Oleh: Irfan L. Sarhindi*

Dengan jumlah pemilih terbanyak di Indonesia, Jawa Barat (Jabar) menjadi salah satu lokus pilgub yang menjadi sorotan. Tercatat di Jabar terdapat 30.118.380 dari total 176.367.056 pemilih tetap. Menguasai Jabar, dengan demikian, dapat memuluskan langkah pemenangan pilpres dan pileg. Apalagi pilgub serentak sekarang tidak diposisikan sebagai kompetisi terpisah dari pilpres, alih-alih seperti putaran grup menuju laga final pemilihan presiden. Menguasai Jabar berarti menguasai Indonesia. Apalagi jika kemenangan di Jabar dapat disusul kemenangan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Yang juga menjadi sorotan dari Pilgub Jabar adalah fakta bahwa masyarakat di provinsi ini dikenal religius, dengan ekspresi religiusitasnya secara umum cukup konservatif. Jabar juga disebut sebagai provinsi dengan tingkat intoleransi (agama) yang tinggi. Dengan panasnya politisasi agama dan sentimen isu SARA di Pilgub Jakarta, banyak yang memprediksi situasi serupa di Jabar. Dan, di situlah letak kejutan pertama dari Pilgub Jabar. Terlepas dari fakta bahwa timses paslon Asyik mengklaim akan “meng-copy kampanye damai” di Jakarta, konflik berbau sentimen keagamaan tidak sepanas di Jakarta.

Hal ini mungkin disebabkan; pertama, oleh perbedaan persebaran dan koalisi partai pengusung para paslon. Kedua, jumlah paslon juga lebih banyak sehingga tidak terlalu terposisikan sebagai hitam-putih head to head. Ketiga, secara “agama”, semua paslon beragama Islam. Skema “jangan pilih pemimpin kafir” tidak bisa dipakai. Yang bisa dipakai paling banter adalah tuduhan “tidak Islami” kepada paslon lain. Ridwan Kamil, misalnya, dituduh liberal, Syiah, dan pendukung LGBT. Dedi Mulyadi, dengan identitas kesundaannya yang kental dituduh dukun dan fasiq —jika bukan murtad/musyrik.

Tapi, tuduhan-tuduhan tersebut tidak terlalu mempan. Setidak-tidaknya, tidak memecah masyarakat (Muslim) sebagaimana terjadi di Jakarta di mana Ahok disituasikan sebagai (satu-satunya) indikator apakah seseorang Muslim/tidak, saleh/tidak.

Keempat, yang boleh jadi kontributif terhadap damainya Pilgub Jabar adalah kesadaran menjaga persatuan dan perdamaian. Exposure terhadap riuhnya Pilgub Jakarta telah menjadi semacam warning alert seberapa panas pun kampanye, seberapa masifnya pun politisasi agama, pada akhirnya semua itu “hanya” politik.

Bahkan, kemudian beredar meme tentang bagaimana Indonesia tidak memiliki koalisi abadi, yang ada hanya koalisi sementara berdasarkan kepentingan dan pertimbangan situasi pasar di lokasi masing-masing. PDI-P tidak selalu anti-Islam karena PDI-P tidak selalu menjadi “musuh politik” PKS dan Gerindra.

Kejutan lain adalah prosentase suara yang diraih paslon nomor 3 Sudrajat dan Ahmad Syaikhu. Dalam pelbagai survei pra-pencoblosan, prosentase paslon Asyik ini selalu hanya satu digit, berada di posisi ketiga di atas Hasanah. Yang menjadi unggulan, bersaing satu sama lain dengan selisih sedikit adalah paslon nomor 1 (Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul Ulum) dan paslon nomor 4 (Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi). Ketika pejabat sementara Gubernur Jabar menuai kontroversi karena dinilai akan menguntungkan paslon nomor 2 (Hasanudin dan Anton C), yang digadang-gadang bakal menang tetap antara pasangan Rindu dan 2DM.

Tapi, paslon Asyik dengan tim pemenangannya berhasil membuktikan diri sebagai kuda hitam. Berdasarkan hasil quick count, baik pasangan Rindu maupun 2DM kehilangan suara. Yang paling parah paslon 2DM karena kursi runner up-nya dikudeta Asyik. Asyik hanya terpaut beberapa persen dengan Rindu di peringkat pertama sehingga mereka yakin bahwa hasil masih bisa berubah. Kemenangan Asyik ini mengingatkan kita pada kemenangan Ahmad Heryawan di periode sebelumnya walaupun dia tidak diunggulkan.

Fenomena ini mengindikasikan beberapa hal. Pertama, berhasilnya mesin partai dan tim pemenangan melakukan gerilya kampanye yang bahkan “makin masif” di saluran WA dan medsos di masa tenang. Apalagi, kedua, isu yang disokong Asyik ini berbau agama. Misalnya: Asyik mengklaim sebagai pasangan yang “Islami” –yang satu saleh bersih, yang satu hafiz. Bahkan, saya sempat mendapat broadcast kampanye Asyik yang berisi: selain memuji akhlak dan keislaman paslon Asyik, juga menyindir paslon lain yang tidak saleh, tidak Islami. Mengkampanyekan Asyik dirasa tidak sebagai aktivitas politik melainkan dakwah, karena sebagaimana biasa diujarkan para relawan, “Allah akan mempertanyakan keberpihakankita.”

Ketiga, coba perhatikan klausa “pemimpin pilihan ulama”. Dengan menggunakan kata “ulama”, Asyik seperti mengklaim bahwa seluruh ulama memilih mereka. Sehingga, paslon lain seolah-olah tidak direstui atau didukung ulama. Padahal kita tahu tiap paslon memiliki “ulamanya masing-masing”. Ridwan Kamil dan Uu bahkan dekat dengan kalangan pesantren, mendapat dukungan dari para kiai dan habaib. Tapi, klaim ‘pemimpin pilihan ulama’ seolah-olah hanya milik Asyik. Paslon Rindu, dengan tuduhan liberal, Syiah, dan pro-LGBT, malah terpersepsikan sebagai paslon tidak Islami.

Keempat, naiknya prosentase dukungan terhadap Asyik ini juga mengindikasikan besarnya potensi swing voters di kalangan apa yang disebut NU kultural. Dalam tulisan lain saya pernah menganalisis bagaimana orang “NU kultural” di Jabar banyak yang tidak merasa sebagai bagian dari NU, dan banyak yang memilih berafiliasi atau mahabbah ke FPI. Sedangkan, kita tahu bahwa FPI dan PKS mesra dalam koalisi 212. Jabar termasuk penyuplai massa Aksi 212. Peningkatan suara bagi Asyik, termasuk dari kalangan pesantren, membuktikan analisis tersebut. Bahkan, konflik panas antara PKS dan NU terkait komentar elite mereka terhadap Gus Yahya seperti tidak mendampakkan apapun sama sekali.

Saking kuatnya suara ‘212’ di masyarakat Jabar, Ridwan Kamil sampan harus melakukan klarifikasi sehari sebelum pencoblosan. Intinya menjelaskan bahwa dia tidak anti-212, tidak anti-FPI, dan belum tentu mendukung Jokowi. Mendekatkan diri pada kalangan ulama tradisionalis dan habaib non-FPI ternyata dikhawatirkan tidak cukup. Menawarkan program Islami yang sifatnya “formalistik” dan “simbolik” juga ternyata tidak memadamkan tuduhan liberal. Suara Habib Rizieq, biarpun sendirian dan secara fisik tidak ada di Indonesia, ternyata masih cukup lantang dan menakutkan. (LiputanIslam.com)

*pengasuh Salamul Falah, lulusan Universitas Putra Indonesia, associate Researcher Akar Rumput Strategic Consulting, disalin dari Detik, 29 Juni 2018.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*