Sumber: Tribun Jogja

LiputanIslam.com—Perubahan iklim yang semakin parah di Bumi membuat dampak negatifnya pun semakin meluas bagi makhluk hidup yang ada di Bumi, salah satunya invertebrata laut seperti gurita dan kepiting menjadi buta.

Perubahan iklim membuat suhu bumi meningkat sehingga menurunkan tingkat oksigen di lautan, sehingga beberapa hewan laut tidak bisa melihat. Padahal invertebrata laut sangat bergantung pada penglihatan untuk mencari mangsa, menghindari predator, dan mencari tempat berlindung.

Pada tahun 2017, terdapat penelitian tentang hubungaj kekurangan oksigen atau hipoksia dengan penglihatan manusia. Hasilnya cukup mencengangkan, yaitu penurunan penglihatan akibat hipoksia. Jika manusia kekurangan oksigen, daya penglihatannya akan berkurang.

Karena efek tersebut, ilmuan barat kemudian meneliti tentang hubungan hipoksia dengan hewan laut. Berdasarkan hasil penelitian mereka yang kemudian diterbitkan di Journal of Experimental Biology, bahwa terjadi perubahan daya visual pada hewan laut seiring berkurangnya oksigen di lautan. Hewan laut yang diselidiki antara lain gurita dan kepiting. Menurut penelitian, daya penglihatan keduanya berkurang antara 60 hingga bahkan 100 persen atau bisa dikatakan dengan buta. Namun kebutaan tersebut bersifat sementara. Artinya jika kandungan oksigen normal kembali, penglihatan keduanya pun kembali.

Buruknya, perubahan iklim telah menurunkan tingkat oksigen, termasuk di lautan.

“Saya khawatir perubahan iklim akan memperburuk masalah ini,” ungkap McCormick di situs Live Science, Kamis (16/5).

“Ada kemungkinan bahwa gangguan penglihatan ini akan lebih sering terjadi pada makhluk laut,” lanjutnya.

Menurutnya, perubahan iklim menyebabkan deoksigenasi yang mempersulit dua spesies tersebut untuk beradaptasi karena penglihatan mereka terganggu.

Menurut studi yang diterbitkan oleh Jurnal Nature 2017, kadar oksigen di lautan kian menurun 2 persen secara global dalan 50 tahun terakhir. Dan tahun 2100 diperkirakan kadar oksigen menurun hingga 7 persen.

Selain berdampak ke pengliharan hewan laut, perubahan iklim pun berdampak pada infeksi jamur pada buah pisang.

Infeksi jamur bernama Black Sigatoka menyerang bagian daun dari tanaman pisang.

“Black Sigatoka adalah jamur pada pisang yang menginfeksi daun dan mengurangi ptoduktivitas tanaman,” ucap Daniel Bebber di situs Newsweek, Selasa (7/5).

Untuk menumpas jamur tersebut, petani pisang harus menyemprotkan fungisida secara berkala ke tanaman yang sudah terinfeksi.

Akibat perubahan iklim, pertumbuhan jamur meningkat.

“Infeksi Black Sigatoka meningkat sekitar 44 persen di seluruh daerah Amerika Latin dan Karibia yang menanam pisang sejak 1960-an. Peningkatan infeksi ini disebabkan oleh perubahan iklim,” lanjut Bebber.

Perubahan iklim dapat meningkatkan spora  jamur tersebut untuk tumbuh dan berkembang.

Akibat jamur tersebut, produksi buah pisang menurun drastis hingga 80 persen. (Ay/Kompas Sains)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*