Foto:bungbens.wordpress.com

Foto:bungbens.wordpress.com

Oleh: Khadija, Blogger

Setidaknya ada tiga sosok wakil rakyat yang akan menghiasi panggung politik Indonesia yang telah lolos ke Senayan – yang ketiganya masih memiliki “hutang moral” terhadap rakyat Indonesia, dan rasanya sulit untuk dipercaya jika ketiga tokoh tersebut lagi-lagi dititipi amanat oleh rakyat. Dengan berbagai kasus yang pernah mereka hadapi sebelumnya, rasanya saya tidak ingin melihat wajah-wajah itu lagi.  Namun, kenyataan tidaklah selalu sama dengan harapan, dengan senyum kemenangan, wajah-wajah mereka pun kerap kali memenuhi ruang media.

Pertama, Mantan Bupati Garut Aceng HM Fikri yang sempat jadi sosok kontroversial gara-gara menikahi dan menceraikan istri sirinya dalam empat hari, lolos menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari Jawa Barat (Tribunnews, 14/5). Dari data yang diperoleh dari KPU Jawa Barat, Aceng Fikri menempati posisi ketiga perolehan suara anggota DPD dengan mengantongi 1.139.556 suara. Luar biasa, Aceng yang dulu dikecam habis-habisan hingga akhirnya dimakzulkan dari jabatannya, tak menjadikannya lantas minim dukungan. Satu juta lebih rakyat Jabar menitipkan amanah padanya. Rakyat Jabar pelupa?

Kedua, Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) merajai perolehan suara di daerah pemilihan (dapil) Jawa Timur (Jatim) VII. Putra bungsu Presiden SBY ini medapatkan 243.747 suara. Padahal pada periode 2009-2014, di tengah jalan Ibas mengundurkan diri, yaitu pada Februari 2013. Saat itu Ibas beralasan akan fokus pada urusan partai dan dia mengaku sedang banyak persoalan termasuk kondisi anaknya yang sakit (Kompas, 26/4).

Seorang wakil rakyat yang memilih mundur dari masa tugasnya demi anaknya yang sakit – layakkah disebut wakil rakyat sejati? Para pejuang kemerdekaan Indonesia dahulu kala, bahkan rela mengorbankan nyawanya demi tanah air, menempatkan kepentingan bangsa diatas segala-galanya, termasuk kepentingan pribadi maupun kelompok – dan tentu sangat bertolak belakang dengan apa yang dilakukan Ibas. Toh meski begitu, Jatim tetap memilih Ibas. Rakyat Jatim pelupa?

Sementara di Jakarta, Charles Honoris, – adalah seorang anak buronan yang anehnya, perhelatan pemilu legislatif 9 April lalu mengantarkanya sebagai wakil rakyat di Senayan. Politikus dari PDIP ini merupakan anak pengusaha dari Samadikun Hartono, yang juga pengemplang dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) pada 1998 silam yang hingga kini masih jadi buronan. Pada 2002 lalu, Samadikun dituntut satu tahun penjara dan denda Rp20 juta karena telah merugikan keuangan negara sebesar Rp169 miliar. Namun, mantan Komisaris Utama PT Bank Modern ini melarikan diri ke Singapura saat kasusnya dalam proses kasasi.

Perolehan suaranya pun yang cukup fantastis, 96. 864. Maju dari partai PDI Perjuangan dengan daerah pemilihan (dapil) Jakarta III mampu mengungguli para tetuanya, Marzuki Alie dan Effendy Simbolon yang masing-masing hanya mendapat suara 25.897 suara dan 89.028 suara (Pemilu.com, 4/5).

Terpilihnya Charles Honoris juga mengundang tanda tanya besar. Bagaimana mungkin anak seorang buronan juga tetap dititipi amanah oleh rakyat Indonesia, sementara dilain pihak, ayah kandungnya sendiri adalah seorang yang tidak bisa menjaga amanah. Tentu saja, perangai buruk orang tua tidak serta merta menurun kepada anak, tapi tetap saja seorang anak buronan punya tanggung jawab dan bekerjasama dengan pemerintah untuk melakukan tindakan [kepada sang ayah] sesuai dengan hukum yang berlaku. Tapi apa boleh buat, inilah pilihan rakyat Indonesia. Indonesia yang mudah sekali lupa.

 

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL