Oleh: Budi Bastian

Dalam novelnya yang berjudul “Angkatan Baru”, Buya Hamka mengisahkan seorang anak muda bernama Hasan, keluaran sekolah agama yang menjadi guru. Ia beristrikan Syamsiar, perempuan dari keluarga kaya. Kehidupan mereka makmur karena disokong harta keluarga Syamsiar, namun hal ini justru membuat Hasan resah.  Ia lebih menyukai kehidupan yang mandiri, bukan hidup di sangkar emas.

“Saya tak senang kalau rumah tangga tidak di tangan kita, 100%, Syam! Walaupun sangkar itu dari emas, ia tetap sangkar juga, dan burungnya tetap terkurung. Jangan saya diberi minum kehidupan, kalau akan dicampurkan dengan kehinaan. Namun, berilah saya setegak air kematian, asal di dalamnya cukup kemuliaan. Neraka dengan kemuliaan lebih aku sukai menderitanya, daripada surga dengan kehinaan,” kata Hasan.    

Kalau dapat diibaratkan sebagai penyakit, maka penyakit yang merasuki sebagian besar umat manusia dalam zaman globalisasi ini adalah penyakit ‘takut miskin’. Baik orang yang sudah memang keadaannya miskin, maupun orang-orang yang sudah hidup cukup, mapan, bahkan yang sudah berkelebihan, dihinggapi penyakit ini. Meski pelajaran sudah berkali-kali dimunculkan Allah lewat berita, tentang nasib orang-orang yang mendepankan ambisi mencari harta, mereka terhina dan masuk penjara, namun banyak yang tak jera. Bukti nyatanya adalah banyaknya orang mau menyuap demi sebuah jabatan di pemerintahan, banyaknya kasus korupsi, dan berbagai kasus penipuan. Demi mencari harta berlebih, mereka rela melakukan berbagai kejahatan. Dan ironisnya, banyak di antara mereka yang melakukan berbagai aksi maksiat demi menumpuk harta, adalah kaum muslimin.

Inilah fenomena nyata yang membuktikan betapa faham materialisme telah merasuki banyak kaum muslimin. Buya Hamka dalam bukunya “Lembaga Budi’ menulis, “Hendaklah pada diri itu ada kemauan menempuh jalan yang benar dan menjauhi kehendak yang jahat. Kalau nafsu dituruti, dialah yang menjadi raja di dalam kehidupan, dan celakalah dia; tetapi kalau tidak semua kehendaknya dituruti, selamatlah dia dunia dan akhirat.”

Banyak orang telah menjadikan kesuksesan meraih harta sebagai tujuan utama dalam kehidupan di dunia. Mereka berlomba-lomba mencari kekayaan karena takut miskin, sampai-sampai rela menghinakan diri, mennjilat, menjegal, mencuri (korupsi) dan lain sebagainya. Padahal Allah SWT telah mengajarkan cara terbaik dalam mencari harta, seperti difirmankan-Nya dalam Al Qur’an surat An-Nahl ayat 97, “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia) dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Kehidupan yang baik, tak lain tak bukan, hidup berkecukupan, terhormat, dan penuh berkah. Ternyata Allah sudah mengajarkan cara mencapai kehidupan seperti itu, yaitu dengan mengerjakan amal saleh dalam keadaan beriman. Jadi, mengapa menyibukkan diri melakukan kejahatan, korupsi, menyikut, menipu, menyuap, atau mengurangi kualitas pekerjaan demi mendapat laba lebih, padahal semua itu hanya akan menyeret kita kepada kehinaan? Mengapa kita tidak menyibukkan diri dengan perbuatan amal saleh, lalu tawakal kepada-Nya, dan Dia akan memenuhi janji-Nya, yaitu memberikan kehidupan yang baik kepada kita, di dunia maupun akhirat?

Dan terkadang, untuk melakukan itu, sikap mental terbaik adalah ‘pantang hina dan tak takut miskin’.  Ketika sudah bertekad lebih baik miskin daripada terhina karena melakukan perbuatan jahat, lalu beramal saleh dengan sekuat tenaga, Allah SWT pastilah akan melunasi janji-Nya, yaitu memberi kita kehidupan yang baik. (LiputanIslam.com)

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL