stop-pornografiOleh: Nur Al Baniah*

Kisruh politik akhir-akhir ini menyerempet masalah pornografi. Ketika kasusnya menyinggung tokoh elit, aparat terlihat sigap bertindak. Tentu ini langkah baik. Tapi, mengapa aparat bertindak tegas hanya ketika masalah ini merugikan elit? Seharusnya, pornografi ditangani dengan serius dan fundamental karena pornografi merugikan seluruh bangsa ini.

Berita di media massa seolah tak putus melaporkan perilaku amoral orang Indonesia terkait pornografi. Yang membuat miris, pelakunya banyak yang dari kalangan remaja. Di Tanjung Pinang, sekelompok siswa-siswi SMP menonton bareng film porno yang dilanjutkan dengan pesta seks ketika tidak ada jam pelajaran. Dari Gunung Kidul, tersiar kabar beredarnya video mesum siswi SMP. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan pergaulan bebas  semakin merajalela di kalangan remaja. Kebanyakan remaja dari usia 14-18 tahun, telah melakukan seks bebas dan 97 persen karena diilhami pornografi serta melalui situs porno di internet.

Sekjen KPAI, Aris Merdeka Sirait, mengatakan, “Ada 62,7 persen siswa SMP sudah tidak perawan lagi dan 21,2 persen siswa SMA telah melakukan aborsi. Itu dilakukan kebanyakan oleh teman sebayanya.” (waspada.co.id)

Namun, sepertinya masih banyak yang tak peduli. Pemerintah seolah abai, begitu pula orang tua. Padahal, orang tua seharusnya bertanggung jawab menjadikan seorang anak yang faham agama, berkepribadian Islam.  Yang terjadi adalah, anak-anak sedari kecil ditinggal dirumah oleh orang tua yang pergi bekerja mencari penghasilan. Kaum ibu terpaksa terlibat disektor publik dan meninggalkan anak dirumah, diasuh oleh seorang pembantu. Pengasuhan anak, selain oleh pembantu yang kapabilitasnya rendah, juga dilakukan oleh media massa. Televisi, film, dan game seolah menjadi ‘pengasuh’ anak-anak hari ini. Para ibu sibuk melakukan aktivitasnya, sementara anak diasuh oleh alat elektronik. Nilai-nilai yang diserap anak pun adalah nilai-nilai yang disebarkan oleh media massa dan hiburan.

Ketika anak tumbuh remaja, mereka pun bergaul bebas tanpa batas, jauh dari kontrol orang tua. Sekolah pun lebih mengutamakan pendidikan kognitif. Pendidikan agama hanya didapatkan dua jam pelajaran perminggu, itupun dengan pola kognitif sehingga tidak berbekas dalam jiwa anak.

Lingkungan pun tidak kondusif dalam pendidikan karakter anak. Lihatlah betapa menjamurnya warnet di sekitar kita, tanpa ada kontrol pemerintah. Video porno mudah diakses siapa saja. Sehingga, Indonesia pun menjadi negara dengan pengakses pornografi terbesar kedua di dunia. Ketika pemerintah tak mengontrol, orang tua abai, lingkungan menjadi perusak, apa yang bisa diharapkan? Tak heran bila kasus-kasus amoral demikian merajalela di negeri ini.

Karena itu, pemerintah seharusnya memberlakukan aturan dan hukum yang tegas dalam menghalangi kemaksiatan pornografi. Sayangnya yang terjadi, UU anti pornografi justru dianggap anti HAM. Partai yang sekarang heboh membela Presiden ketika dihina dengan konten pornografi, justru partai yang dulu melakukan aksi walk out dalam sidang pengesahan Rancangan Undang Undang (RUU) Pornografi (Tempo, 28/10/2008).

Kembali kepada Ajaran Islam

Sungguh sayang, pelaku kemaksiatan di negeri ini, sebagian besarnya adalah umat Muslim. Padahal dalam Islam sudah termuat aturan yang sangat lengkap untuk umatnya, baik dalam aturan untuk individu atau masyarakat. Manusia diajarkan untuk tawaddu’, sabar, ikhlas, selalu senantiasa bersyukur, serta menahan diri dari hawa nafsu. Semua aturan itu sebenarnya untuk memuliakan manusia, agar derajatnya tetap mulia. Makhluk yang mengumbar nafsu tanpa aturan, jelas sederajat dengan hewan.

Pornografi jelas dilarang oleh Islam. Namun sains pun membuktikan bahwa pornografi memang merusak manusia. Pakar parenting, Elly Risman, merujuk penelitian Dr Donald Hilton Jr, dokter ahli bedah syaraf dari Amerika Serikat, mengatakan bahwa kerusakan otak akibat pornografi sama dengan kerusakan otak yang diakibatkan kecelakaan berkendara. Kerusakan otak yang disebabkan pornografi merusak lima bagian otak (bagian lobus Frontal, gyrus Insula, Nucleus Accumbens Putamen, Cingulated dan Cerebellum) yang berperan di dalam kontrol perilaku yang menimbulkan perbuatan berulang-ulang terhadap pemuasan seksual. Kerusakan fungsi otak tersebut mengakibatkan penurunan kemampuan belajar dan pengambilan keputusan yang menjadi keunggulan manusia sebagai agen perubahan transformasi sosial.

Apa jadinya bila generasi muda kita mengalami kerusakan seperti ini? Kehancuran akan menanti negeri ini di masa depan bila pemerintah tak juga mengambil tindakan tegas terhadap pornografi. Pemerintah harus melakukan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar di tengah-tengah masyarakat. Pemerintah perlu menerapkan ajaran-ajaran Islam, yang sebenarnya bermanfaat bagi seluruh manusia. Ajaran Islam, sesungguhnya tidak perlu ditakuti, bahkan seharusnya lebih banyak digali, demi menegakkan masyarakat yang sehat dan berperadaban mulia.

*Mahasiswa Sosiologi Agama UIN-Sunan Kalijaga Yogyakarta dan aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia

—–

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini, silahkan dikirim ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL