Oleh: Irfan L. Sarhindi*

Terlepas dari semua posting-an bernada sedih dengan quote dari Alquran dan/atau hadis ditambah puisi “ketika tangan tak mampu menggapai” yang berseliweran di detik-detik final puasa dan proklamasi kemenangan hari raya melalui gema takbir dan Salat Id, Ramadhan seperti kekasih yang kita gombali ketika dekat, lalu kita lupakan begitu saja tak lama setelah terpisah. Kita move on kepada Syawal dan mengubah kembali orientasi perhitungan kalender kita ke Masehi. 

Kita mengeset kembali diri dan akhlak kita ke pengaturan awal, menanggalkan sejumlah titipan, kenangan, dan jejak yang coba diinternalisasi oleh lelaku puasa selama Ramadhan. Ramadhan jadi bulan yang (tak) dirindukan. Memang kita menyambut Ramadhan dengan suka cita, memperlakukan kehadirannya seperti kita menyambut suatu festival maha agung, pesta raya, sehingga keistimewaannya tidak hanya harus disyukuri melalui kesetiaan iktikaf dan tarawih di Masjid, tetapi juga sa’i di pasar berburu daging dan sayuran demi sahur dan buka puasa yang istimewa.

Tapi toh perlakuan spesial itu sepertinya bersifat seremonial semata. Nilai-nilai yang dibawa serta oleh Ramadhan dan ditawarkan (atau dijejalkan, disublimasikan) melalui puasa, kita tanggalkan seiring semakin dekatnya puncak gunung perjuangan. Itu sebabnya barangkali Nabi Muhammad menyebut banyak yang puasa sekadar dapat lapar dan dahaga. Misi dasar dan tujuan puasa sendiri cenderung tergerus euforia pesta raya itu, dilupakan di latar belakang, tidak tertengok dan tidak tertindaklanjuti. Alhasil, sulit bagi kita menumbuhkan kerinduan yang tulus kepada Ramadhan karena di sepanjang Ramadhan saja kita sudah bermanis muka tetapi berpaling hati. 

Padahal Ramadhan sejatinya adalah medium, suatu latihan ketat, semacam diklatsar, yang bertujuan la’allakum tatakum: mencetak dan membangun fondasi takwa. Karena ia membangun fondasi takwa, maka Ramadhan harus ditindaklanjuti dengan resolusi untuk mengejawantahkan ketakwaan dalam tingkah laku kita sehari-hari pasca Ramadhan. Artinya, ibadah kita –baik yang mahdah maupun ghairu mahdah– harusnya meningkat pasca Ramadhan, dan bukannya malah stagnan apalagi berkurang. 

Bagaimana caranya? Sederhana. Kita bedah ketakwaan “macam” apa sih yang digagas dan diinternalisasi oleh puasa Ramadhan. Pertama, latihan menahan diri (puasa). Menahan diri ini penting dalam konteks kehidupan berdemokrasi demi terwujudnya kemaslahatan dan keadilan sosial. Menahan diri terhadap apa? Setidak-tidaknya dalam hal makan dan minum. Puasa melatih kita untuk kuluu wasyrabuu wala tusrifu (makan dan minum secukupnya). Menyesuaikan selera dan nafsu dengan kapasitas perut sehingga tidak menumpuk sampah makanan yang hari ini masih jadi persoalan besar umat manusia. 

Sayangnya, bahkan sepanjang Ramadhan saja nafsu makan kita tetap kalap. Makanan yang terbuang karena kita lapar mata saat berburu takjil atau saat bikin makanan untuk sahur dan buka tidak bisa dibilang sedikit. Padahal setelah puasa terhadap nafsu makan ada puasa terhadap nafsu keserakahan yang lebih besar: memilah mana yang hak dan mana yang bukan; memilah mana yang dibutuhkan dan mana yang sekadar diinginkan. Singkat madah, puasa adalah tirakat membendung gejolak dan rayuan konsumerisme yang sebagaimana Thanos, inevitable (tak terelakkan). 

Kedua, dalam puasa kita mengenal konsep pembatalan pahala puasa. Yaitu sikap-sikap yang dianggap mencederai nilai-nilai puasa sehingga jika dilakukan pahala puasanya hilang dan/atau berkurang. Contohnya, berbohong, mengadu domba, ghibah, dan melihat sesuatu yang menimbulkan syahwat. Jika kita telaah, aturan-main ini sebetulnya adalah proses diklatsar untuk membangun komponen akhlak mulia di dalam diri kita sebagai pondasi ketakwaan tadi. 

Ambil contoh, puasa melatih integritas. Dalam integritas terkandung sikap jujur dan dapat dipercaya. Integritas adalah manifestasi akhlak ihsan yang diliputi kesadaran bahwa apapun yang kita lakukan dipantau oleh Allah sehingga setiap wewenang dijalankan dengan baik, setiap janji ditepati, setiap kata dijaga kejujurannya. Integritaslah yang menjadi tulang punggung dakwah Islam di era Nabi SAW dan para sahabat serta tabiin dan yang hari ini hilang di tengah-tengah jumlah Muslim yang seperti buih ombak di samudera Hindia. 

Hari ini kita masih gelisah menaruh sandal baru di halaman Masjid karena takut hilang, apalagi markir mobil/motor di luar rumah. Hampir dapat dipastikan jika kita ketinggalan tas di sebuah taman misalnya, dan kita cari kembali satu jam kemudian, tas itu mungkin sudah raib. Apalagi kalau lupa menaruh ponsel. Sementara di negara-negara maju yang Muslim menjadi minoritas, integritas justru tampak di mana-mana. Di Jepang, misalnya, atau bahkan di Eropa. 

Ketika mengikuti program pertukaran Muslim ke Australia, seorang Muslim Indonesia yang telah lama menetap di Melbourne curhat soal “susah dipercayanya” orang-orang Muslim. Di UK, saya dan teman saya ditipu landlord beragama Islam. Saat berhaji, kisah soal “penipua”‘ sangat lazim terdengar mulai dari jasa dorong thawaf bagi lansia dan difabel hingga pada jasa transportasi ke dan dari Arafah-Mina-Muzdalifah. Di Indonesia sendiri, ada begitu banyak kasus korupsi atau pencucian uang yang melibatkan tokoh agama, politisi dari partai Islam, para pebisnis umrah, serta pemangku jabatan di wilayah institusi keagamaan. 

Semua indikasi di atas menunjukkan belum tuntasnya misi Ramadhan, belum tercapainya tujuan puasa yang “telah diwajibkan atas kamu” ini. Mungkin karena puasa masih kita khidmati sebagai sebatas ritual (yang berat), atau karena kita terlena oleh sejumlah perayaan dan acara-acara pseudo-Islami di televisi, atau karena kesadaran akan Ramadhan yang lenyap seiring perjuangan berat perjalanan mudik dan kembali kerja sebagaimana para peserta diklatsar yang selain sertifikat, tidak mendapatkan apa-apa dari tiga hari dua malamnya di hotel berbintang dibiayai negara atau perusahaan. Tidak apa-apa, yang penting secara simbolik naik jabatan. Walau nyatanya mungkin tidak. (LiputanIslam.com) 

*pengasuh Salamul Falah, disalin dari Detik, 7 Juni 2019.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*