Oleh: Budi Bastian

 

Dalam surat keputusan bernomor 7/Munas VII/MUI/11/2005, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa haramnya paham pluralisme, sekulerisme dan liberalisme agama. Fatwa ini segera diikuti oleh kritik dan protes dari sejumlah pihak, terutama kaum liberal yang mendukung pluralisme dan sekularisme.

Di dalam surat keputusan MUI tersebut tercantum definisi sebagai berikut.

  1. Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif, oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.
  2. Pluralitas agama adalah sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.
  3. Liberalisme agama adalah memahami nash-nash agama (al-Qur’an dan Sunnah) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas, dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuaid engan akal pikiran semata.
  4. Sekulerisme agama adalah memisahkan urusan dunia dari agama, agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesama manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan sosial.

 

Dalam tulisan ini, saya akan fokus membahas dua istilah yang seolah sama tetapi berbeda, yaitu pluralisme dan pluralitas. Banyak penulis yang menyatakan bahwa pluralisme adalah kehendak Tuhan dan sekaligus kehendak alam (sunatullah).

Biasanya, pendukung pluralisme menyodorkan QS Al Baqarah ayat 62 (yang artinya),  “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabi’in, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari Kemudian serta beramal shalih, maka untuk mereka adalah ganjaran dari sisi Tuhan mereka, tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”

Bagi mereka ayat ini menjadi legitimasi kuat bahwa semua penganut agama adalah sama kedudukannya di hadapan Tuhan dan semua berkesempatan masuk surga. Karena itu,  menurut mereka, umat Muslim seharusnya tidak menolak paham ini dan semua insan mestinya menyadari bahwa pluralisme adalah potensi yang bisa melahirkan energi dalam membangun diri.

Mari kita tinjau dengan logika yang benar: ketika ada dua hal berbeda, pastilah salah satunya negasi dari yang lain. Hitam dan putih berbeda, maka yang hitam pasti bukan putih, yang putih pun pasti bukan hitam. Manusia dan hewan berbeda, maka manusia pasti bukan hewan, dan hewan pasti bukan manusia. Islam dan Kristen berbeda, tentu Islam pasti bukan Kristen dan Kristen pasti bukan Islam. Bagaimana mungkin kita sebut bahwa Islam sama dengan Kristen?

Jadi, bagaimana menjelaskan perbedaan pendapat ini?

Pertama, bila kita merujuk kepada kitab tafsir disebutkan bahwa QS Al Baqarah ayat 62 ini berbicara tentang umat terdahulu sebelum Rasulullah Muhammad SAW diutus. Setelah Islam datang, maka innad-diina ‘indal-Laahi Islaam (sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam).

Kedua, bila kita telusuri sejarah berkembangnya ajaran pluralisme, akan kita temukan bahwa tujuan akhirnya adalah membuat kaum beragama mencurigai agamanya masing-masing dan akhirnya malah bersikap skeptis atas agama. Paham ini dikembangkan oleh filsuf Inggris bernama John Hick yang mengatakan bahwa kebenaran tersebar dalam semua agama dan semua agama dapat dipakai menuju jalan keselamatan, sehingga suatu agama tidak boleh mengklaim diri sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Paham seperti ini akan menggiring kita pada paham relativisme, yaitu semua agama bisa benar, bisa juga salah. Bahkan kemudian muncul gerakan untuk mendekonstruksi agama Islam (sebagaimana para filsuf Barat juga mendekonstruksi ajaran Kristen). Bagi umat Islam, paham pluralisme jelas membahayakan karena akan menjauhkan umat dari ajaran Islam.

Namun demikian, sebagai sesama manusia dan sesama anak bangsa Indonesia, kita harus bersikap toleran satu sama lain. Toleransi tidak sama dengan pluralisme, toleransi adalah bagiku agamaku, bagimu agamamu. Keimanan masing-masing silahkan dipegang teguh, namun kita satu sama lain tetap bersikap santun,  menjauhi kekerasan terhadap penganut agama lain, serta selalu menjaga persatuan. Inilah yang disebut pluralitas, yaitu mengakui adanya perbedaan dan keragaman dalam kehidupan di dunia. (LiputanIslam.com)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL