KapitalismeOleh: Tarli Nugroho*

Masalah Indonesia hari ini bukanlah kebangkitan komunisme ataupun PKI. Percuma saja mengkhawatirkan semua itu. Tidak ada manfaatnya. Masalah Indonesia hari ini juga bukanlah pada bagaimana meyakinkan lebih banyak orang mengenai apa itu komunisme yang sesungguhnya, serta apa saja yang telah dilakukan PKI di masa pergerakan dahulu, di luar memori terbatas tentang 1965 dan 1948 yang kadung melekat di benak kebanyakan orang. Ikhtiar ini, meskipun perlu, sebenarnya tidak begitu penting juga manfaatnya.
Keduanya, baik mereka yang terlalu mengkhawatirkan kebangkitan komunisme dan PKI, serta yang berada di sisi sebaliknya, yaitu mereka yang terlalu mengkhawatirkan pemahaman kebanyakan orang mengenai komunisme dan PKI, bagi saya sama-sama hidup di masa lalu. Bedanya, keduanya hanya mengambil periode masa lalu yang berbeda saja untuk membenarkan posisinya.
Lalu, apa yang bisa kita anggap sebagai “masalah Indonesia”, lebih spesifik lagi, “masalah Indonesia hari ini”?!

Beberapa tahun belakangan ini, saya merasakan bahwa intensi konflik horisontal semakin meruncing. Pokok perkaranya mulai dari soal agama hingga politik. Efek konflik horisontal inilah yang mestinya kita khawatirkan, dan bukan latar belakang teknis konfliknya, yang umumnya sangat mikro dan bahkan kadang sepele. Sayangnya, kebanyakan kita lebih asyik dengan sisik-melik latar belakang teknikal konflik horisontal tadi, sehingga banyak meluputkan dampaknya. Ujungnya, kita kehilangan perspektif wide screen.

Saya merasa bahwa atmosfer negeri kita beberapa tahun belakangan ini sedikit banyak agak mirip dengan atmosfer yang terjadi menjelang 1965. Mohon jangan berpikir bodoh bahwa itu artinya komunis akan bangkit dan memberontak, atau tentara sedang menyiapkan barisan untuk kembali merebut kekuasaan.

Jika kita menengok kembali 1965, dan sedikit mengesampingkan kemasan “konflik ideologi”, yang akan terlihat sebenarnya adalah perang modal atau perang dagang, yaitu antara “modal Barat” dengan “modal Timur”.

Masing-masing kekuatan modal tadi tentu saja memiliki kaki tangan atau mitra di dalam negeri. Dan sebagaimana yang sudah berlangsung sejak jaman antik, setiap pertarungan dagang pasti selalu tampil dalam berbagai bungkus yang mentereng: perang agama, perang ideologi, atau sejenisnya. Padahal, di balik semua itu, hanyalah soal berebut kepeng semata.

Berbagai konflik politik dan konflik sosial yang terjadi di Indonesia masa itu, sebagian hanyalah berupa riak-riak kecil di pantai dari sebuah gelombang besar berupa perang dagang tadi. Kita tahu, tahun itu, tak lama sesudah Irian Barat kembali ke pangkuan Republik, modal dari Barat kemudian tampil menjadi pemenang. Modal dari Timur kalah, dan para pendukungnya jadi pesakitan.
Jepang, pemilik modal dari Timur yang kemudian jadi sekutu Barat, berhasil mencari jalan sendiri untuk bisa masuk tak lama sesudahnya. Dan mereka berhasil.

Setengah abad kemudian, kita kurang lebih kembali ke situasi yang sama. Itu sebabnya, atmosfer hari ini tak berbeda jauh dengan atmosfer pada masa itu. Kita asyik menikmati konflik horisontal yang hadir dalam berbagai bungkus, antara agamawan versus komunis, tradisionalis versus modernis, konservatif versus liberal, sipil versus tentara, pribumi versus keturunan, Islam Arab versus Islam Nusantara, serta berbagai kemasan simbolik lainnya, dengan mengabaikan wide screen bahwa sebagai sebuah bangsa kita sebenarnya masih memiliki titik singgung kepentingan yang sama, yaitu kesatuan dan keutuhan sebagai bangsa itu sendiri.
Sebagaimana yang pernah terjadi dulu, keasyikan terlibat dengan konflik horisontal telah melemahkan dan melengahkan kita dari gelombang besar pertarungan modal internasional. Buntutnya, kita kian permanen menjadi bangsa kacung, dan gagal menjadi tuan di negeri sendiri.

Sekali lagi, jangan lupa, kita saat ini memang sedang berada dalam tikungan yang mirip dengan 1965. Jika dulu ada faktor Irian Barat, serta soal renegosiasi berbagai kontrak migas dan pertambangan, sejak tiga tahun lalu hingga lima tahun ke depan, kita juga telah dan tengah menghadapi berbagai proses renegosiasi kontrak pertambangan dan migas, dimana Papua masih saja menjadi bagian dari isu sentralnya.

Jadi, kembali ke isu anti-komunis, anti-PKI, serta berbagai counter-nya, sebaiknya kita mulai belajar bahwa perang labeling itu hanya akan menjebak kita dalam konflik horisontal semata, dan melengahkan kita dari peta pertarungan yang sesungguhnya, yaitu pertarungan modal internasional di Indonesia. Dulu modal dari Barat begitu superior. Tapi kini modal dari Timur pun tak kalah pamor.

Baik Timur maupun Barat, keduanya sama-sama ingin menjadikan kita sebagai kacung. Dan alih-alih bekerjasama melawan para majikan, kita masih saja sibuk berperang sesama kacung.

Kalau kita membaca kembali tulisan-tulisan para pendiri Republik, problem yang mereka hadapi sebenarnya tak jauh berbeda dengan yang kita hadapi hari ini. Prasangka terhadap komunisme, Ahmadiyah, Syiah, serta berbagai aliran keagamaan, pemikiran dan ideologi, juga sudah hadir pada jaman mereka. Hanya, mereka sanggup berpikir cerdik dan bijak, bahwa masalah utama yang harus dihadapi oleh kaum Bumiputera bukanlah semua itu tadi, melainkan KOLONIALISME. Dan kolonialisme di Hindia-Belanda hanya akan bisa dienyahkan jika si tradisionalis, si modernis, si santri, si komunis, si syiah, si ahmadiyah, atau si katolik Bumiputera menyadari posisinya dan saling bekerjasama untuk menggusur kolonialisme tadi.

Jadi, apa yang kini seharusnya Anda lawan atau waspadai?! (LiputanIslam.com)

*Tulisan ini disalin dari akun facebook penulis.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL