Oleh: Asma Nadia*

Idul Qurban bukan sekadar perayaan ritual penyembelihan hewan belaka, melainkan mewakili ajaran Islam dan kehidupan secara menyeluruh. Di dalamnya tekandung iman, pembelajaran, motivasi, kepedulian, bahkan ilmu pengetahuan.

Idul Adha adalah pembelajaran tentang dakwah, pengasuhan, dan pendidikan keluarga. Kisah Ibrahim menunjukkan betapa sang nabi sangat berhasil mendidik keluarga –dalam hal ini mendidik istri– untuk mempunyai iman yang begitu dalam.

Ketika sang bapak para nabi mengajak istrinya melakukan perjalanan melewati gurun tandus, terik siang dan gigilnya malam, Siti Hajar tidak pernah mengeluh. Karena ia tahu apa pun yang dilakukan sang suami ada dalam bimbingan Allah. Pun hingga akhirnya mereka menetap di sebuah padang gersang di Mekkah, sang istri tetap tidak mengeluh.

Akan tetapi Siti Hajar mulai bereaksi ketika sang suami pergi meninggalkan dirinya dan Ismail, berdua di tengah padang pasir. Berkali-kali sang istri memanggil, tapi Ibrahim tidak menoleh. Hingga akhirnya Siti Hajar bertanya, “Apakah engkau meninggalkan kami berdua, atas perintah Allah?” Ibrahim mengiyakan.

Setelah tahu kepergian suami atas perintah Allah, Siti Hajar memutuskan tidak menghentikan langkah suami. Ia ridha. Hati dipenuhi keyakinan, jika Allah yang memerintahkan Ibrahim meninggalkannya di padang tandus, maka Allah pasti menyiapkan sesuatu untuknya di sini. Terlihat bagaimana sang sumi menanamkan iman yang begitu kuat pada istri, sehingga ketika datang perintah Allah, tidak ada sikap lain kecuali taat dan ridha.

Bertahun lamanya Siti Hajar dan Ismail hidup di tengah gurun yang kini mulai ramai sejak mengalirnya air zam-zam. Selama itu pula Siti Hajar mendidik putranya untuk mengenal iman.

Saat Ismail beranjak remaja, ayahnya Nabi Ibrahim datang berkunjung. Sang istri tidak mengeluh atau mengajukan beragam tanya, ke mana saja suami selama ini. Namun perempuan sholihah tersebut menyambut penuh sukacita karena ia percaya tidak mungkin sang suami pergi kecuali atas perintah Allah. Meski kemudian, belum sempat berlama-lama bersama buah hatinya, Nabi Ibrahim menyampaikan perintah Allah untuk menyembelih Ismail.

Sebuah permintaan yang di luar nalar. Wajarnya reaksi adalah menolak, sedikitnya akan terjadi adu argumentasi, baik dari pihak istri maupun sang anak yang akan disembelih. Tapi Hajar dan Ismail merupakan dua manusia yang telah tertempa iman. Sang remaja dengan ridha merespons, jika itu kehendak Allah, ia ridha.

Tampak betapa Siti Hajar berhasil mendidik Ismail menjadi anak sosok sholeh yang menggenggam keimanan  tinggi. Siti Hajar adalah buah dakwah Ibrahim, dan Ismail adalah hasil pendidikan Hajar. Terlihat peristiwa Idul Adha mengajarkan kita tentang dakwah dan pendidikan dalam keluarga. Idul Adha adalah pembelajaran tentang motivasi dan usaha.

Saya terinspirasi sebuah seminar yang diisi seorang pemuda, Dewa Eka Prayoga, menerapkan prinsip ini ketika dirinya dililit utang hingga 7 miliar rupiah. Ia hanya menjalankan apa yang dilakukan Siti Hajar. Bergerak.

Siti Hajar berlari bolak-balik Shafa-Marwah mengejar fatamorgana. Secara logika, tidak mungkin sang wanita bisa mendapatkan air di Mekkah. Daerah itu tandus dan tidak ditinggali manusia karena kering.

Akan tetapi, itu menurut matematika manusia. Hitungan Allah berbeda. Siti Hajar tahu benar, baginya yang penting bergerak dan membuktikan pada Allah ia telah berusaha. Ia yakin Allah akan memberi jalan. Dan terbukti dengan dikucurkannya mata air zam-zam.

Untuk melunasi utang yang di atas kertas nyaris tak mungkin dilunasi, Dewa hanya bergerak sebagaimana Siti Hajar. Ia melakukan bisnis apa saja sekalipun terasa mustahil kelak bisa melunasi utangnya. Salah satunya bebisnis ceker, yang jika dihitung dalam matematika manusia, butuh waktu 800 tahun untuk membereskan utangnya.

Sebagaimana Siti Hajar, ia yakin selama bergerak, Allah akan memberi jalan keluar. Dan terbukti dalam dua tahun Allah memberi jalan padanya untu kmembersihkan utang-utang yang berjumlah miliaran.

Idul Adha juga secara implisit memotivasi umat Islam menjadi pribadi mapan. Sekalipun tidak wajib sebagaimana pergi haji, berkurban adalah ibadah yang sangat dianjurkan. Setiap muslim punya impian untuk datang ke Tanah Suci. Akan tetapi untuk mewujudkannya, membutuhkan dana yang tidak sedikit. Begitu pula berkurban.

Dengan kata lain, ibadah ini memberi motivasi pada kaum muslimin untuk memiliki penghasilan tinggi. Tidak sekadar cukup untuk makan dan kebutuhan sehari-hari, tapi juga penghasilan yang mampu membuat kita menabung.

Dari segi science, ternyata Idul Qurban memberi pembelajaran. Sebuah penelitian di Jerman mengungkap, penyembelihan hewan dengan cara syari, meski dianggap orang Barat kejam, terbukti secara ilmiah sebagai cara mematikan hewan paling beradab. Menyembelih dengan cara memukul terlebih dulu agar hewan pingsan, justru terbukti menyiksa, juga tidak sehat.

Idul Qurban mendidik umat berpikir cerdas memilih. Kita bisa membeli mobil mewah dan mahal, tapi semua hanya sanggup mengantar ke rumah, kantor, atau tempat tamasya. Akan tetapi, membeli hewan qurban membuat kita memiliki kendaraan yang akan mengantar kita ke surga. Insya Allah, selama keikhlasan, bukan alasan lain, yang menggerakkan.

*penulis, disalin dari Republika, 2 September 2017.

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL