Bali

Foto: SMH

Oleh: Matt O’Sullivan and Gareth Hutchens

Australia menunjukkan kebenciannya atas eksekusi Duo Bali Nine, tetapi,  tidak tidak serta merta diikuti dengan adanya tanda-tanda pemboikotan terhadap Bali, tujuan wisata yang populer di Indonesia. Bahkan, mereka jumlah warga yang terbang ke Bali menunjukkan peningkatan.

[Catatan redaksi: Warga Australia marah dengan kabar eksekusi mati Andrew Chan dan Myuran Sukumaran. Atas kejadian itu, ribuan wisatawan Australia membawa kemarahan mereka ke media sosial dan menyerukan untuk memboikot Indonesia sebagai destinasi wisata mereka melalui tagar #BoycottIndonesia dan #BoycottBali. Indonesia, terutama Bali, merupakan destinasi wisata yang populer di kalangan wisatawan Australia.]

Sementara itu, pemerintah Abbot membuat keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada hari Rabu, 29 April 2015 dengan menarik duta besarnya dari Indonesia sebagai bentuk protes atas eksekusi Andrew Chan dan Myuran Sukumaran. Namun di sisi lain, agen perjalanan online Webjet mengatakan bahwa permintaan penerbangan dari Australia menuju Bali telah meningkat sebesar 42 persen selama empat minggu terakhir, jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Permintaan untuk penerbangan ke Bali masih tetap besar, kendati Menteri Luar Negeri Julie Bishop dua bulan yang lalu memperingatkan agar warga Australia memboikot Indonesia jika kurir narkoba itu dihukum.

Namun, Kepala Eksekutif Qantas Alan Joyce mengatakan pada hari Rabu, kemarin, bahwa maskapai tidak melihat suatu bukti bahwa pelanggan penerbangan terlah memboikot Indonesia.

“Ini adalah keputusan pribadi, apa yang hendak dan bagaimana masyarakat memandang persoalan ini. Beberapa orang jelas kesal dengan keputusan pemerintah Indonesia, tetapi, ada banyak orang yang tidak merasa marah terhadap Indonesia,” ujarnya, di Canberra.

Mr Joyce mengatakan bahwa pihaknya akan terus mencermati apakah permintaan penerbangan Jetsar akan ikut merasakan dampak eksekusi mati ini dalam beberapa minggu ke depan.

“Tapi saat ini tidak ada tanda-tanda dampak apapun dan kami memprediksi kondisi ini tidak akan berpengaruh signifikan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Webjet John Guscic mengatakan bahwa korelasi antara peristiwa politik dan pemesanan perjalanan wisatawan Australia sangatlah rendah. Artinya, suasana politik tidak terlalu mempengaruhi masyarakat Australia yang hendak bepergian/ berlibur.

“Dalam hal ini, telah ada publisitas yang signifikan tentang nasib Duo Bali Nine dan belum berdampak terhadap pesanan perjalanan ke Bali selama periode tersebut.”

Mr Guscic mengatakan tampaknya bahwa wisatawan Australia telah mampu memilah antara rakyat dengan keputusan yang dibuat oleh pengadilan atau pemerintah Indonesia.

Pasca bom Bali pada bulan Oktober 2002, pemesanan penerbangan tujuan wisata Indonesia memang mengalami penurunan, tetapi kemudian rebound dalam waktu enam bulan.

Bali adalah tujuan luar negeri yang paling populer bagi masyarakat Australia pengguna jasa Webjet. Bahkan Mr Guscic menagatakan bahwa Bali merupakan salah satu faktor yang mendukung perkembangan Webjet sebagai penyedia penerbangan internasional.

Webjet juga melaporkan kenaikan pesanan penerbangan ke Bali sebesar 37% hingga bulan Desember tahun 2014.

Rute Perth_Bali merupakan salah satu dari to-10 penerbangan tersibuk di Australia. Jumlah penumpang yang diangkut dalam rute ini naik sebesar 3% di bulan Januari, mencapai 881.000 orang.

Lalu, seorang juru bicara Jetsar menyatakan pesanan penerbangan ke Bali tetap stabil.

Tulisan ini diterjemahkan dari artikel media terkemuka Australia, Sydney Morning Herald (SMH). Penulis adalah kontibutor SMH, warga Australia.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL