No2 isisOleh: Ayudia az-Zahra

Saya cukup surprise ketika membaca  tulisan Bapak Ikhwanul Kiram di Republika edisi 16 Juni 2014. Tak seperti biasanya, yang begitu memuja- dan menempatkan Arab Saudi dalam peran protogonis, kini tiba-tiba saja beliau bicara tentang kelompok garis keras yang mengancam kehidupan bermasyarakat. Berikut kutipannya;

“Kita di Indonesia tentu tidak menghendaki munculnya kelompok-kelompok garis keras yang bisa mengancam dan meneror kedamaian kehidupan warga masyarakat sebagaimana halnya terjadi di sejumlah negara di Timur Tengah. Perjuangan ala Al-Qaida dan semacamnya yang menghalalkan segala cara, termasuk menebar teror dan kekerasan, harus kita tolak dan lawan. Termasuk cara-cara kampanye hitam untuk menjatuhkan lawan politik, yang ujung-ujungnya dikhawatirkan akan memunculkan konflik horisontal. 

Apalagi menggunakan isu-isu agama untuk kepentingan politik. Isu agama bisa sangat sensitif yang rawan menimbulkan gesekan antar-warga. Bahkan juga konflik. Konflik yang akan menyimpan benih-benih permusuhan di kalangan anak bangsa. Ketika ini terjadi, maka terorisme bisa tumbuh subur.”

Sementara tulisannya terdahulu, pernah membantah keterlibatan Arab Saudi dalam kelompok-kelompok yang menyebar teror;

“Dekrit Raja Abdullah untuk melawan terorisme dan radikalisme bukan hanya ditujukan untuk melarang warga Saudi yang siap berjihad di Suriah. Namun, yang lebih penting lagi, dekrit sang raja justru ditujukan untuk menghilangkan radikalisme di dalam negeri dan sekaligus membantah anggapan bahwa Saudi selama ini mengekspor dan membantu teroris atau kelompok-kelompok yang menempuh jalan kekerasan.”

Jadi, hanya dengan keluarnya Dekrit Raja Abdullah beberapa bulan yang lalu dianggap bahwa hal tersebut langsung membantah keterlibatan Arab Saudi dalam merekrut dan mendanai teroris. Tentu saja, hal ini sudah pernah saya bantah di sini http://liputanislam.com/opini/arab-saudi-biang-teroris/.

Ah Pak Kiram, andai saja Anda sejak awal konflik Suriah menyadari hal ini dan memberikan analisis yang berimbang terhadap konflik Suriah, dan bukan hanya mengamati dari sudut pandang Arab Saudi yang selalu Bapak puji itu. Mengapa baru hari ini Anda menyadari bahwa berbagai bentuk fitnah dan propaganda memang akan memicu konflik horizonal, dan Indonesia, yang merupakan negara heterogen—tidak menutup kemungkinan akan menghadapi masalah yang sama dengan Suriah ataupun Irak?

Tapi, benarkah Bapak baru menyadari  hal ini sekarang? Setelah Mosul jatuh, ribuan warga Irak dieksekusi masal, ratusan ribu mengungsi, dan bank-banknya dijarah? Bukankah hal yang sama juga terjadi di Suriah jauh sebelumnya? Bukankah di Suriah, bahkan telah 160.000 jiwa melayang, jutaan mengungsi di negara-negara tetangga, dan tak terhitung berapa kerugian yang diderita Suriah? Mengapa mata hati Anda tertutup melihat kenyataan, bahwa sesungguhnya perang Suriah adalah skenario dari plot Zionis Internasional untuk mengamankan eksistensi Israel?

Alih-alih mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di negeri itu, Bapak terus-terusan menulis hal negatif tentang Suriah – seperti menyatakan bahwa Assad adalah pemimpin yang buas dan rela menerkam rakyatnya sendiri demi kekuasaan. Toh meski demikian, kenyataan berkata lain. Dia yang Bapak sebut buas itu, dipilih kembali oleh rakyatnya menjadi presiden dengan kemenangan telak.

Bapak Kiram, bukankah ISIS juga telah berada di Suriah sejak tahun lalu, dan melakukan kebrutalan yang sama? Bukankah Al-Nusra, yang merupakan sayap Al-Qaeda juga berada di Suriah sejak tahun 2012 lalu? Artinya, krisis di Suriah bukanlah untuk menggulingkan seorang diktator dan membentuk pemerintahan demokratis. Logikanya, sejak kapan Al-Qaeda memperjuangkan demokrasi?

Bukankah di Suriah, ulama-ulama Ahlussunah dibunuhi? Bukankah pesantren tempat santri-santri Sunni juga dihancurkan oleh teroris?  Atas hal ini, seharusnya Bapak menyadari bahwa isu sekterian Sunni-Syiah sama sekali tidak benar.

Lalu, mengapa Bapak masih mendukung pernyataan Syekih Yusuf Qardhawi (SYQ) tentang kesalahan fatwanya  terhadap Syiah, Iran, dan Hizbullah?  SYQ menarik kesepakatan yang pernah ditandatanganinya – yaitu Risalah Amman bahwa ada 8 mazhab yang sah dalam Islam –termasuk Syiah. SYQ menyebut Hizbullah sebagai Hizbutsyaiton lantaran Hizbullah mendukung pemerintah Suriah, padahal dulu SYQ selalu memuji Hizbullah.

Wahai Bapak Kiram, sebagai seorang akademisi, jauhkanlah diri dari kecenderungan fanatik terhadap suatu kelompok. Bersikaplah yang adil. Banyak masyarakat yang membaca tulisan Bapak di media lho. Tapi tentu saja, hal ini belum terlambat untuk diperbaiki, tapi saya pastikan, tulisan Bapak akan saya pantau terus untuk saya puji jika memang layak dipuji, dan akan saya kritik jika memang layak dikritisi.

—————–
Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkana kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL