sahara-desertOleh: Prof. Sumanto Al Kurtuby

Informasi tentang dunia Arab & Timur Tengah pada umumnya di Indonesia begitu “njomplang” dan “parsial” karena kebanyakan info itu disampaikan pleh para juru dakwah atau guru ngaji warga Indonesia yang pernah belajar di kampus-kampus jurusan “kajian Islam” di sejumlah negara-negara Arab, khususnya Arab Saudi, Mesir, juga Sudan.

Mereka pandai berkhotbah dan berdalil tapi miskin wawasan sosio-kultural-historis dunia Arab karena para murid Indonesia waktu belajar di sini tidak dilengkapi dengan perangkat analisis sosial, proses pembelajaran dengan masyarakat & lingkungan sekitar yang beragam, atau pembahasan aneka ragam teks-teks keislaman dari berbagai sarjana dan aliran pemikiran. Singkatnya, mereka (meski tidak semuanya) hanya “mengaji” tidak “mengkaji”. Mereka “dicekoki” dengan pemahaman, wacana, dan buku-buku keislaman yang seragam dari kalangan ulama tertentu saja yang seide dan sealiran. Akibatnya, setelah selesai sekolah, mereka menjadi ustadz-ustadz yang buta warba dan rabun budaya laksana kuda delman di Indonesia. Sayangnya, ustadz-ustadz model begini yang digemari oleh sejumlah kaum Muslim di Indonesia.

Jurusan-jurusan studi Islam di kawasan Arab itu jelas beda dengan pesantren-pesantren di Indonesia pada umumnya. Di Indonesia, santri bukan hanya diajari untuk mengaji aneka ragam kitab-kitab keislaman saja tetapi juga belajar bersosialisasi dan bermasyarakat sehingga mereka tdk hanya melek teks-teks keislaman saja tetapi juga teks-teks kemasyarakatan. Mereka bukan hanya paham tentang pluralitas keislaman tetapi juga pluralitas kemasyarakatan. Karena itu para santri pada umumnya sangat arif dan bijaksana dalam menyikapi fakta-fakta sosial keberagaman masyarakat dan kemajemukan budaya. Jika ada santri yang tidak sensitif dengan kebhinekaan, pasti dia salah urus waktu di pesantren.

Karena itu saya sarankan kepada lembaga & masyarakat di Indonesia, jika tujuannya untuk belajar Islam, kalian tidak perlu jauh-jauh mengirim para murid ke negara-negara Arab. Buat apa jauh-jauh belajar ke sini kalau hanya untuk mengaji kitab dan belajar agama? Buat apa jauh-jauh belajar Islam ke negara-negara ini, kalau pada akhirnya akan menjadi pembenci negara kita sendiri? Pesantren-pesantren di Indonesia sudah melimpah-ruah dan lebih dari cukup untuk mempelajari semua ini. Kalau mau mengirim murid ke negara-negara ini, suruh belajar ilmu-ilmu sosial seperti antropologi dan sosiologi guna mempelajari keragaman masyarakat dan Muslim di Arab, atau mempelajari ilmu-ilmu perminyakan kalau di Arab Teluk (termasuk Saudi, Qatar, Kuwait, Emirat Arab, Bahrain, dan Oman). Itu jauh lbh bermanfaat buat nusa, bangsa, dan negara kita tercinta. (LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL