brookingsOleh: Dina Y. Sulaeman*

Konflik Suriah telah berlangsung sejak akhir 2011 namun hingga kini belum juga mereda. Para pemberontak bersenjata (yang menyebut diri “mujahidin”) tak henti-hentinya berusaha menggulingkan Presiden Assad. Sejak beberapa waktu terakhir, konflik semakin memanas dan berimbas kepada opini publik di Indonesia dan dunia, seiring dengan serangan di Aleppo. Aleppo adalah kota terbesar di Suriah. Sejak 2012, jihadis/teroris dari berbagai kubu menduduki Aleppo. Mereka sempat menguasai 70% kota, namun tentara Suriah (SAA) kemudian melancarkan operasi pembebasan Aleppo. Saat ini, tinggal wilayah utara Aleppo yang diduduki oleh jihadis/teroris.

Sejak 23 April 2016, jihadis/teroris di Aleppo secara masif menghujani wilayah Aleppo yang dikontrol SAA dengan mortar, rocket, dan Hell Cannon (sebelumnya, selama 2012-2016 mereka juga sering menyerang secara sporadis,  kali ini benar-benar masif). Korban terbesar adalah warga sipil, termasuk anak-anak. Awalnya media Barat bungkam (hanya media-media Suriah, PressTV, XinHua, RT, dan media-media alternatif  lainnya yang ‘berteriak’). Namun setelah SAA melakukan serangan balasan untuk membebaskan Aleppo dari jihadis/teroris, dengan serempak muncul pemberitaan masif dari media Barat/pro-jihadis: SAA dan Rusia membunuhi warga sipil Aleppo. (Baca: MSF dan Hoax tentang RS Al Quds)

Sementara itu, sejak beberapa waktu terakhir, muncul perkembangan baru dalam model pemberitaan Aleppo: White Helmet (WH) muncul sebagai aktor utama. Warna hitam (identik dengan jihadis/teroris) yang mendominasi media Barat saat memberitakan Suriah kini berganti dengan putih. WH muncul dalam semua video dan foto yang disebarluaskan oleh media Barat dan Teluk. WH dicitrakan sebagai relawan yang sedemikian berjasa menolong korban bom di Aleppo, sehingga kabarnya akan dinominasikan sebagai penerima Nobel (ingat, MSF juga menerima Nobel tahun 1999).

Keberadaan WH membuat situasi lebih rumit, mereka berkeliaran bebas di Aleppo dengan baju relawan dan dikategorikan sebagai ‘warga sipil’ yang haram diserang. Masalahnya, WH sebenarnya adalah jihadis/teroris yang berganti baju dari hitam menjadi helm putih. Beberapa video membuktikan hal ini, misalnya, terlihat mereka membawa senjata (relawan bawa senjata?), atau mereka berteriak-teriak Allahu Akbar di tengah para jihadis/teroris berbaju hitam. Atau, setelah seorang jihadis/teroris melakukan eksekusi mati pada seseorang, langsung anggota WH datang dan membungkus jasad korban (jadi, WH ada di tempat itu saat eksekusi mati). Atau WH berpose bersama mayat-mayat SAA.

WH adalah salah satu dari berbagai NGO (Non-Government Organization) atau LSM, bersama lembaga-lembaga “think tank” (pusat studi) yang berperan penting dalam Perang Suriah. Dan memang, berbagai LSM dan think tank memiliki rekam jejak dalam upaya penggulingan rezim di berbagai penjuru dunia. Di Mesir, misalnya, aksi-aksi demo penggulingan Mobarak dimotori oleh aktivis NGO yang dilatih oleh AS (melalui Freedom House dan National Endowment for Democracy/NED) agar mahir menggalang massal. FH dan NED (dan LSM bernama CANVAS) juga bermain di Suriah. Bedanya, bila di Mesir aksi demo bisa tereskalasi (jumlah pendemo sangat masif) sehingga Mobarak terguling dengan mudah, di Suriah modus ini gagal total. Yang muncul malah demo tandingan yang jauh lebih masif, menunjukkan dukungan kepada Assad.[1] Kejadian sama juga terlihat di Libya, aksi demo tidak pernah tereskalasi, bahkan yang terjadi demo luar biasa besar di Tripoli mendukung Qaddafi. [2]

Nah karena aksi demo “damai” tidak berhasil di Libya dan Suriah, masuklah para jihadis untuk melakukan tugas mereka. Kali ini tentu saja mereka tidak membawa isu demokrasi, melainkan khilafah (dan khusus di Suriah, mereka membawa isu Sunni-Syiah, yang terbukti sangat efektif dalam menggalang pasukan dan dana dari seluruh dunia). Terbukti, ketika khilafah terbentuk di Libya, tetap saja kapitalis Barat yang menguasai ekonomi; sang khalifah sibuk bertempur melawan rakyatnya, serta melebarkan sayap pertempuran ke Suriah.

Siapa di Balik LSM dan Think Tank?

Jadi, dalam menganalisis soal Suriah, penting untuk menoleh tajam ke arah NGOs dan think-tank yang berkeliaran di sana (atau bersuara berisik dari luar negeri). Di awal konflik, Amnesty International dan Federation of Human Rights (FHR) menggalang aksi demo massa di jalanan Paris dengan membawa bendera Suriah era mandat Prancis (hijau-putih-hitam). FHR didanai oleh NED. Mantan Sekjen PBB, Kofi Annan, yang awalnya ditugasi menjadi mediator perdamaian di Syria, ternyata adalah trustee (penasehat) di International Crisis Group (ICG), bersama tokoh-tokoh Zionis, seperti George Soros, Zbigniew Brzezinski, dan Shimon Peres. Brooking Institution juga berperan, antara lain menerbitkan desain perubahan rezim di Libya, Suriah, dan Iran. Baik NED, ICG, Brooking, dll, didanai oleh Big Oil (Conoco-Philips, Chevron, ExxonMobil), Coca Cola, Bank of America, Microsoft, Standard Chartered, Citigroup, Hilton, McDonald, GoldmanSach, dll. (Note: Goldman Sachs dan Rockefeller juga berada di belakang MSF, baca Aleppo-1).[3]

Ada dua LSM yang sering sekali dikutip media Barat (dan media jihad), Syrian Observatory of Human Rights dan Syrian Network of Human Rights yang berkantor di Inggris. Keduanya seolah paling tahu atas setiap serangan, jumlah korban, nama-nama, dan berbagai hal soal Suriah (dan datanya jelas beda dengan data yang dimiliki media-media alternatif). Donaturnya, Uni Eropa dan Soros. Silahkan browsing, rekam jejak Soros dan upaya penggulingan rezim di berbagai negara, terutama Eropa Timur (juga penggulingan Soeharto). Soros juga ada di balik CANVAS.

Tak jauh beda, White Helmets juga terlink dengan Soros, CIA, USAID, dll. WH didirikan pada Maret 2013 di Turki dan dipimpin oleh James Le Mesurier, mantan agen intel Inggris dengan rekam jejak di berbagai kawasan konflik (Bosnia, Kosovo, Irak, Lebanon, Palestina). Dana awal pendirian WH adalah 300 ribu dollar dan selanjutnya menerima donasi jutaan dollar (suplai logistik disediakan oleh Turki). Telegraph menyebut Inggris telah menggelontorkan 3,5 juta pound. USAID memberi 16 juta dollar. Mesurier pada 2014 membentuk Mayday (konon untuk ‘melatih SAR bagi warga sipil Suriah’), di antara tokohnya adalah Faruq al-Habib dan Read Saleh, tokoh “revolusi” Suriah yang terlink dengan CIA. Mesurier juga pernah menjadi staf di perusahaan keamanan swasta (=preman) yang beroperasi di Irak, Olive dan Good Harbour, yang terlink juga dengan Blackwater yang sangat kejam itu.

Masih banyak lagi link antara WH dengan berbagai organisasi kotor lainnya. Foto berikut ini adalah bagan koneksi WH.

white-helmet-infographic-2

Semua data ini hanya sebagian kecil dari sangat banyak bukti link antara upaya penggulingan rezim dengan kekuatan kapitalis global yang sebagian besarnya orang Zionis. Merekalah yang kini sedang berupaya keras menggulingkan Rezim Suriah, dengan memanfaatkan muslim naif yang mau diiming-imingi janji bidadari surga (pahala jihad), serta sebagian muslim lainnya yang dengan sukarela menyebarkan berita bohong tentang jihad palsu ini sambil merogoh koceknya untuk menyumbang. [4]

——

*artikel ini disunting dari tulisan di blog Kajian Timur Tengah

[1] http://dinasulaeman.wordpress.com/2013/03/29/tangan-terkepal-di-syria/

[2] Ini rekaman demo pro-Qaddafi (mulai 2:03, perhatikan menit suara Qaddafi yang terbata-bata dan tercekat karena terharu melihat dukungan rakyatnya).

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=NeCjnL9pxO4]
-Ini video kompilasi data-data soal Suriah (perhatikan pidato emosional Syekh Hassoun, mufti Suriah (Sunni) saat pemakaman anaknya yang dibunuh jihadis/teroris)
[youtube https://www.youtube.com/watch?v=_xwbPnL7Kk4]

[3] Sulaeman, Dina. 2013. Prahara Suriah. Jakarta: IIMaN

[4]Alasan kapitalis global ingin menggulingkan Assad: faktor Israel (Assad selama ini penyuplai logistik untuk pejuang Palestina) dan migas.

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL