gaza-7Oleh: Muhammad Anis (Dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga)

Tanggal 5 Juni 1967 merupakan hari bersejarah bagi negara-negara Arab, ketika Israel berhasil mengalahkan mereka secara telak dalam perang enam hari. Lebih dari 600 jet tempur yang terparkir di bandara Mesir luluh lantak. Ironisnya, di saku para pejuang Arab yang gugur didapati foto-foto Ummi Kultsum, penyanyi legendaris Timur Tengah. Sebaliknya, di saku serdadu Israel malah ditemukan Talmud, kitab suci kaum Zionis.

Mesir mesti kehilangan Sinai dan Jalur Gaza, Yordania kehilangan Tepi Barat, sedangkan Daratan Tinggi Golan lepas dari Suriah. Bagi bangsa Palestina, kekalahan ini memaksa mereka untuk semakin terasing dari kampung halaman dan terjajah di negeri sendiri, sejak pendudukan Zionis pada 1948. Sedang bagi Israel, kemenangan ini membuat mereka semakin percaya diri dan mempertajam eskalasi penjajahan terhadap Palestina. Lebih mengenaskan lagi, ketika Anwar Sadat menandatangani kesepakatan damai dengan Israel di Camp David pada 1979.

Ini menyebabkan mayoritas bangsa Arab menjadi pesimistik dan berpikir bahwa Mesir saja—yang paling mengalami kerugian dalam perang enam hari—mau berdamai, lalu apa gunanya mereka bertahan untuk membela bangsa Palestina. Pesimisme ini bagai kanker yang menggerogoti bangsa Arab. Karenanya, tak heran bila jubir PLO, Saed Erakat, pernah meminta Iran untuk berhenti melontarkan gagasan penghapusan rezim Zionis dari peta Timur Tengah. Menurutnya, Iran semestinya membantu Palestina dengan turut mendukung perdamaian dengan Israel.

Sebuah pesimisme akut, yang menjadikan mereka rela merendahkan kehormatan sendiri dengan menjadi kroni penjajah dan membiarkan saudaranya terjajah, hingga detik ini yang telah berlangsung hampir 70 tahun. Pada Jum’at terakhir di bulan Ramadan, yang merupakan Hari Al-Quds ini, kita gugah kembali kesadaran kosmopolis kita atas penderitaan saudara-saudara kita—entah seiman atau sesama manusia—di Palestina. Kesadaran ini akan mengantarkan kita pula pada kesadaran untuk memperbaiki nasib bangsa sendiri. Karena, Palestina adalah kita.

Perlu diketahui pula, dalam bukunya yang berjudul “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri”, Zein Hassan membeberkan realitas sejarah tentang jasa besar bangsa Palestina dalam mendukung kemerdekaan Indonesia di masa lalu, baik secara politik maupun finansial. Bahkan, yang lebih mengharukan lagi adalah ketika Muhammad Ali Taher (seorang pengusaha kecil Palestina) mengajak Zein Hassan ke Bank Arabia, untuk menguras uang di rekeningnya dan diserahkan kepada Zein, seraya berkata, “Terimalah semua harta saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia.”

________
Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL