Saddam di gempur oleh Bush senior. Jenderal Norman Schwarzkopf memimpin operasi yang dinamakan Badai Gurun itu. Kuwait bebas, Saddam terkucil, dari politik dunia khususnya pergaulan antar negara di Timur Tengah. Saddam ditinggalkan.

Setelah Bush senior tak lagi menjadi Presiden, Clinton naik 2 periode. Saddam masih eksis dengan keterkucilannya. Tapi Saddam tak memberikan konsensi eksplorasi ladang-ladang minyak kepada negara-negara Barat. Tersebabkan ini pula, Bush junior, anak dari Bush senior, yang kedua-duanya adalah Presiden Amerika Serikat – negara yang merupakan sahabat kental Saddam Hussein tahun 1980-an, bernafsu menguasai Irak. Maka, pembenaran dicari dan dibentuk-konsturksikan. “Saddam diktator, megalomaniak dan pembunuh rakyat”, demikian kata Bush junior, anak dari Bush senior. Senjata pemusnah massal, pembunuhan suku Kurdi dan Syiah dijadikan alasan untuk menghabisi Saddam. Akhirnya, sejarah mencatat, Saddam berakhir di tiang gantungan. Senjata pemusnah massal tak terbukti. Justru, para pialang minyak berebut menguasai ladang-ladang minyak kaya Irak. Duka lara rakyat Irak hingga hari ini terus berlanjut. Dollar tetap mengalir dari minyak bagi negara-negara Barat.

***

Selanjutnya, mari lihat Khaddafi, Dik. Siapa yang tak kenal Khaddafi. Seorang pemimpin negara Islam yang dianggap “gila” oleh banyak pihak. Membincangkan Khaddafi ini, sungguh teramat menarik. Mari sedikit agak panjang Abang berkisah tentangnya. Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, Khaddafi yang pernah mengatakan, “Tak perlu menghiba-harap pada AS dan Uni Sovyet karena pada dasarnya kedua-duanya sama, yang satu imperialis lainnya atheis”, selalu melakukan hal “gila” untuk memperlihatkan solidaritas (sesama muslim)nya.

Khaddafi dikenal memiliki solidaritas diantara kaum muslimin internasional yang sangat tinggi. Pada tahun 1972, Presiden Uganda nan fenomenal itu, Idi Amin gagal mendapatkan bantuan keuangan dari Israel yang telah lama membantu negara “benua hitam” ini. Sewaktu ia mau pulang ke negaranya, Idi Amin menceritakan kegagalannya memperoleh bantuan keuangan dari Israel. Oleh Khaddafi kemudian, Idi Amin diberikan bantuan dua kali lipat dari permintaan Idi Amin pada Israel. Syaratnya tak banyak – putuskan hubungan diplomatik dengan Israel. Itu saja. Dan uang dianggap lunas, tak perlu dikembalikan.

Ketika tentara Israel menghantam pesawat-pesawat terbang Uganda karena Uganda dianggap terlibat kasus penyanderaan orang Yahudi dalam penerbangan Air France dari Athena tahun 1975 (?), Khaddafi dengan amat cepat mengganti pesawat-pesawat Uganda ini dengan pesawat-pesawat tempur Mirage buatan Perancis. Perancis-pun marah karena dibohongi Khaddafi yang mengatakan bahwa pesawat-pesawat Mirage yang dibelinya itu untuk kebutuhan dalam negeri. Khaddafi tak ambil pusing. Bagi Khaddafi, Perancis hanya “ngambek”, nanti bila dikasih (tambahan) konsensi minyak, pasti tersenyum lagi.

Di Afrika, Khaddafi tidak hanya membantu Uganda saja. Banyak negara-negara lain di “benua hitam” ini menerima uang pemberian Khaddafi. Bantuan “gratis” dengan syarat mudah – negara-negara penerima bantuan Khaddafi harus memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel. Nasserianisme-nya teramat kental.

Namun seiring dengan perjalanan waktu, Khaddafi “meluaskan” wilayah hasrat politik internasionalnya. Ia memberikan bantuan tidak lagi dengan syarat pemutusan hubungan diplomatik dengan negara Israel saja. Khaddafi justru membantu elemen-elemen masyarakat yang memberontak terhadap negara mereka masing-masing. “Seandainya Afrika Selatan dekat dengan negara kami secara teritorial, tentu saya akan memberikan bantuan keungan dan persenjataan pada mereka untuk melawan rezim Apartheid,” kata Khaddafi.

Perlawanan IRA (pembebasan Irlandia Utara) terhadap Inggris juga (konon) turut di back-up secara finansial oleh Khaddafi. Demikian pula dengan pergolakan penduduk Islam d Moro di Filiphina Selatan. Bahkan Presiden Filiphina pada masa itu, Ferdinand Marcos, sering dikutuk dan dicaci maki Khaddafi. Sambil mengutuki Marcos, bantuan keuangan dan senjata terus mengalir ke Filiphina Selatan dari Tripoli. Bahkan disinyalir, Khaddafi juga terlibat dalam perjuangan masyarakat muslim Thailand Selatan (Yala, Narathiwat dan Pattani). Di kawasan bergolak yang tadinya merupakan milik Sultan-Sultan Melayu tersebut, pergolakan tidak seseru Filiphina Selatan, tapi campur tangan Khaddafi cukup diperhitungkan.

Khaddafi – terlepas dari kontroversialnya – adalah sahabat TTM (teman tapi mesra) dari Pemimpin Perancis (Nicholas Sarkozy), termasuk sahabat baik Obama (AS), Silvio “playboy” Berlusconi dan Tony Blair (PM. Inggris). Bahkan Qaddafi menjadi donatur utama pembiayaan kampanye Sarkozy. Tapi lihatlah, ketika kepentingan tak lagi menyatukan mereka, justru Sarkozy, Tony Blair dan Obama yang menghabisi Khaddafi. Atas nama menciptakan dan menjaga demokrasi, Sarkozy turut andil dalam menghabisi sahabat yang juga menjadi donatur utama kegiatan politiknya.

Jadi jangan heran kamu, Dik. Suatu saat, pada masa cucu kita, bisa jadi Amerika Serikat bersahabat erat dengan Korea Utara – itu lho, negara yang “menuhankan” keturunan KIM (Kim Il-sung – Kim Jong-il – Kim Jong-un). Bisa pula, negara-negara Barat tak akan lagi mengacuhkan negara-negara kaya teluk di Timur Tengah, apabila cadangan minyak mulai menipis. Itu menjadi biasa Dik dalam politik. Bahkan Soekarno pernah mengatakan, “revolusi saja biasa memakan anak kandungnya”, apatah lagi hanya sekedar untuk mengalihkan opini politik. Jadi jangan heran, bila hari ini ideologi A dipuji-julang, sementara B diburuk-burukkan, bisa jadi nanti mereka bergandengan tangan ataupun menjadi sebaliknya, A yang buruk sedangkan B adalah yang paling baik.

Sekian saja dulu, Dik. Teruslah membaca dan menelaah dengan penuh arif. Jangan potong sebuah peristiwa hanya pada saat sekarang. Sebuah peristiwa itu terbentuk dari perjalanan historis yang panjang. Peristiwa itu tak hadir dengan sendirinya, sebagiamana tak ada seorang tokoh yang datang dari “dunia antah barantah”. Maka pelajari itu, lalu silahkan berpendapat, walaupun pendapat kita berbeda, tak masalah. Berbeda itu biasa, seperti abangmu suka air teh, sementara kamu mau ingin muntah meminumnya. Tapi justru dari perbedaan itu romantisme terbentuk. (ba/LiputanIslam.com)

—–

Artikel ini disalin dari tulisan Muhammad Ilham Fadli di akun Facebook-nya.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL