Oleh: Muhamad Mustaqim*

Beberapa video viral di media menggambarkan bagaimana seorang ibu dan anaknya menjadi bulan-bulanan sekelompok orang, hanya karena memakai kaos berbeda. Tampak di video tersebut sekelompok orang yang menggiring sang ibu, sembari mengacung-acungkan tangan, mengacungkan botol, bahkan mengacungkan uang seolah sedang nyawer, sebagian lainnya bahkan memegang pundak dan menghalang-halangi jalan.

Di akhir video, sang ibu pun melampiaskan kejengkelannya, dengan menguatkan anaknya, “Kita gak takut, Zak. Kita Benar”. Untuk menghentikan para pengganggunya, sang ibu meneriaki mereka, ” Masya Allah. Ibu-ibu kalian perlakukan seperti ini. Muslim apa kalian?”

Memang sepertinya dalam Car Free Day (CFD) di Bundaran HI, Jakarta kemarin ada semacam “perang kaos”. Yang satu kelompok kaos bertuliskan #2019gantipresiden, satunya lagi kaos bertulis #diasibukkerja. Di dunia maya, perang ini memang sempat berlangsung sengit. Saling sindir dan hujat terjadi antarkedua kubu: kubu pro ‘Jokowi presiden lagi’ dan kubu yang ingin ganti presiden.

Tagar (tanda pagar) 2019 ganti presiden memang belakangan ini ramai dan viral. Bahkan presiden Jokowi pun sempat mengomentari tagar ini dalam sebuah sambutannya. Terlepas dari kedua pertentangan itu, fenomena persekusi, seperti yang terlihat dalam sebuah video viral tersebut, tetap saja tidak bisa dibenarkan.

Di media sosial, setidaknya ada tiga korban yang sempat terekam kamera dan viral, namun saya yakin kejadian serupa juga terjadi pada korban yang lain, hanya saja tidak terekam kamera, atau terekam namun belum viral di media. Ini berarti, bahwa perilaku persekusi ini sudah mulai merambah ke dunia nyata. Artinya, ada sebuah fenomena mengkhawatirkan yang menjangkiti masyarakat kita: intoleransi pada pihak yang dianggap berbeda.

Psikologi Massa

Jika komunitas orang berkumpul, dengan memiliki paradigma dan persepsi sama, maka akan mudah digerakkan oleh sebuah kepentingan. Jika satu orang akan memiliki rasa takut, maka hal ini tidak berlaku ketika mereka bersama-sama, apalagi jika kerumunan ini membentuk massa. Muncullah apa yang disebut psikologi massa.

Ketika orang bersama-sama, maka akan muncul perasaan berani, merasa hebat, merasa kuat, dan merasa menang. Akibatnya, mereka akan dengan mudah memperlakukan orang lain di luar kelompok massanya dengan tindakan sesukanya. Fenomena amuk massa adalah salah satu bukti konkret betapa massa itu mudah digerakkan oleh kepentingan, termasuk kepentingan akan kebencian dan dendam.

Persekusi adalah manifestasi dari psikologi massa. Orang akan mudah untuk berbuat sewenang-wenang terhadap orang atau kelompok yang berbeda (baca: dibenci). Dan, pada tataran ini menipislah logika dan etika. Orang akan bergerak dengan tidak mempertimbangkan nalar, apalagi rasa malu dan nilai baik-buruk.

Di saat seperti itulah perlu sosok pelerai untuk memadamkan kebencian dan emosional yang bersifat kolektif. Jika hal ini tidak terkendali, maka bisa jadi akan melahirkan fenomena amuk massa, bahkan sampai pada tindak kekerasan.

Akar dari fenomena ini menurut saya adalah sikap toleransi, mau memahami perbedaan. Sejarah telah membuktikan bagaimana kebencian terhadap kelompok “liyan” telah melahirkan kekerasan, pembunuhan, bahkan genosida berdarah. Pemahaman terhadap “the other” ini menjadi bagian dari karakter yang harus kita perkuat, mengingat kita adalah bangsa yang multikultural.

Apalagi kalau perbedaan tersebut hanya sekadar perbedaan pandangan politik praktis menjelang Pemilu 2019 nanti, adalah sebuah kenaifan. Parahnya, elite politik seringkali menyiramkan “bensin” pada sekam yang kering. Elite politik seharusnya menjadi payung penyejuk di tengah cuaca panas yang melingkupi iklim politik kita akhir-akhir ini.

Kedewasaan berpolitik sampai titik ini sangat diperlukan dalam rangka merespons kontestasi politik lima tahunan ini. Sebab kalau tidak, kita sebagai rakyat, lagi-lagi akan menjadi korban dan komoditas politik yang mudah dimainkan oleh arogansi para elite politik.

Berpolitik itu butuh toleransi, bukan sekadar membabi buta, dan menghalalkan segala cara. Jika kita tidak percaya kepada para elite politik kita yang machiavellian, setidaknya kita berupaya menjadi konstituen yang baik dan toleran. (LiputanIslam.com)

 

*pengajar di IAIN Kudus, disalin dari Detik, 30 April 2018.

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*