Indonesia okeOleh: Permadi Arya

Pribadi bangsa Indonesia adalah pribadi ramah, cinta perdamaian, plural menghargai perbedaan, benci konflik, memiliki kearifan yang relijius bersinergi dengan norma adat luhur yang diturunkan oleh nenek moyang berbudaya tinggi dan para Wali Songo.

Ini adalah alasan mengapa berbagai suku yang berbeda-beda bahasa dapat hidup harmonis dalam indahnya kebersamaan selama berabad-abad disatukan dalam bingkai negara Republik Indonesia yang berketuhanan, menaungi berbagai agama & aliran kepercayaan.

Namun ada pihak-pihak yang benci melihat indahnya kebersamaan sebuah masyarakat yang toleran dan saling menghargai ini. Pihak-pihak yang membawa agenda politik dan ekonomi berbalut agama dalam wadah organisasi trans-nasional dan berbagai elemen masyarakat lain yang menebar intoleransi titipan induk semang asing mereka.

Neokolonialisme (Penjajah Gaya Baru)

Jutaan dollar dan riyal ditaburkan ke berbagai wadah yang berlabel reliji yang mampu melakukan penetrasi ke berbagai lini kehidupan masyarakat dengan kecepatan mobilitas mengerikan berkat beking dana asing fantastis menebar ideologi anti kebersamaan bahkan anti Pancasila.

Benih-benih perpecahan terus ditanam ke dalam benak anak bangsa, hasutan kebencian terhadap tetangga yang beda aliran, beda agama, bahkan hasutan kebencian terhadap negara. Seolah-olah warisan para Bapak pendiri bangsa adalah sesuatu yang buruk yang harus diganti oleh sistem impor meskipun lewat cara-cara kekerasan.

Apa ini kalau bukan penjajahan?

Pemerintah yang baru seumur jagung ini belum cukup solid & masih sibuk konsolidasi kekuatan melawan serangan-serangan politik, serba salah karena setiap langkah menjadi obyek politisasi kubu lawan seperti saat pemblokiran 22 situs teroris yang langsung dipolitisir seolah-olah sebagai kebijakan “anti- Islam” oleh kubu seberang.

Saat pemerintah inkapasitas, rakyat harus bangkit melawan derasnya propaganda, provokasi , hasutan berbeking dollar dan riyal ini. Caranya? Dengan tebar pesan damai. Harga yang harus dibayar bangsa ini akan terlalu mahal bila kita hanya diam, menggrundel dan menggerutu saja.

Karena satu-satunya cara melawan dominasi dollar dan riyal adalah melalui kebersamaan, kekompakan melukis warna toleransi dan perdamaian di atas warna intoleran dan permusuhan para kelompok marah antek asing.

Diam Bukan Pilihan

Situasi saat ini saat ada upaya disintegrasi bangsa yang sistematis, terstruktur & masif, memelihara apatisme (sikap tak peduli) bisa dibayar mahal oleh darah & jiwa bangsa ini. Sudah tidak bisa lagi diam dan jadi penonton. Diam bukan pilihan.

Jadilah sosok-sosok pemicu di lingkungan masing-masing, lakukan inisiasi, baik di dunia maya maupun dunia nyata. Lakukan sesuatu, mulai menulis Status pesan damai agar dibaca oleh teman-teman media sosial, tulis kritik atas kaum intoleran kirim ke media-media cetak maupun online.

Bagi yang punya bakat, buat gambar-gambar pesan Perdamaian entah itu hanya meme, atau mencetak poster untuk dipasang di mading-mading sekolah, universitas & papan pengumuman RT/RW komplek tempat tinggal. Diam bukan pilihan.

Segala Cara Suarakan Perdamaian

Tulis pesan, buat gambar, bikin video (bagi yang mampu), lalu sebarkan tautan, lakukan segala cara sesuai kemampuan karena hanya melalui kebersamaan yang masif kita bisa melawan gerakan intoleran & permusuhan.

Warnai jagad Nusantara dengan pesan-pesan cinta, tanamkan kembali ide keindahan kebersamaan kedalam pola pikir anak bangsa yang mulai dirusak oleh pengaruh asing, bangkitkan kembali rasa toleransi yang sebenarnya telah tertanam dalam diri, yakin rasa itu sebenarnya masih ada dan tidak pernah pergi. Kalau tidak sekarang kapan lagi? Kalau bukan kita siapa lagi? (LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL