Oleh: Hasanudin Abdurakhman*

Beberapa foto tentang penumpang MRT berkelakuan tak patut beredar di media sosial. Beberapa orang yang mencoba naik MRT selama masa percobaan menunjukkan perilaku yang kurang pantas. Ada yang bergelantungan di dalam kereta, menginjak kursi, atau makan di platform tempat naik kereta. Ada juga yang membuang sampah sembarangan. Untungnya, jumlahnya tak banyak.

Dalam hal skala,sebenarnya perilaku seperti ini bisa dianggap kecil jumlahnya. Coba bandingkan dengan perilaku tak tertib di jalan raya. Perilaku orang-orang saat berkendara di jalan raya tidak hanya tidak tertib, tapi juga sangat membahayakan diri mereka dan orang lain.

Perilaku tak tertib segelintir penumpang MRT itu relatif mudah diperbaiki. Kuncinya cuma ketegasan dan konsistensi pengelola. Ada banyak contoh keberhasilan menertibkan orang. Contoh paling dekan dan nyata adalah keberhasilan pengelola KRL menertibkan penumpang. Sekali disiplin ditegakkan, orang cenderung akan takut dan malu bila tidak tertib. Sebaliknya, bila pelanggaran dibiarkan, ia akan meluas.

Penataan dan penertiban itu mutlak harus dilakukan. Kita sudah membayar sangat mahal untuk membangun MRT ini. Alat transportasi ini harus berhasil dalam perannya sebagai pelayan kebutuhan orang Jakarta. Kalau gagal, maka kita memubazirkan uang yang begitu besar jumlahnya. MRT ini adalah pendidikan sekaligus ujian bagi banyak pihak. Bila berhasil, maka kita akan beranjak menjadi sebuah negara maju.

Tertib naik MRT, demikian pula saat menggunakan berbagai sarana umum lain, adalah ciri negara maju. Menjadi tertib itu jauh lebih sulit daripada mengumpulkan sekian triliun uang untuk membangunnya. Kita sudah cukup lama memamerkan ketimpangan. Kita sanggup membeli mobil, tapi tidak sanggup berkendara dengan tertib. Demikian pula, banyak orang yang sanggup membeli gawai, tapi tak sanggup belajar etiket pemakaiannya. Akibatnya, kita menjadi orang-orang terbelakang yang memakai perlengkapan orang-orang maju.

MRT adalah tempat belajar banyak hal. Masyarakat kota besar dan modern mutlak harus jadi pengguna angkutan umum, bukan mengandalkan kendaraan pribadi. MRT bersama moda angkutan lain secara perlahan harus bisa mengubah gaya hidup masyarakat kota. Artinya, pemerintah kota-kota lain juga harus merencanakan sistem angkutan massal ini dalam jangka panjang.

Masyarakat pengguna harus belajar cara memakai angkutan umum dengan benar. Fasilitas MRT kita sekarang dibangun dengan format modern, persis seperti yang dimiliki oleh negara maju seperti Singapura dan Jepang. Kalau perilaku saat menggunakan angkutan ini tidak sama dengan perilaku orang-orang di negara maju, akan terlihat mencolok. Harapannya, penumpang akan malu kalau bertingkah tak patut. Namun tetap saja ketegasan dan konsistensi pengelola sangat diperlukan.

Sebenarnya soal ketertiban bukan hanya soal tidak sedap dipandang. Tidak tertib itu membuat tidak nyaman. Berdesakan, saling dorong, jelas tidak nyaman. Antre tentu lebih nyaman. Lebih penting lagi, antre itu lebih menjamin keselamatan. Bila sudah merasakan kenyamanan dan keselamatan karena tertib, orang akan cenderung ikut menjaga ketertiban.

Anak-anak kita perlu diajari untuk tertib menggunakan angkutan umum, baik oleh orangtua mereka, maupun melalui sekolah. Sekolah-sekolah di Jepang biasa membawa anak-anak naik kendaraan umum. Mereka belajar cara melihat jadwal, membeli karcis, tata tertib, serta aspek keselamatan. Adanya MRT ini seharusnya mendorong sekolah-sekolah kita untuk melakukan hal yang sama. Dengan begitu ketertiban yang dibangun tadi bisa terus dipertahankan.

Satu hal yang tak kalah pentingnya adalah ketepatan waktu. Sangat penting bagi pengelola MRT untuk menjaga agar setiap kereta tiba dan berangkat tepat waktu, sampai ke hitungan menit. Pertama, tentu saja demi menjaga agar MRT menjadi moda transportasi yang bisa diandalkan. Selain itu, ini adalah mekanisme yang sangat baik untuk mendidik masyarakat agar terbiasa tepat waktu. Orang-orang Jepang yang terkenal sangat tepat waktu itu dilatih untuk terbiasa tepat waktu melalui sistem transportasi kereta api.

Kemarin saya mencoba naik MRT. Secara fisik, baik bangunan stasiun mau pun kereta sangat bagus, setara dengan yang pernah saya lihat di negara-negara maju. Para penumpang yang ikut mencoba, juga cukup tertib. Perjalanan kereta sesuai jadwal. Tentu saja masih banyak hal yang perlu diperbaiki. Saya menemukan orang-orang bergerombol di pintu masuk. Ada pula yang duduk lesehan di dekat pintu masuk stasiun. Lantai stasiun juga mulai tampak kotor, meski ada petugas yang membersihkannya. Ini adalah contoh masalah-masalah yang harus segera ditangani pengelola MRT. Kalau tidak, masalah itu akan meluas.

Kita mulai memiliki MRT. Kita mulai belajar menjadi masyarakat yang lebih maju. Berhasil atau tidak, tergantung seberapa keras kita berusaha. (LiputanIslam.com)

*cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia, disalin dari Detik, 25 Maret 2019.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*