foto: birliandri.blogspot.com

foto: birliandri.blogspot.com

Oleh:Budi Lesmana

Sayyidina Abu Bakar Shiddiq ra pernah berkata, bahwa ada lima kegelapan dan ada lima pelitanya. Salah satu kegelapan itu adalah ‘cinta dunia’, dan pelitanya adalah takwa. Rasulullah bersabda, ”Cinta dunia adalah biang segala kesalahan.” (HR Baihaqi)

Hari ini kita melihat betapa mudahnya para politisi kita berbalik pendapat dan saat mempertahankan pendapat masing-masing, seolah-olah mereka sedang memperjuangkan kebenaran sejati. Mereka lupa, kemarin bicara apa. Seolah dalam politik, sah-sah saja untuk menjilat ludah sendiri. Istilah Jawanya, plintat-plintut.

Kisruh RUU Pilkada adalah contoh gamblang sikap plintat-plintut ini. Pagi bilang A, sore bilang B, esok entah bilang apa lagi. Parahnya, ini terjadi di kedua kubu, baik yang pro pilkada langsung, atau pro pilkada lewat DPRD.

Kita simak dulu, argumen para pendukung pilkada langsung. Menurut mereka, pilkada lewat DPRD justru akan membuat proses transaksi politik semakin marak.  Jika hak memilih kepala daerah diserahkan kepada DPRD, tentu para calon akan merogoh banyak uang untuk mengambil hati anggota DPRD. Pengakuan Bupati Solok, Sumatera Barat, Syamsu Rahim cukup mengejutkan. Saat mencalonkan diri sebagai Bupati Sawahlunto tahun 2003, ia dimintai uang 250 juta per anggota DPRD. Ia pun gagal jadi Bupati saat itu. Ia berhasil jadi Bupati pada era pilkada langsung. Jadi, lebih baik pilkada langsung saja, semua orang punya kesempatan untuk maju jadi kepala daerah.

Pertimbangan ini rasanya masuk akal. Hanya saja, ada yang aneh, mengapa tokoh-tokoh yang dulu tidak setuju pilkada langsung, sekarang berbalik arah? Misalnya, ‘ikon’ pro-pilkada langsung,  Wagub DKI Jakarta, Ahok ternyata pernah mengusulkan, agar kepala daerah khusus di ibukota negara, yakni Jakarta, tidak lagi dipilih melalui pilkada langsung, melainkan dipilih presiden dan setingkat menteri. Alasannya, agar tidak berantem dan menghemat anggaran. Atau, Ketua Nasdem, Surya Paloh, pernah berkata, “NasDem mendukung penghapusan Pilkada dan mengembalikannya ke tangan DPRD. Terlalu banyak waktu, energi dan biaya  yang terbuang tanpa adanya hasil yang optimal dari penyelenggaraan Pilkada.”

Kini, mari kita lihat argumen pendukung pilkada lewat DPRD. Mereka menolak pilkada langsung lantaran bertentangan dengan budaya demokrasi, banyak memakan biaya, dan memunculkan konflik horizontal. Mahfud MD, pendukung Koalisi Partai Merah (pro-Pilkada lewat DPRD), bahkan mengingatkan, dulu Bung Karno mencabut aturan pilkada langsung lantaran bertentangan dengan budaya demokrasi di Indonesia.

Lagi-lagi argumen yang terdengar masuk akal. Hanya saja, bukankah mayoritas anggota DPR yang kini ‘memperjuangkan’ pilkada lewat DPRD (Fraksi Golkar, PPP, PAN, Gerindra, dan Demokrat dan PKS – 73 kursi di DPR) dulu bersikap sebaliknya? Dulu, sebelum hasil pilpres ketahuan, bukankah mereka justru mendukung pilkada langsung? Mengapa hanya dalam hitungan pekan mereka berubah sikap?

Ada apa di balik semua ini? Mohon maaf bila saya pesimis atau suuzon. Namun bagi saya, semua ini akarnya ada pada cinta dunia. Saat dunia terlihat lebih manis dengan pilihan A, mereka akan beramai-ramai pilih A. Kalau yang terlihat di mata, dunia indah dengan pilihan B, mereka akan mati-matian memperjuangkan B. Soal kepentingan rakyat atau apa yang sebenarnya dihendaki Tuhan, itu entah nomer berapa. Dan sialnya, bahkan terkadang Tuhan pun dipakai untuk membenarkan pilihan mereka dan memaki pilihan orang.

Inilah yang saya maksud politik plintat-plintut. Terlepas dari argumen masing-masing kubu yang bagi orang awam seolah sama-sama benar, ada hal yang lebih substansial untuk diamati. Yaitu, betapa politisi kita -sayangnya- tidak dapat dipegang. Sikap plintat-plintut mereka menunjukkan bahwa yang benar-benar dibela bukanlah rakyat, tapi kepentingan duniawiah mereka. Karena itu, rakyat sebaiknya tidak terlalu ‘berpegang teguh’ pada sosok politik tertentu, apalagi mendukung dengan membabi-buta, sampai-sampai mem-PHO-sesama rakyat (Perusak Hubungan Orang).  Saling sindir, saling hujat di media sosial. Buat apa? Sampai kapan kita mau dimanfaatkan dan ditunggangi oleh sikap plintat-plintut elit?(LiputanIslam.com)

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL