pilkadaOleh: Heru Margianto, Editor Kompas.com

Rasanya, belum lama kita melewati waktu-waktu yang keras penuh pertikaian dalam Pilpres 2014 yang amat melelahkan. Sebuah masa ketika orang tua dan anak bermusuhan, kawan menjadi lawan, ikatan persaudaraan sebuah keluarga terbelah karena berbeda pilihan.

Perbedaan pilihan adalah sesuatu yang lumrah. Perbedaan adalah bagian yang tak terpisahkan dari realitas kehidupan kita. Dalam politik, kita memang tidak harus satu suara.

Masalahnya adalah betapa laranya hidup kita jika perbedaan itu diaktualisasikan melalui cara-cara yang menggerogoti jati diri ke-Indonesia-an dan kemanusiaan kita.

Jokowi dulu difitnah sebagai orang Tionghoa dan Kristen, padahal ia orang Jawa dan seorang Muslim. So what gitu lho dengan Tionghoa dan Kristen?

“Stempel” kesukuan dan agama sengaja disematkan untuk memancing sentimen kebencian. Jahat. Dia yang melakukan itu sungguh jahat, jahat sekali. Ia merusak akal sehat kebangsaan kita.

Agama menjadi komoditas, alat mencapai kekuasaan, sekadar barang dagangan, dan kehilangan maknanya sebagai perjalanan spiritual yang amat personal.

Masa-masa yang keras seperti pilpres kemarin sepertinya akan kita lalui lagi dalam Pilkada DKI Jakarta. Lini masa media sosial kita sudah mulai ditaburi oleh beragam sikap politik yang saling menyudutkan. Cilaka-nya, sungguh cilaka, agama dan suku kembali dijadikan peluru.

Ahok memiliki semua “dosa asal” agama dan kesukuan itu. Ia Tionghoa dan Kristen. Komplet “dosa”-nya.

Membela Akal Sehat

Tulisan ini sama sekali tidak ingin membela Ahok. Masyarakat Jakarta memiliki wisdom-nya sendiri tentang siapa yang akan dipilih sebagai pemimpin mereka. (Baca: Anomali itu Bernama Ahok)

Tulisan ini ingin mengingatkan soal martabat kemanusiaan kita yang berpotensi digerus oleh kaum penebar kebencian yang memerkosa akal sehat kita dengan memproduksi kabar bohong.

Sekali lagi, memproduksi kabar bohong, meme-meme hitam berisi fitnah keji. Tulisan ini ingin membela akal sehat kita sebagai Indonesia, juga sebagai manusia.

Pemilu belum lagi mulai. Calon belum jelas, belum ditetapkan, tetapi kegaduhan para suporter sungguh sudah riuh. Tidak suporter di sebelah sana, tidak suporter di sebelah sini. Tidak kabar bohong di sana. Tidak kabar bohong di sini. Ada juga yang belum punya calon yang mau didukung, tetapi sudah ribut minta ampun.

Ada yang Bergeser

Kita lalu melihat, diskusi kita di ruang-ruang media sosial tidak lagi soal gubernur Jakarta, tetapi pada polaritas keagamaan.

Ada yang bergeser dalam diskusi kita. Warisan sentimen masa lalu dari abad pertengahan yang belum sepenuhnya pulih harus kembali disiram minyak api.

Pilihan atas dasar keyakinan iman sepenuhnya harus dihormati. Sah. Betul. Ini negara demokrasi. Setiap orang berhak menyatakan pilihan mereka atas dasar apa pun.

Namun, menyebarkan kabar bohong berbungkus iman untuk menyudutkan pihak lain adalah perilaku yang tak sepantasnya dilakukan.

Memperdebatkan iman dengan maksud mencari siapa yang benar dan siapa yang salah hanya akan membawa kita pada kebuntuan. Masalahnya, tidak semua orang memiliki kebajikan untuk memaknai perbedaan sebagai sesuatu yang harus dihargai dan dihormati.

Padahal, Sang Pemilik langit menurunkan hujan untuk orang jahat dan orang baik; menerbitkan matahari yang sama untuk orang yang sembahyang dan tidak sembahyang; memberi merdu kicau burung untuk orang saleh dan tidak saleh.

Lalu, kenapa kita bertikai karena kita berbeda? Jika ujungnya adalah kebencian, apa untungnya? Mencapai tujuan politik dengan menebar kebencian?

Sungguh cara yang tidak beradab. Belum berkuasa sudah sedemikian itu wataknya. Apa yang diharapkan dari kekuasaan yang diraihnya?

Maka, baiklah jika keyakinan iman yang berbeda itu bersemayam di ruang pribadi kita yang paling dalam.

Menjadi Indonesia

Lalu, apa yang harus kita diskusikan, yang kita pro-kontrakan, yang kita uji kesahihannya?

Sampai detik ini, kesepakatan kita bernegara adalah apa yang dicetuskan para bapak pendiri bangsa ini: Indonesia untuk semua. Belum berubah.

Soekarno, saat pidato di sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), 1 Juni 1945, berkata,

“Saudara-saudara yang bernama kaum kebangsaan di sini maupun Saudara-saudara yang dinamakan kaum Islam, semuanya telah mufakat, bahwa bukan negara yang demikian itulah kita punya tujuan. Kita hendak mendirikan suatu negara semua buat semua. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, tetapi semua buat semua.”

Pada bagian lain pidatonya saat itu, ia menegaskan lagi,

“Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan kebangsaan Jawa, bukan kebangsaan Sumatera, bukan kebangsaan Borneo, Sulawesi, Bali atau lain-lain, tetapi kebangsaan Indonesia, yang bersama-sama menjadi dasar suatu nationale staat.”

Setelah merdeka, Soekarno mengingatkan lagi saat berpidato di Surabaya, 24 September 1955.

“Negeri ini, Republik Indonesia, bukanlah milik suatu golongan bukan milik suatu agama, bukan milik suatu kelompok etnis, bukan juga milik suatu adat istiadat tertentu, tapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke.”

Harus Dirawat

Kebangsaan kita sebagai Indonesia adalah sebuah imaginasi kolektif, kata Ben Anderson, Indonesianis asal Amerika. Kebangsaan kita bukan lahir secara tiba-tiba. Ia adalah sebuah produk sejarah atas pergulatan sosial, kultural, dan politik komunitas besar Nusantara berhadapan dengan penjajahan.

Maka, jika kita masih bersepakat dengan ke-Indonesiaan kita yang bineka, ia harus dirawat. Ia harus dihidupi dengan segala sikap yang memperkaya kemanusiaan bukan menghancurkannya. Perbedaan tidak selalu harus diaktualisasikan dan diakhiri dengan kebencian.

Jakarta adalah Indonesia kecil yang bineka itu. Perdebatan kita menjelang pilkada ini selayaknya adalah tentang bagaimana membangun kota yang kita diami. Bagaimana menjadikan kota ini beradab bagi warganya, memanusiawikan warga kotanya.

Yang dikontestasi adalah gagasan, program demi sebuah kemajuan, bukan topik-topik tradisional kampanye hitam yang memerkosa akal sehat kita.

Adakah yang lebih indah dari Indonesia yang satu, dunia yang satu, dunia yang menjadikan kita sebagai saudara dalam segala kebinekaan kita?

Kepada kaum penebar kebencian…

You may say I am a dreamer

but, I am not the only one

I hope someday you’ll join us

and the world would be as one

–John Lennon

(LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL